Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
37


__ADS_3

Dan... Tusuk rambut itu akhirnya lepas beriringan dengan Risa, Ahmad dan Rudi, mereka terpental cukup jauh dari posisi berdiri tadi.


"Gawat!!! Rud... cepat tusuk lubang di kakinya, sebelum kembali pulih," Sintia memberitahukan hal yang membuat mereka terkejut.


Rudi yang baru saja ingin mengusap punggungnya yang terasa sakit menjadi terhenti, seakan-akan mengusap punggungnya itu hanya akan membuang waktu. Sekarang prinsip seorang Rudi berubah, dari yang dulu mengatakan bahwa waktu adalah uang, sekarang berubah menjadi waktu adalah pedang, sesuai kata ayahnya. Tak bisa di lalaikan.


Rudi berusaha berdiri duluan dari pada kedua orang itu.


"Lukanya bisa tertutup?" Tanya Rani yang mewakili ketiga orang yang baru saja berdiri dari jatuhnya.


Risa terlihat masih meringis mengusap tangan kirinya yang sepertinya terkilir karena menahan tubuhnya yang tiba-tiba terpental ke lantai.


"Bisa, dia akan memulihkan dirinya," jawab Sintia.


"AGRHH...," Rudi meremas rambutnya kesal.


Di sisi lain Iblis itu tersenyum lebar melihat wajah putus asa dari para manusia kecil di depannya.


"Sudahlah, tak usah berusaha sekeras itu kalau ujung-ujungnya kalah, serahkan saja gadis itu secara suka rela, maka kalian yang lain bisa aman," kata iblis itu.


"Mata lo aman! Mati lo sana!," Teriak Rudi kesal.

__ADS_1


"Maju Rud, biar aku yang lumpuhkan dia di sini," Ahmad yang sedari tadi hanya memperhatikan pembicaraan akhirnya iku serta berbicara.


"Emang abang bisa?" Tanya Rudi.


"Andalkan Allah dalam segala hal Rud, maka tidak ada yang tidak mungkin, percayalah sama Allah, Allah selalu bantu kita," jawab Ahmad sambil melebarkan senyumnya.


Rudi tak membalas senyum Ahmad, dia hanya mengangguk paham. Sebelum melangkah dia menatap kakaknya terlebih dahulu. Tergambar jelas wajah kelelahan dari sana, Risa pasti sudah mengalami hal yang begitu buruk hari ini.


Dan yang pasti takkan bisa di lupakan kakaknya, adalah Kelvin. Jika tau begini, mungkin Risa tak akan membiarkan Kelvin ikut serta dengan mereka.


"Kakak di sini aja, biar aku yang selesaikan semuanya," kata Rudi.


"Biarkan kakak di ambilnya Rud, kakak gak mau kamu juga terluka, dia cuman mau kakak, lebih baik kita ambil jalan aman saja," Suara Risa terdengar parau.


Mendengar itu, Ahmad dan Rudi menggeleng kuat, tanda penolakan tanpa negosiasi. Melihat itu Risa terduduk tak berdaya, dia cuman berharap semoga tak ada korban lagi.


Rudi dengan di bekali keberanian dan kunci pemberian nenek di tangan kanannya, dengan cepat berlari ke arah iblis yang berdiri tegap dengan lubang yang mulai mengecil di kakinya.


"Masih mau mencoba?" Tanya iblis itu yang memenuhi seisi ruangan.


"Masih mau sombong?" Kata Rudi membalas pertanyaan iblis itu.

__ADS_1


Mendengar itu, sudut kiri bibir hantu itu terangkat. Melihat hantu itu yang meremehkannya Rudi malah membalas dengan senyuman.


"Kali ini bukan percobaan lagi, tapi sudah yang sesungguhnya," teriak Rudi dengan tangannya yang gesit melayangkan kunci itu kearah kaki si Iblis.


"Jangan Mimpi!," Tangan iblis itu melayang ke arah Rudi, tapi sebelum tangan itu sampai, tiba-tiba saja Ahmad meneriakkan satu kalimat yang membuat Iblis itu kesakitan dan menggagalkan niatnya.


"لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ "


Teriakan Satu kalimat, teriakan ampuh, sebuah kalimat saklar. Rudi tak membuang kesempatan baiknya, kali ini untuk yang pertama kalinya dia berhasil membunuh sosok Iblis, membuat sosok itu hangus menjadi abu. Tubuhnya menjadi abu yang berterbangan, sedangkan rohnya masuk dan terkunci ke dalam kunci itu.


Tak ada lagi yang akan membangkitkannya, memanggilnya untuk sekedar menumbalkan manusia demi kepentingannya lagi.


Awal dari jalan menemukan Nathan terbuka, Sintia akhirnya mendapatkan jalan untuk kembali membaca masalalu tanpa halangan Iblis itu, dan sebagian puzzle juga sudah terkumpul oleh Sintia.


Semua mata menatap takjub dengan pemandangan yang mereka lihat, butiran abu bertiup mengisi ruangan.


Di saat yang lain asik memperhatikan kepergian iblis, berbeda dengan Risa yang sudah terduduk dan menangisi Kelvin lagi.


"Kak, bang Kelvin masih di sini," Rani yang tiba-tiba muncul langsung membuat kaget Risa yang sedang menangis.


Begitu juga dengan Rudi dan Ahmad, kecuali Sintia.

__ADS_1


__ADS_2