Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Perubahan Rani


__ADS_3

POV AUTHOR


Pagi ini, di kediaman nenek Intan, semua orang berkumpul dalam muka yang di penuhi rasa khawatir. Di sana ada Nenek Intan, ayah dan ibu. Sedangkan Rudi dan Kelvin sudah bersama Risa. Lain dengan Rani, dia memilih mengurung diri di dalam kamar. Sudah dua hari, dia tidak keluar dari kamar. Kalau pun mau makan ibu mengantarnya ke dalam kamar.


Semua anggota keluarga pastinya bertanya-tanya kenapa si bungsu tak kunjung mau keluar rumah. Wajahnya tak menyiratkan emosi apapun.


Berawal pada waktu dia terbangun dari tidurnya. Dia terbangun tepat pada tengah hari jam 12 siang. Mungkin karena dia baru tidur menjelang subuh, itulah kenapa dia terbangun ke siangan. Saat Rani akan keluar dari kamarnya. Dia langsung tersungkur di depan pintu.


Ayah yang baru akan menyeduh kopi panasnya langsung berlari mengejar Rani yang terduduk di atas lantai dengan muka masih persis seperti orang bangun tidur.


"Ran, kenapa dek?" Ayah memegang pundak Rani, namun Rani tetap diam.


"Rani, jawab ayah nak," ayah mengguncang pelan tubuh Rani berharap dia mau menjawab kali ini.

__ADS_1


Tapi Rani tetap pada diamnya, matanya menatap kosong ke atas atap-atap rumah. Ibu yang mendengar suara ayah, berlari ke ruang tamu dengan khawatir. Rani kenapa lagi?. Sedangkan nenek tidak ada di rumah saar itu, dia sedang pergi berbelanja.


"Rani kenapa yah?" Tanya ibu, saat sudah berada di dekat mereka berdua.


"Gak tau bu, tiba-tiba aja terduduk kayak gini, di tanyain adek gak jawab,"


"Sayang kamu kenapa? Jawab ibu nak," mata ibu mulai berkaca-kaca, kedua anaknya tak tau dimana dan yang satunya lagi, menjadi seperti ini. Tuhan apa sebenarnya yang menimpa anakku?


Ibu dan ayah mengikuti arah jari telunjuk putri mereka, namun mereka tak melihat apapun, Karena hanya Rani yang bisa melihatnya.


Dia seorang pria, dengan tubuh yang sangat besar dan tinggi, sangkingkan tingginya, kepala dia haruz sedikit di tundukkan agar tak terjedot dengan atap, badannya berwarna hitam dengan bulu yang cukup tebal. Dia memiliki taring, dan yang membuat dia semakin menjijikkan taring bagian bawahnya menembus pipinya. Di tambah lagi dengan matanya yang besar namun lebih mirip seperti mata kucing dan berwarna merah darah. Merah yang sangat gelap. Rambut makhluk itu panjang hingga menyentuh pinggangnya.


Seperti raksasa, aturannya Rani takut, tapi entah kenapa dia berani menatap kedua mata makhluk berbulu itu. Tanpa ekspresi Rani menunjuk ke wajah makhluk itu.

__ADS_1


"Jangan buat aku takut, aku sudah capek terus takut, bisakah kau menyingkir dari hadapanku setan?" Rani menekan kata-katanya di bagian setan.


Rani seakan-akan ingin menegaskan bahwa makhluk yang di depannya ini hanyalah makhlyk rendahan, yang sering di sebut iblis dan jin. Tak setara dengannya sebagai manusia.


"Bocah tengik! sudah ku bilang kau akan mati! Jangan sekali-kali berniat mengganggu tuanku! Jika kau berani keluar selangkah saja dari kamarmu kau akan MATI!!!," Suara makhluk itu menggema di telinga Rani.


Teriakannya sangat kuat. Hingga membuat Rani menutup kedua kupingnya dengan mata terpejam, teriakannya membuat nyali Rani ciut kembali. Maklumlah nyali bocah kelas 5 sd, masih begitu labil untuk di suruh berani.


Tanpa menghiraukan panggilan ayah dan ibunya yang terdengar panik, Rani segera berlari ke dalam kamar, dan menutup pintu kamar tak lupa menguncinya, dia berlari ke arah kasur dab menenggelamkan dirinya di dalam selimut. Tubuh Rani bergetar, teriakan makhluk tadi masih menggema di telinganya.


MATI....


kata-kata itu membuat tubuh Rani mengggigil hebat. Di saat Rani yang menggigil dengan hebatnya tiba-tiba ada tangan yang pucat mengelus kepala Rani lembut. Rani sadar itu tapi tak berani untuk melihat siapa di sampingnya, yang pastinya itu bukan ibu, ayah, mau pun nenek. Itu bukan MANUSIA!.

__ADS_1


__ADS_2