
Seperti jalan perdesaan pada umumnya, di kiri kana yang ada hanya semak-semak dan sawah yang sebagian sudah mulai menguning. Kadang saat Liya lewat di tepian sawah ada beberapw burung pipit terbang keluar dari kumpulan padi. Itulah kebiasaan para burung kecil itu, datang dan memakan padi yang sudah mulai berbuah, membuat para petani kesal bukan main. Masalahnya bukan hanya seekor atau dua ekor namun lebih dari sepuluh ekor. Bergerombolan datang begitu juga pergi.
Liya hanya tersenyum simpul menatap burung-burung yang terbang menjauh. Bagaimana pun mereka juga butuh makan, cuman bedanya manusia berusaha dengan menanam, memupuk dan membesarkan padi-padi itu dengan susah payah. Berbeda dengan burung-burung yang hanya menanti di ranting pohon dan menyantap bila sudah waktunya bisa di makan.
"Kalian udah pada lapar kan? Kita nanti makan di ladang mama aja ya, bentar lagi sampai," tak ada teman mengobrol, jadi Liya memilih berbicara dengan kedua kerbau yang pastinya tak mau menjawab perkataan Liya.
"Kita sampai, kalian makan di sini, aku mau cari makan juga," Liya mengikatkan tali kerbaunya pada masing-masing pohon. Lalu dia berlalu pergi entah kemana. Risa memilih mengikuti Liya dari pada menunggui kedua kerbau ini kenyang memakan rumput.
"Tu anak kakinya udah sakit masih aja pengen jalan," Walau pun sekarang Risa dalam wujud gaib, tetap aja dia merasakan capek harus berjalan mengikuti Liya sedari tadi. Di tambah lagi jalan yang tidak datar. Menurun mendaki dan di tambah lagi tadi harus menyebrangi sungai. Hari yang melelahkan, dan mimpi yang bikin capek.
"Lah itu dia mau ngapain?" Risa melotot kaget melihat Liya yang sudah berancang ancang untuk memanjat pohon mangga yang ada di ladang mamanya.
"Wah... Ternyata kaki sakitnya tidak menghalangi keinginannya untuk manjat. Gak ngerti lagi aku!," Risa menghenyakkan pinggulnya di atas tanah yang di tutupi rumput, Dia memilih duduk di sini saja dari pada ikut memanjat pohon.
"AAARGH..." Dia menjerit ke sakitan dari atas pohon.
"Sok bisa manjat! Kan nyangkut!," Risa berlari mengejar Liya seakan-akan ingin membantu gadis itu yang ujung bajunya tersangkut di ranting pohon.
Namun sayang, belum juga Risa sampai ke bawah pohon, Liya lebih dulu terjun ke bawah tanpa menggunakan perasut, karena berusaha melepaskan bajunya yang tersangkut di salah satu ranting pohon itu.
"Liya!," Seorang pria mudah yang lebih tua dari Liya berlari ke arah gadis malang itu.
Dan Risa menyadari bahwa dia adalah Bima.
"Apa ini awal dari masalah yang sebenarnya?" Risa memilih melipat tangan di dadanya dan berdiri dengan mantap. Kembali menyaksikan adegan di depannya yang sedang berlangsung.
"Bang Bima, bantuin Liya, kaki Liya sakit," seperti layaknya seorang anak kecil yang terluka. Liya merengek kepada tetangganya itu.
Alhasil, pergelangan kakinya terkilir dan Liya harus di antar pulang oleh Bima ke rumahnya bersama kedua kerbau yang tadi di bawa.
__ADS_1
🐾🐾🐾🐾
"Lain kali, jangan manjat lagi ya, nanti jatuh lagi," selama perjalanan Bima terus saja mengomel kepada gadis kecil yang sekarang ada di punggungnya.
Setelah sampai, seperti biasa, Mama sudah berdiri di depan pintu menunggu kepulangan kedua putrinya itu. Namun siapa sangka, putri kecilnya kali ini tidak hanya pulang dengan kedua ekor kerbau tapi juga dengan Bima, tetangga mereka.
"Liya kenapa Bim?" Tanya mama kepada Bima.
"Ee... dia tadi kepleset tan, kakinya terkilir," Bima tak mau menceritakan kejadian sebenarnya dia takut Liya akan di marahi oleh ibunya.
"Terkilir aja harus pakai acara di gendong ya?Manja amat kamu Ya, udah masuk sana, pergi mandi," Tak ada bedanya, walau di depan orang lain atau di belakang orang lain, ibunya tetap kasar kepada Liya.
Bima hanya meringis ngeri melihat Liya yang berusaha jalan tanpa melawan perkataan ibunya. Selalu saja menurut, karena merasa iba, Biam berusaha membantu Liya berjalan. Namun Liya menolaknya.
"Gak usah bang, Liya bisa kok," itu katanya.
"Kamu pulang Bima! Sudah hampir magrib," seperti Liya, Bima pun menurut begitu saja, tak mau memperpanjang pembicaraan.
"Udah selesai pura-puranya? Gak usah sok sakit Liya! Pergi mandi sekarang, kau benar-benar bau kerbau," pinggang Liya di dorong dengan tangkai sapu begitu saja.
Liya meringis sakit dan pergi begitu saja ke kamar mandi. Tanpa mamanya sadari air mata Liya sudah jatuh di pipinya.
Kenapa aku di perlakuka seperti ini? Kenapa mama begitu jijik dengan ku? Itu semua berputar di kepala Liya, pertanyaan yang tak berani dia utarakan bahkan sampai ajal menjemputnya.
"Kenapa kasar sekali dengan adik ma?" Sendi yang ternyata berdiri sedari tadi di depan pintu bertanya.
"Kamu udah pulang Sen? Mau minum? Mama ambilkan ya?" Berbanding terbalik perlakuannya dengan Sendi, sikap manis seorang ibu muncul di wajahnya.
..."Ibu apaan dia? Emangnya Liya gak anaknya apa? Sampai di perlakukan seburuk itu?" Apalèatrghkh daya seorang Risa yang hanya bisa melampiaskan pertanyaan kepada dirinya sendiri tanpa mendapatkan jawaban....
__ADS_1
"Mama belum jawab pertanyaan Sendi," Sendi bersikuku diam di ambang pintu. Menagih jawaban yang belum di dapatkan.
"Kamu penasaran? Pertanyaan mu itu gak perlu di jawab," kata mama dan berlalu begitu saja masuk ke dalam kamar.
Melihat apa yang terjadi Risa menyipitkan matanya tak percaya.
"Apa-apaan ini? Aku datang ke sini buat tau apa alasan ibunya membenci Liya, tapi malah gak dapar jawaban sedari tadi, buang-buang tenaga aja!," Risa sekali lagi menggerutu kesal.
Jawaban yang di ingininya tak dia dapati. Wajahnya sudah menyiratkan kata lelah, tapi dia tak kunjung mendapatkan hasil yang di cari.
WUUSH...
Untuk yang kedua kalinya angin datang dan kembali menghempas tubuh Risa seperti sebelumnya.
"Apa aku mau berpindah tempat lagi? " Tanya Risa sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.
BRAAK...
Tubuh mungil Risa jatuh begitu saja di atas lantai sebuah kamar, Risa meringis kesakitan dan memegangi pinggulnya yang perih karena mendarat begitu kuat.
"Karena dia mirip dengan kamu! Itu alasan aku membencinya! Karena kamu! Kenapa harus begitu mirip, tidak matanya, hidungnya bahkan bentuk alisnya pun sama dengan mu! Kau tau, selama aku melihat wajahnya maka selama itu aku akan terus menderita karena terus mengingat mu, Kenapa kau begitu jahat padaku! Kenapa!," Risa terus mundur ke pojok kamar mendengar teriakan dari mama Liya kepada sebuah foto.
Siapa orang di dala foto itu?
Risa memilih berdiri dari pada diam di pojokan karena diam di sana takkan mendapatkan hasil apapun.
"Laki-laki? Ayah Liya kah? Tapi iya sih mirip banget, kayak pinang di belah dua," celetuk Risa berpendapat.
"Tapi apa kesalahan pria itu? Sampai-sampai mama Liya begitu membencinya?" Sudah dapat jawaban, lalu dapat pertanyaan baru.
__ADS_1
Kenapa sih! Aku harus mencari tau tentang masalah rumah tangga orang lain, gak seru tau!