Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
25


__ADS_3

"Udah bengongnya?" Nathan berdiri dengan enggan agak jauh dari ku.


Sepertinya dia berhenti berjalan saat menyadari aku tak juga menyusulnya, aku tak berniat menjawab dan berlalu saja di depannya. Perasaanku kacau, gadis itu sepertinya meminta tolong dari mata sendunya. Apa dia berusaha membujukku agar menolongnya? Entahlah, siapapun gadis itu, aku harap tak mengganggu proses pencarianku akan masalah kali ini.


"Kakak udah lihat dia ya?" Belum juga pinggulku menyentuh sofa, Sintia sudah mengarahkan pertanyaan yang sukses buat aky bingung.


"Lihat siapa?" Tanyaku balik.


"Claudi," jawab Sintia yang ku balas gelengan.


"Udah, kakak udah lihat dia, dia adalah gadis yang ada di tangga tadi," jelas Sintia sambil mengambil gardigan ku yang ada di sampingnya.


"Itu Claudi?" Keningku berkerut tak percaya.


Benar-benar tak terduga, seingatky Claudi memiliki wajah putih pucat yang cantik, tidak segelap dan seseram hantu yang ku lihat tekunci tadi.


Sintia hanya membalas Jawabanku dengan anggukan dan senyum tipisnya.


"Kenapa dia gak bisa gerak? Aku tadi lihat dia kayak di tahan sesuatu gitu," jawabanku hanya di balas oleh angkatan bahu Sintia dan bibir manyun sambil menggelengnya itu.


Baru kali ini aku bertanya dan di jawab ketidak tahuan dari gadis yang bernams Sintia ini, padahal biasanya dia serba tahu, ternyata kekuatan manusia itu juga ada batasannya ya...


"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Nathan yang di balas helaan nafas berat oleh Sintia. Seakan-akan ada begitu banyak hal untuk di jelaskan dan begitu susah untuk di sampaikan.


"Kak pakai gardigannya dulu deh, baju kakak masih basah," Sintia menyodorkan gardigan berwarna ungu tua itu kepada ku.


Sekilas aku melirik ke arah baju ku yang memang agak sedikit menempel ke badanky karena basah, tanpa pikir panjang aku menerima sodoran gardigan itu.


"Gini loh bang, kalau abang mau tau semuanya secara lengkap, mau tau apa penyebab kematian adik kembaran abang itu dan juga mau tau apa yang selama ini yang di rahasiakan ibu abang, lebih baik abang juga terbuka dulu sama kami, jangan membatasi apa yang ingin kami cari tau dan lakukan," percaya atau tidak, kalian akan melihat keseriusan kali ini di wajah Sintia yang biasanya terlihat santai seakan-akan semua masalah yang dia hadapi itu enteng.


"Apa maksud lo?" Naell sepertinya mulai punya kebiasaan baru, yaitu mengerutkan kening setiap berbicara dengan ku dan Sintia.

__ADS_1


"Biarkan aku lihat apa yang ada di dalam ruangan di atas yang di kunci rapat ibu abang," mata Naell membulat ada sirat ketidak sukaan yang keluar dari bola matanya itu.


"Lo tau gak? Bahkan sampai ibu gue meninggal, gue gak pernah lancang buat lihat isi ruangan itu, sedangkan lo yang bukan siapa-siapa ibu gue berani lancang oengen masuk ke ruangan itu?" Sepertinya Naell benar-benar marah kali ini, sampai-sampai tangannya juga ikut mengarahkan telunjuknya ke arah Sintia.


"Bang, apa abang gak penasaran, apa yang di sembunyikan ibu abang sampai-sampai di kunci rapat seperti itu?" Sintia masih berusaha mengontrol emosinya agar tidak ikut meledak.


Kalau Sintia ikutan meledak, yang ada malah terjadi baku hantam.


"Gue gak peduli sama apa yang ada di dalam ruangan itu, yang penting gue udah hidup dengan baik, itu aja cukup buat gue,"


Sintia menggigit bibir bawahnya, merasa kesal menghadapu orang yang keras kepala lebih dari dirinya itu.


"Lo mau tau gak sih kenapa Nathan meninggal? Jawabannya hanya ada dari dalam ruangan itu! Hanya Claudi yang tau kemana dan bagaimana Nathan pergi!," Sintia mulai meninggikan nadanya.


Dan aku hanya terpaku di atas kursi sofa menyaksikan kedua kepala batu ini saling beradu argumen, siapa yang menang? Aku tau tau, namun aku berharao kali ini Sintia harus memenangkan ronde pertama.


"Apa maksud lo? Kenapa harus ruangan itu? Kenapa harus Claudi?" Pertanyaan datang sekaligus banyak dari mulut Naell.


"Kalau lo mau tau, sekarang ikut gue, dan buka pintu itu, kali ini gue bakalan bawa lo, bukan kak Risa lagi, biar lo sadar siapa ibu dan kakak lo sebenarnya," persetan dengan embel-embel abang.


Iyap, tidak akan ada orang yang akan tahan kalau sudah berurusan dengan Naell, cowok keras kepala, yang tidak pernah mau mendengar omongan orang lain.


"Oke, tapi gue gak mau kalau apa yang lo janjikan itu gak di tepati, kalau seandainya apa yang lo janjikan tidak terpenuhi, maka lo lihat saja apa yang bakalan gue lakukan," Ancam Naell dengan tatapan berapi-apinya.


Aku mati ketakutan mendengar ancaman Naell, sedangkan Sintia malah seperti orang yang menahan tawa mendengar ancaman Naell.


"Tunggi di sini, biar gue ambil dulu kuncinya," Naell berlalu masuk ke arah kanan dan meninggalkan kami berdua dengan kebisuan yang agak sedikit tak mengenakkan.


Apalagi ada seorang anak laki-laki kecil dengan leher hampir putus berdiri di belakang vas bunga yang berada tepat di sampingku.


"Lo ngapain kayak orang yang nahan ketawa gitu sih? Aku udah mati ketakutan kamunya malah ketawa," celotehku sebelum Naell kembali ke sini.

__ADS_1


"Dia bukan orang jahat, jangankan kita, bahkan lalat saja tak tega dia lukai, sudahlah kak fokus saja." Sintia memalingkan wajahku begitu saja dengan tangan kanannya.


Aku yang belum paham siapa Naell dan bagaimana dia tetap was-was. Karena sifat manusia bisa berubah begitu sajakan? Siapa yang bisa menjamin kalau dia nanti tidak melukai kami?


Latae belakang anggota keluarganya saja menakutkan, ibunya pembunuh dan kakaknya kanibal, bisa jadi dia melakukan kekerasan kepada kami, di tambah lagi dia tak mengenal kami.


"Ayo," Naell tiba-tiba muncuk begitu saja dan menuntun kami berjalan ke arah ruangan yang ada di lantai atas.


Aku kembali menelan salivaku menahan rasa takut yang mulai menjalar lagi, wajah gadis yang terikat iti begitu menyeramkan. Tapi anehnya teriakan histerisnya tiba-tiba berhenti ketika Naell berjalan tepat di depannya. Tatapan matanya sangat susah untuk di artikan.


Seperti tatapan rindu? Sedih? Atau penyesalan? Entahlah aku tak tau.


"Kau tidak merasakan apapun bang? Bukankah dia sudaj memberikan isyarat padamu, kalau dia di sini?" Sebelum Naell memasukkan kunci pada lubangnya, tiba-tiba Sintia melontarkan pertanyaan. Biasa, pertanyaan dadakan.


"Merasakan apa?" Naell bertanya balik.


Iyap, selalu seperti itu, kalau Sintia sudah bertanya dadakan, bukannya mendapatkan jawaban dia pasti mendapatkan pertanyaan balik.


"Claudi di sini, dan dia terus berusaha memberi tahumu kalau ada dia di dekatmu, abang gak tau? Atau gak ngerasain? Merinding, atau merasa ada seseorang selain kita bertiga gitu?" Tanya Sintia yang kali ini lengkap dan jelas.


Diam, Naell tak menjawab dia hanya menatap mata Sintia lalu berlalu kembali menatap lubang kunci, membuka pintu dari pada menjawa pertanyaan Sintia.


"Oke, aku ngerti kok," jawab Sintia yang aku yakin sudah mendapatkan jawaban dari membaca pikiran Naell.


Apa jawaban Naell? Hanya Sintia dan Naell lah yang tau.


๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ


Udah lama gak up ya๐Ÿ˜”. Dan katanya udah banyak yang lupa alur cerita, besok author bakalan up ringkasan tentang cerita author biar kalian ingat lagi...


Dan jua besok bakalan up episode baru. Author usahain buat up setiap hari, tapi mungkin tengah malam ke atas, karena cuman itu waktu gak kerja... heheh๐Ÿ˜….

__ADS_1


Oh ya... Author minta maaf karena udah lama banget ngilangnya...


Besok author juga bakalan kasih visual Sintia dan Beberapa tokoh baru yang datang....


__ADS_2