
Aku meregangkan badan yang rasanya kaku karena tertidur cukup lama. Bahkan sangking enaknya tidur aku lupa bahwa hari ini ada jadwal mengajar les. Syukurlah orang tua anak itu mau mengerti. Sekarang sudah jam 21.00 WIB, tak seperti keluarga lainnya, keluarga ku jam segini masih asik mengobrol di ruang tamu.
Mama sedari tadi sudah mengetuk pintu kamar agar aku keluar dan tak terus tidur. Mereka seakan tak mau mengerti sisiku yang butuh waktu sendiri, sisiku yang nyaman tak ada teman, ah... entah kenapa saat berkumpul walau pun itu bersama keluarga sangat menguras energiku.
Aku benci rasa capek, tapi harus bagaimana lagi? Aku tak suka membuat mama sedih, dia tak mau anaknya menjadi penyendiri.
"Waah, makan apa tu?" Aku berlari dari depan pintu kamar menuju ruang keluarga yang di penuhi dengan tali tas dan resleting serta bahan-bahan tas yang belum selesai di jahit. Ruang keluarga ini lebih seperti ruang bekerja kami berlima.
Mama itu penjahit tas yang bisa di bilang tas yang murah-murah, upahnya juga tak terlalu banyak. Untuk selusin tas itu biasanya di gaji Rp 60.000 sampai 70.000.
Kalau siangnya mama jualan gorengan, berbeda dengan ayah yang bekerja di bengkel motor kecil miliknya. Semuanya berusaha, namun sepertinya rezeki yang belum mau banjir kepada kami.
Rani sedang asik membakar ujung tali tas agar tak berbulu, sedangkan Rudi sibuk memasukkan reng ke dalam tali, kalau ayah sedang duduk dengan sebatang rokoknya menatap ke arah televisi yang sedang menyala. Sekali-kali dia menyantap martabak yang dia bawa pulang, kalau mama sedang asik memasang bis pinggir tas.
Melihat mereka bisa berkumpul seperti itu membuatku cukup senang.Tanpa bilang-bilang aku meraih tas yang sudah selesai dan membalikkannya serta menyusun untuk segera di kirim ke bosnya mama, Untuk segera di packing.
"Mau martabak gak kak?" Rani mengangkat sepiring martabak ke arahku.
"Iya, nanti kakak ambil, letakkan aja di situ," Kataku sambil sibuk membalikkan tas.
'Dia kok lihatnya gitu amat sih? Kayak marah kah? Kalau marah kok sama mama sih? Apa dia kenal mama?'. Pikirku saat melihat hantu yang mirip denganku itu menatap mama sinis dengan satu matanya yang masih berfungsi.
"Kak, jangan di lihatin terus, dia juga gak bakalan takut di lihatin kakak," Rudi menyaut dari samping.
Aku mendengus kesal mendengar penuturan adikku itu. Tidakkah dia bisa diam? Bagaimana kalau mama dan ayah tau? Aku tak mau sampai mereka khawatir lagi.
__ADS_1
Hantu itu berjalan mendekat ke arah kami, dia berdiri tepat di belakang ayah yang sedang menonton TV.
"Selamatkan aku," lagi-lagi dia meminta ku menyelamatkannya.
Keningku berkerut tanda tak suka, hantu itu benar-benar budeg ya? Kan udah aku bilang, aku bakalan bantu dia kalau dia mau mengatakan sama aku siapa yang telah menguncinya hidup di dunia ini.
"Ran temenin kakak ke kamar sebentar yuk," Rani mengangguk dan mengikutiku dari belakang.
Bukannya ke kamar ku, kami malah masuk ke kamar Rani, aku ingin bertemu lagi dengan Liya. Aku harus cepat selesaikan masalah ini. Satu masalah harus selesai dulu, biar masalah yang lain bisa di tangani juga.
"Risa," Liya menyapaku dari belakang pintu, yang membuatku kaget bukan main.
"Ngapain lo di situ?" Aku mengusap dada ku untuk menenangkan jantung yang sedikit terganggu.
"Apa? kamu setuju untuk membaca masalalu ku?" senyuman penuh arti Liya mengguncang rasa takutku.
"Mana tusuk rambutmu? Jangan sampai berjauhan dari mu," kata Liya yang membuatku menunjukkan tusuk rambut yang menyangkut di kepalaku.
"Berikan tanganmu," kataku sambil meraih tangan dinginnya itu.
Dan seperti sebelumnya, Rani bisa melihat tusuk rambut itu mengeluarkan cahaya dari permata merah, dan dalam sekejam pandanganku buyar dan kepalaku sakit banget.
Apakah ini efek setiap aku masuk ke masalalu? Ini cukup menyakitkan.
Rani langsung meraih tubuhku yang hampir saja jatuh menyentuh lantai. Aku tak sadarkan diri lagi, kesadaranku sudah masuk ke masalalu Liya. Masalalu yang akan menyita banyak air mataku.
__ADS_1
🐾🐾🐾🐾
Aku berdiri di samping sebuah rumah kayu, rumah ini terlihat seperti rumah orang tua dulu, walau terbuat dari kayu rumah ini tak kalah memiliki daya tarik yang elegan dengan halaman rumah bersih dari rumput dan daun, di sisi rumah ada bunga yang memberikan warna hijau yang menyejukkan mata. Ada bekas sapu lidi di atas tanah itu. Jejak sapu lidi itu terlihat seperti gelombang yang di lukis dengan rapi. Sangat cantik.Rumah ini benar-benar enak di pandang mata.
"Kenapa kamu selalu mengambil apa yang aku mau sih Li! Bisa berhenti gak mengusik hidup aku! Aku pengen dapetin semuanya, aku gak mau berbagi dengan siapapun! Apa lagi tentang Bima! Dia cuman milik aku!," Aku tersentak saat mendengar bentakan dari belakang rumah.
Aku mengenal suara itu, sangat mengenalnya, aku berlari ke asal suara dan mendapati dua anak gadis yang satu berdiri dengan angkuh sedangkan yang satunya lagi ketakutan di balik sapu lidi yang dia pegang.
"Si angkuh itu S dan bocah itu Liya, lagi-lagi dia membentak Liya. S, seburuk apa sifatmu sewaktu hidup?" Aku menatap Liya dengan prihatin.
"Andai aku bisa terlihat, andai aku bisa membantunya," gumamku iba.
Perlahan butiran jernih jatuh dari mata Liya, dia menangis menerima makian S.
"Aku gak pernah berniat buat rebut punya kakak, kakak salah paham," Liya menggigit bibirnya takut.
"Diam kau Sialan! Aku tak menyuruhmu menjawab! Aku cuma menyuruhmu menjauh dari semua milikku, termasuk Bima!," S menekankan suaranya di kata-kata terakhir.
"Tapi bang Bima bukan punya kakak," Jawab Liya takut-takut.
PLAAK
Tangan S mendarat dengan kuatnya ke pipi mulus Liya. Tamparan itu tepat dia dapatkan untuk yang kesekian kalinya. Aku tak habis fikir dengan perilaku S, jangankan menampar adikku kadang memarahinya saja ada rasa iba di hatiku. Apakah benar S dan Liya saudara kandung? Tingkah S menunjukkan bahwa dia kakak yang tak berperasaan.
"Kalau kau tak juga mau menjauh dari Bima, maka aku tak kan segan-segan membunuhmu!," kata terakhir S sukses membuat aku dan Liya bergidik ngeri.
__ADS_1
Liya menggigil hebat sampai sapu yang dia pegang terjatuh, S hanya tersenyum sinis dan meninggalkan Liya yang menangis ketakutan. Rasanya aku sangat ingin menampar S, membalaskan tamparan yang di dapatkan Liya. Aku ingin sekali menamparnya berkali-kali. Tapi masalahnya sudah berulang kali aku berlari mengejar S sekedar untuk menggapai tangannya saja tak berhasil. Hanya udara yang tersentuh, kosong dan hampa. Memuakkan!