
Untuk sekali lagi, mereka melewati kumpulan kerbau untuk pergi ke rumah Bima. Tak ada jalan lain yang mereka ketahui, hanya satu jalan ini. Selama melewatinya aroma kerbau berterbangan di udara, Rani sudah menutupi hidungnya dengan masker yang dia bawa, namun tetap saja aroma kotoran kerbau tak bisa di hadang sepenuhnya.
Sedangkan Risa yang terkesan cuek itu hanya mengandalkan telapak tangannya mengunci lubang hidung agar bau busuk itu tak masuk ke dalam indra penciumannya.
"Kak.... bau," Rani terus merengek kepada kakaknya itu.
Rani memang seperti itu, setiap bersama mama atau kakaknya dia selalu menunjukkan sikap manja, namun saat bersama orang lain, kalian bahkan takkan percays bahwa Rani mempunyai sisi manja yang menggemaskan namun sekaligus sering membuat dongkol Risa.
"Iya, kakak tau kok dek," Suara Risa berubah karena lubang hidungnya dia tutup.
"Gak ada jalan lain apa kak?" Lagi-lagi bocah kecil itu kembali merengek.
"Hah... kalau ada gak bakalan kita lewat sini Ran... Udah ya, jalannya di percepat, biar cepat keluar dari sini," Risa menarik lengan adiknya itu agar mempercepat jalannya dan tidak bertele-tele.
Kalau terus berjalan seperti pengantin, percayalah, waktu berada di tempat kumpulan kerbau ini akan menyita waktu yang lama.
Rani yang di tarik kembali manyun, kakaknya yang cuek plus jutek itu selalu saja terus serius dan gak pernah santai menjalani hari.
"Kita udah sampai," Risa berhenti melangkah dan Rani otomatis juga ikut berhenti. Pandangan mereka tertuju ke rumah Bima yang sekarang ada di depan mereka.
"Kalian di sini?" Bima keluar dari rumah dengan memikul cangkul dan dengan setelan baju kaos abu-abu serta celana pendek.
"Bapak mau kemana?" Tanya Rani melihat Bima yang menyandang cangkul.
"Mau ke kebun, kalian sendiri?"
"Mau ke kebun kata bapak? Bapak fikir masalah bapak dengan Sendi dan Liya sudah selesai? Kenapa santai banget sih?" Risa yang melihat hidup Bima yang berjalan seperti biasa tanpa beban membuat dia kesal.
Belakangan ini kepala Risa hampir saja mau pecah karena masalah Liya padahal Risa sama sekali tak punya hubungan dengan mereka. Sedangkan Bima inti dari masalah ini bisa hidup dengan santai melakukan kegiatan sehari-harinya. Memuakkan banget.
"Siapa yang santai Sa? Kamu tau? Selama ini aku di bebani rasa bersalah, aku ingin menyelesaikan semua masalah ini, aku ingin Sendi dan Liya bisa istirahat dengan damai tanpa perlu berkeliaran kayak gini," Bima membantah tuduhan Risa padanya.
Risa memiringkan senyumannya saat mendengar perkataan Bima barusan.
"Bapak mau menyelesaikan semua masalah ini? Bapak mau Sendi dan Liya tenang di alamnya? Bapak seriusan?" Tanya Risa yang sepertinya akan mengikat Bima ikut bersamanya.
"Iya, saya mau," Ternyata Bima menjawab yakin dengan mantap.
__ADS_1
Ini dia kesempatan Risa, satu batu bisa menjatuhkan dua burung sekaligus. Jika Bima ikut, maka masalah Sendi dan Liya serta Bima akan benar-benar tuntas. Dan pertanyaan Liya tentang sifat ibunya yang selama ini jahat padanya akan ikutan selesai. Tak lama lagi, Risa bisa menghirup nafas lega.
"Kalau gitu, tinggalkan cangkul bapak, dan ikut dengan kami, bawa kami ke tempat ibunya Liya, dia masih hidupkan?" Kata Risa.
"Bawa kalian ke tempat ibunya Liya? Untuk apa?" Bukannya bilang mau ikut atau tidak dia malah balik bertanya.
Ternyata sifat pak Bima yang selalu ingin tau detail ini tak juga menghilang. Risa dan Rani benar-benar di buat dongkol dan melatih ke sabaran mereka.
"Ada yang ingin Liya tanyakan pada ibunya. Jadi kami harus cari tau dimana ibunya sekarang," kali ini Rani yang menjawab.
"Oke, kalau begitu saya akan ikut. Saya tau dimana dia sekarang tinggal," dengan sigap Bima meletakkan cangkulnya kembali di belakang pintu.
Kali ini dia tak meminta izin kepada ibunya, sepertinya ibunya sedang tidak di rumah. Risa tak mau ambil pusing, Bima sudah ikut itu sidsh cukup buatnya.
๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ
Selama perjalanan tak ada yang bersuara, begitu juga dengan Rani yang biasanya cerewet tiba-tiba menjadi diam. Bukan karena tidak ada sebab makanya Rani diam. Dia diam karena sekarang di sekitar mereka berada sekarang ada beberapa makhluk halus yang berjalan seiringan bahkan ada juga yang berlawanan arah. Seperti perkampungan, Rani melihat banyak rumah di sini. Padahal Bima tadi sudah bilang, agak beberapa meter ke depan takkan ada perumahan.
"Pak, Bapak bilang kalau dekat sini tidak akan ada perumahan? Kenapa? Padahal banyak pondasi-pandasi rumah di dekat sini," Rani bosan dengan perasaan ingin taunya yang tak tersalurkan. Alhasil dia bertanya juga.
"Dulu, di kampung ini, ada penyakit yang ganas. Dan kabarnya siapa pun yang tertular penyakit itu akan mengalami gatal-gatal di kulitnya lalu tak lama kemudian akan memerah dan bernanah, bukannya makin kecil, tapi semakin lama nanah itu akan semakin besar dan banyak. Tak lama akan menyerang ke matanya hingga buta, lalu tinggal tunggu tiga hari, orang yang terkena penyakit itu akan meninggal," jelas Bima yang membuat perjalanan menjadi tidak sunyi lagi.
"enggak, ada satu orang yabg tidak tertular, dia adalah orang yang kalian cari," jawaban Bima sukses membuat Rani kaget dan membuat Risa tertarik dengan ceritanya.
"Kenapa dia tidak tertular?" Tanya Rani lagi.
"Saya tidak tau, tapi yang saya dengar penyakit ini berasal dari makhluk halus gitu, katanya waktu menjelang magrib, ada salah satu warga yang membuang air kotor ke belakang rumahnya, dan saat air itu di buang ternyata mengenai wajah makhluk tersebut, jadi dia marah. Makanya, di kampung kami, tidak ada yang boleh buang air kotor dan keluar magrib-magrib, semuanya duduk di rumah. Takut nanti tersenggol makhluk itu dan menimbulkam amarahnya. Karena katanya setiap magrib makhluk itu berkeliaran di luar," penjelasan Bima membuat kedua gadis itu tertegun menyimak dengan seksama.
Mereka hanya mengangguk saja, sepertinya yang di katakan Bima ada benarnya. Karena hampir semua hantu yang Risa dan Rani lihat memiliki kudis di setiap kulit mereka, bahkan ada beberapa yang merangkak karena tak dapat melihat. Inikah yang disebut pembalasan dendam dari hantu? Entahlah, Tak ada yang tau.
"Lalu sekarang Mamanya Liya tetap di sini? Tidak pindah?" Tanya Rani yang teringat dengan wanita yang sedang dia cari.
"Dia tidak pindah, hanya tinggal dia sendiri di kampung ini," kata Bima yang memperjelas informasi yang mereka dapatkan.
'Kenapa mamamu tidak pindah? Padahal seluruh warga sudah tidak ada di sini?' Risa berbisik entah pada siapa.
"Dia memang tak peduli dengan lingkungan sekitarnya, kalau dia tidak mau maka berarti tidak mau. Tidak akan ada satu orang pun yang bisa menasehatinya kecuali Sendi," Liya muncul entah darimana. Dia ternyata ada di dekat mereka bertiga, berterbangan di atas tak berniat turun dan ikut berjalan bersama.
__ADS_1
Sedangkan Sendi? Dia akan datang ketika dia maunya saja.
"Ini rumahnya," Bima berhenti begitu juga dengan kedua gadis itu.
Sedangkan Liya langsung berdir tepat di belakang Risa, dia mengintip ingin melihat penghuni di dalam rumah yang berdiri seorang diri itu.
Di halaman rumah ada banyak daun kelapa yang nanti di ambil hanya lidinya saja. Sudah ada beberapa onggokan lidi tersusun rapi di teras paling luar, sepertinya memang sengaja di jemur. Di sudut kanan ada sekitar lima buah kelapa yang sudah di buka. Rumah ini tak ada sentuhan semen sedikit pun.
Hanya terdiri dari kayu dan bambu, benar-benar terlihat tua. Halaman rumah juga begitu berantakan, daun dari pohon jambu berserakan di halaman, seperti rumah tinggal, tak ada bersihnya sedikit pun.
Maklumlah, mungkin karena tinggal seorang diri dia tak terlalu mementingkan kebersihana halaman rumahnya, lagian juga takkan ada yang melihat kondisi rumah ini.
"Assalamualaikum, Tante? Ini Bima," Bima berjalan ke arah pintu rumah, tak menunggu lama, kami mendengar suara seseorang yang berjalan mendekat.
"Bima? Kenapa kamu ke sini? Dan siapa mereka?" seorang wanita keluar, wanita yang sepertinya seumuran mama Risa. Bedanya wajah wanita ini terlihat begitu lelah dan tak terurus.
Tubuhnya yang besar tak membuat dirinya terlihat sehat, dan yang membuat Rani dan Risa tercuri perhatiannya adalah sosok tinggi yang berdiri di dekat pintu. Tinggi sekali dan begitu gelap, seperti hanya sekedar bayangan saja.
"Mereka anak dari kota, dan katanya ada perlu sama Tante," jelas Bima yang membuat wanits itu menyipitkan mata keheranan.
Semenjak kapan dia ada hubungan dengan orang kota? Sama orang kampung saja hanya beberapa yang mengenalinya. Aneh...
Mama Liya menatap Rani dan Risa dengan teliti berbeda dengan Rani dan Risa yang malah sibuk memperhatikan makhluk tinggi di belakang wanita itu.
'Aura makhluk itu menyeramkan,' Gumam Rani dalam hatinya.
๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ
Hallo.... semua....
author mau kasih visual dari Rani sama Risa... Kemarin ada yang minta visual mereka. Jadi menurut author yang cocok jadi visual kedua tokoh utama kita itu adalah ini.
Sebagai Risa.. Pribadi yang banyak diam dan terkesan cuek.
__ADS_1
Ini jadi Raninya... Author sesuain sama tingkah Rani yang imut. Author mau cari yang berhijab tapi susah banget๐ญ.