
BRAAK...
Seperti sudah janjian, ketiga perempuan itu langsung bersembunyi di belakang tubuh Kelvin yang terlihat lebih besar. Kelvin mendengus, apakah dirinya terlihat seperti perisai?
BRAAK...
Pintu itu di pukul dengan keras lagi. Jika seandainya pintu itu bisa bicara mungkin dia sudah mengeluh kesakitan. Tidak melakukan apa-apa tapi malah di pukul.
"Semuanya tenang jangan panik," Dimas mencari sesuatu di kamar itu.
Setelah menemukan yang di cari dia langsung bersembunyi di samping pintu. Dimas sudah siap dengan balok kayu yang ada di bawah tempat tidur.
"Kok ada itu di sini?" Rudi menunjuk ke arah balok kayu yang di pegang Dimas.
"Aku gak tau, pokoknya pas aku tiba di sini, udah ada kayu ini di bawah tempat tidur." Kalian pindah ke belakang ku, jika pintu ini terbuka aku yang akan pukul orang itu sampai pingsan. Kalian cepat selamatkan diri," Kata Dimas tanpa ragu.
"Gimana kalau itu bukan orang? Tapi hantu? mana bisa pingsan kalau di pukul bang," kata Denis.
__ADS_1
"Kalau dia hantu, sudah dari tadi masuk ke sini tanpa perlu susah payah mendobrak pintu, kayak S. Lihat dia aja bisa masuk ke sini tanpa susah payah," pikiran Dimas masuk akal.
"BUKAA!!!", Suara di balik pintu itu menggelegar dengan suara seraknya.
Sekarang semuanya sudah yakin itu adalah nek Kintan, mengetahui siapa yang ada di balik pintu, Rani langsung melarang Dimas untuk memukul nenek sampai pingsan.
"Jangan buat dia pingsan, karena cuman dia yang bisa musnahin Tarjo," Rani memberi usulan.
Belum juga di jawab, lemari yang menutupi pintu terpental seperti di tiup angin. Semua kaget bukan main. Kali ini mereka benar-benar tak bisa menganggap ini mudah. Lemari yang di doronh 4 orang laki-laki bisa terpental sejauh itu karena tenaga seorang nenek?
Dimas yang melihat lemari itu terpental, bukannya memukul malah menggigil di tempat.
"Kalian Mati saja!," Kintan muncul di balik pintu, dengan penampilan yang sangat mengerikan. Baju hitam dengan rambut berantakan terurai. Dia sudah seperti kuntilanak saja!
Mata Kintan memerah, dia berjalan seperti seorang raksasa. Menghentak seakan ingin merobohkan rumah ini dengan hentakannya itu. Giginya tetus menggertak seperti binatang buas yang kelaparan melihat mangsa yang nikmat.
"Dia bukan Kintan, ada raksasa di dalam tubuhnya," Rani menunjuk dengan yakin.
__ADS_1
Yang di tunjuk marah, Kintan berlari ke arah Rani dengan membawa kapak yang dia gunakan untuk memghancurkan pintu kamarnya tadi.
"Awas Ran," Denis yang ada di dekatnya langsung menarik gadis itu menghindar dari mata kapak yang bersiap hinggap di tubuh Rani.
Semua berteriak ketakutan, tanpa menunghu instruksi semua sudah lari keluar dari kamar itu. Hanya Risa yang bertahan di sana. Nafas Risa memburu dengan cepat. Keringat bercucuran melihat Kintan yang menatapnya dengan ganas, perlahan senyum mengerikan mekar di wajah Kintan.
"Kau ternyata sudah bersedia memberikan nyawamu untuk membangkitkan kakekmu ya," Kintan berjalan perlahan ke arah cucunya itu.
"Siapa bilang? Sampai mati pun aku tak sudi memberikan kehidupan untuk pria menjijikkan itu! " Risa berteriak, tak mau terlihat lemah di depam Kintan.
"KAU!!!!," Kintan langsung berlari dengan langkah besarnya.
Kapak sudah di angkat bersiap untuk di ayunkan, saat kapak itu akan terayun, semua mata yang menyaksikan di luar berlari mengejar Risa, berharap bisa menarik gadis itu menjauh dari Kintan. Tapi....
AAAA....
Suara teriakan kesakitan kembali terdengar, perempuan itu meringis kesakitan, semuanya terlihat pudar.
__ADS_1