Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Hasil Menjelajahi Masalalu


__ADS_3

Dia benar-benar mirip dengan S, mulai dari postur tubuh, wajah dan senyumnya, itu sangat mirip. Mereka seperti satu orang yang sama, tapi kenapa dia malah terlihat jahat disini? Kenapa dia membiarkan anak kecil itu menerima pukulan yang mwnyakitkan seperti itu, Apa jangan-jangan anak kecil itu melakukan kesalahan yang besar?


Walau pun dia melakukan kesalahan besar, tetap saja anak itu masih kecil, tubuhnya tak pantas mendapatkan pukulan itu. Risa bisa melihat tubuhnya yang sudah penuh lebam. Namun orang yang di panggil ibu itu tak juga ada niatan berhenti memukul. Risa benar-benar sudah di luar kendalinya, dia berlari ke arah mereka, Risa menggapai tangan ibu itu, berharap dia berhenti memukul gadis yang malang dengan rotan yang mengerikan itu.


Namun sayang, Risa hanya menggapai udara, dia sama sekali tak bisa menyentuh mereka. Ini hanyalah masalalu yang terlintas, masalalu yang hanya bisa Risa saksikan dan tak bisa di rubah.


Karena hakikatnya masalalu memanglah seperti itu. Sudah berlalu dan takkan pernah bisa di perbaiki, seberapa keras pun kamu berusaha memperbaiki masalalu semuanya akan sia-sia. Semuanya telah terjadi, dan manusia tidak punya keahlian memutar waktu.


Risa termenung saat usahanya menggapai tangan ibu itu berulang kali namun berakhir sia-sia. Mata Risa sudah basah saat melihat gadis itu terduduk di atas lantai, dia tak mampu lagi berdiri. Risa heran, apakah orang tuanya ini takkan merasa penyesalan suatu hari nanti? Entahlah, siapa yang tau? Risa tak punya waktu memikirkan masa depan yang bahkan belum terjadi itu.


"Sudah bu, dia udah kapok! Setidaknya kali ini adek tidak akan berani lagikan mendekati milik kakaknya ini?" Orang yang Risa yakini S itu berjongkok menatap adiknya yang sudah setengah sadar itu.


Mata mereka bertemu tapi tak ada aura persaudaraan dari tatapan mereka berdua, hanya ada tatapan kebencian dari kedua belah pihak. Risa benar-benar di buat tertegun dengan apa yang dia saksikan. Baru kali ini dia melihat saudara saling membenci seperti ini.


Seandainya saja benci itu memiliki bau, pasti tempat dia berdiri saat ini sudah di penuhi bau pekat kebencian. Auranya saja sudah tak menyenangkan, apa lagi kalau memikirkan baunya.


"Eh! Jangan coba-coba menghalangi kakakmu, atau yang kau dapatkan akan lebih menyakitkan dari ini. Anak sialan seperti mu seharusnya tau diri! Diam di pojokan seperti pajangan! Hanya itu yang perlu kau lakukan," perkataan seorang ibukah itu?


Risa benar-benar tak habis pikir perkataan yang mengerikan seperti itu keluar dari mulut seorang ibu. Bukankah julukan seorang ibu itu begitu saklar? Embel-embel ibu yang Risa tau, memiliki cinta yang besar untuk anak-anaknya. Namun kenapa untuk makhluk yang di depan Risa ini berbeda? Ada masalah apa sebenarnya?


"Bu! Liya gak pernah deketin dia! Dia sendiri yang deketin Liya!," Rani tak tau apakah gadis itu sudah selesai bicara atau belum, karena S langsung menampar gadis itu hingga membuat dia terhenti berbicara.

__ADS_1


"Jadi maksudmu dia yang mendekatimu! BEGITU! Hei! Perempuan buruk seperti mu tidak pantas berbohong seperti itu! Sadar dong! Menjijikkan!," S mendorong tubuh gadis kecil yang kini Risa tau namanya adalah Liya. Tubuh yang tak memiliki tenaga itu lagi langsung tersungkur walau hanya di dorong pelan oleh S. Risa merasa tak tega dengan anak itu.


S berjalan begitu saja meninggalkan Liya dengan ibunya di ruangan itu. Risa bisa melihat ada amarah yang begitu besar terpancar dari wajah S. Siapa yang menjadi akar masalah dari ini semua? Siapa cowok yang mereka maksud?


"Sekarang kau sudah sadar kedudukan mu? Kau hanya anak tak berguna yang kebetulan lahir dari rahim ku, anak tak berguna sepertimu tak pantas mendapatkan kebahagiaan mengerti? Sekarang enyah dari hadapan ku, atau perlu aku tendang biar kau enyah dari sini?!" Liya bergidik ngeri mendengar penuturan ibunya itu.


Dengan cepat dia berusaha berdiri dengan kaki yang memar, dengan tenaga yang ada dia berjalan menuju sebuah kamar yang Risa yakini kamar dari Liya. Rasanya Risa ingin sekali memapah gadis itu, tapi apalah daya, setiap dia berusaha menggapai Liya, yang dia dapati hanya menyentuh udara kosong. Miris!


Saat Liya sempurna masuk ke dalam kamarnya, Risa langsung mendekat ke arah ibu itu. Dia langsung melayangkan tinjunya yang Risa tau itu hanya akan sia-sia. Setelah lelah dia berhenti meninju udara kosong. Entah aoa yang bisa dia lakukan untuk melampiaskan amarahnya kepada ibu kurang ajar ini.


"Kakak yang kau banggakan akan aku buat membencimu! Kau tak pantas disebut anakku! Aku benar-benar membencimu!," selesai mengatakan itu,, ibu Liya menangis di ruangan itu sendirian.


NGIIIING.....


Sial, belum juga menyelesaikan teka-teki yang satu ini, suara yang menyakiti telinganya itu kembali terdengar. Risa mulai kehilangan pandangannya, semua terlihat samar-samar dan benar-benar menjadi gelap.


🐾🐾🐾🐾


"Kak? Bangun, Kak!," Risa bisa mendengar suara adiknya terus memanggil.


Namun matanya masih terasa berat untuk terbuka. Silau, cahaya lampu duluan yang masuk ke retina matanya. Walau terasa sedikit perih mata Risa bisa sempurna terbuka sekarang.

__ADS_1


"Syukurlah, kakak udah bangun," Rani memegang tangan kakaknya penuh rasa syukur.


"Lah kakak kok ada di lantai?" mungkin pikiran Risa sudah kacau di alam bawah sadar tadi, sampai-sampai yang dia tanya duluan malah dimana dia sekarang tertidur, tak bisakah tanya keadaan adiknya dulu, hadeh...


"Iya, Rani gak bisa angkat kakak ke atas kasur, berat tau!," Rani beralih membantu kakaknya duduk dari tidurnya.


Risa menatap ke arah pintu kamar, perasaannya semakin campur aduk setelah mengingat kejadian tadi.


Siapa hantu yang ada di balik pintunya itu? Liyakah? Atau ibunya? Atau mungkin itu S? Tidak! Tidak mungkin itu S, Rani tidak mengenal hantu itu. Kalau dia S, Rani pasti tau.


"Ran, hantu itu masih ada di balik pintu?" Tanya Risa setelah menyadari tak ada lagi bunyi ketukan seperti tadi.


"Waktu kakak pingsan, ketukan pintunya udah berhenti," jawab Rani sambil mengingat-ingat.


"Seperti apa wujud hantu yang mengganggu mu belakangan ini?" Tanya Risa lagi.


Rani mengerutkan keningnya. Kakaknya baru sja bangun dari pingsan, tapi sudah menanyakan hal berat seperti ini. Apa kakak gak pusing?


"Nanti aja ya kak, sekarang udah subuh, Rani belum shalat, kakak pingsannya lama banget sih," Rani berdiri dan memapah kakaknya itu dengan tubuh mungilnya.


Risa tak lagi bersuara, dia hanya mengikuti adiknya untuk bersiap melaksanakan shalat wajib. Untuk masalah hantu itu bisa di bicarakan nanti, shalat lebih di utamakan.

__ADS_1


__ADS_2