Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Mimpi 3


__ADS_3

Risa seperti berfikir keras, sepertinya kali ini dia harus membantu adiknya. Bagaimana pun dia ingin adiknya bisa hidup normal seperti orang lain. Tidak di ganggu dengan hantu yang tak ada hubungannya dengan mereka. Kebetulan juga dia sekarang bisa melihat makhluk gaib itu. Mungkin ini kesempatan dia agar bisa memberikan kehidupan yang layak untuk adiknya di masa depan.


"Mau kakak bantu?" Tanya Risa sambil memposisikan Rani di sebelahnya.


"Caranya?" tanya Rani.


"Caranya kita pikirin besok, kakak juga belum ketemu sama hantu itu. Sekarang kita tidur aja ya? Kakak udah ngantuk nih," pernyataan Risa hanya di jawab anggukan oleh Rani.


Bagaimana pun dia juga sudah mulai mengantuk, ini sudah lewat waktu tidurnya. Tanpa menunggu lama kedua gadis itu sudah terlelap dalam tidurnya. Masing-masing dari mereka sudah sampai di alam mimpi. Terlihat dari raut wajah Risa yang berubah itu. Entah apa yang di mimpikan Risa hingga keringat bercucuran di pelipisnya. Gadis ini sepertinya ketakutan.


🐾🐾🐾🐾🐾


Entah apa yang membawanya, sekarang Risa berada di sebuah ruangan yang lengkap dengan perabotan sederhana, sepertinya sekarang dia sedang berada di ruang tamu. Tapi ini rumah siapa?


"Apa aku sedang bermimpi?" Tanya Risa yang tak percaya dia menyadari bahwa sedang berada di dunia mimpi. Ini ajaib.


" Maaf, aku minta maaf kalau aku ada salah," pria dengan rambut sedikit keriting itu berdiri di depan wanita paruh baya yang kelihatannya adalah istrinya. Wajah pria itu sudah frustasi entah kenapa.


"Kamu masih belum tau apa kesalahanmu bang? Heh... sudahlah, kita akhiri saja ini semua, toh kita udah gak bisa kayak dulu lagi," kening Risa berkerut, apa itu permintaan cerai?


"Yan, tolong jelasin apa salah aku, jangan ambil keputusan kayak gini dong," Pria itu memegang kedua tangan istrinya.


Terlihat jelas di matanya bahwa dia sangat tidak ingin berpisah dari istrinya itu.


"Kalau kamu gak bahagia sama kami jangan di paksain bang, kamu bisa pergi, aku gak bakalan ngekang kamu lagi," kata wanita itu sambil berlalu dari hadapan suaminya.


Dia keluar dari ruangan itu dan entah kemana wanita itu pergi. Pria yang di tinggal itu hanya bisa berdiam diri di pojok ruangan. Risa bisa melihat dengan jelas, pria itu menangis. Entah kenapa Risa bisa merasakan perasaan perih yang di rasakan pria tua itu. Air mata mengalir di pipinya, dia tak bisa menahan perasaan sakit yanh tiba-tiba ini.


Risa mengalihkan pandangannya dari pria malang yang menangis, entah kenapa sesuatu di sudut ruangan tepatnya di belakang pintu dapur seperti ada seseorang di situ. Dengan pelan Risa melangkah ke arah dapur.

__ADS_1


Mata Risa membulat saat melihat seorang anak laki-laki berdiri dengan linangan air mata sudah memenuhi pelupuk matanya. Anak laki-laki itu sangat tampan, kulit putih dengan rahang tegas dan mata bulatnya menambah daya tarik anak itu. Apalagi tingginya yang menjulang membuat dia terlihat seperti seorang pemain basket. Kalau di lihat dari wajahnya dia pasti kecil dari Risa beberapa tahun. 17 tahun kah usianya?


Risa menebak pria itu adalah anak dari kedua suami istri yang tadi bertengkar. Pasti anak ini terguncang saat mendengar pertengkaran orang tuanya tadi.


Dia berlalu, masuk ke dalam kamarnya membelakangi Risa.


Saat anak itu membelakangi Risa entah kenapa dia merasa punggung anak itu terlihat familiar. Dia seperti pernah melihat anak laki-laki yang baru saja membelakanginya, tapi dimana?


NGGIIIIING


Risa menutup kedua telinganya, suara radio rusak tiba-tiba mengisi ruangan di sekitar Risa. Makin lama suara itu makin besar, Risa memejamkan matanya menahan rasa sakit yang menghantam gendang telinga. Suara ini membuat telinganya ngilu.


Tapi tak beberapa lama suara itu menghilang, semua kembali sunyi, namun Risa belum berani membuka mata. Perlahan suara dentingan piano indah terdengar oleh telinga Risa.


"Inikan?" Risa mengangkat kepalanya.


"Benar, aku pernah melihat anak itu! Pria yang bermain piano di sekolah!," pekik Risa saat dapat mengingat siapa orang yang terlintas di ingatannya.


Sama persis! Suara dentingan piano mulai tak beraturan, Risa bisa menebak hal menakutkan apa yang akan terjadi sesudah suara kacau piano itu.


"Kau siapa?" Mata Risa membulat, saat pria itu menghentikan permainan pianonya dan melontarkan pertanyaan entah pada siapa.


Setidaknya dia bersyukur tak lagi melihat kejadian mengerikan yang dia lihat tadi sore. Jari yang putus dengan darah mewarnai tut piano itu.


"Kenapa kau diam? Aku bertanya padamu," Pria itu membalikkan badannya, menghadap Risa.


"Kau bertanya..... padaku?" Risa menunjuk ke wajahnya dengan perasaan tak percaya.


'Dia bisa melihatku?' Risa tak mengerti. Kenapa bisa?

__ADS_1


"Iya," pria itu tersenyum dengan manis.


DEG


Senyumnya manis, membuat Risa terpaku beberapa saat.


'Tapi tunggu? Kenapa aku seperti pernah melihat senyuman itu? Tapi dimana?' Risa berusaha berfikir keras.


Apa yang ingin di tunjukkan oleh mimpinya ini?.


Baru saja Risa ingin bertanya siapa nama pria itu, tiba-tiba pandangannya menjadi kabur. Kabut asap menutupi ruangan, Perlahan-lahan Risa tak dapat melihat apapun. Nafasnya mulai tersenggal, seperti ada yang mencekiknya. Risa terus meraba lehernya, tapi tak ada apapun di lehernya.


'Tuhan..... tolong aku,'


Risa meraba, menggapai apapun yang ada di sekitarnya. Tapi nihil!


Tak ada apapun di dekatnya.


"KAAAK.... BANGUN!!,"


"HAAAH...." Risa membuka matanya, dia menelan ludah tak percaya.


Dia sudah kembali ke rumah, dia sudah bangun dari mimpinya. Risa sangat lega, sangking leganya dia menangis bahagia bisa bangun dalam keadaan masih bernyawa.


"Kakak gak papa?" terlihat wajah Rani yang panik, dia bahkan sudah menangis.


"Iya, kakak gak papa,"


"Syukurlah," Rani memeluk kakaknya penuh rasa syukur.

__ADS_1


'Untunglah aku menolong kakak tepat waktu, kalau tidak nyawa kakak tidak akan keluar dari alam mimpi'. Kata Rani dalam batinnya.


__ADS_2