
CKLEK...
Kunci terbuka, dan pintu di dorong oleh Naell sambil melangkahkan kakinya memasuki ruangan gelap itu. Benar-benar gelap, tak ada pentilasi, hanya dapat cahaya dari luar karena pintu sudah terbuka, aku tak bisa membayangkan bagaimana Claudi bisa tahan makan di tempat yang tak ada celah selain lubang di bawah pintu? Oke, bukan hanya cara makannya yang aku fikirkan, tapi bagaimana rasanya memakan daging manusia sendiri? Itu benar-benar menjijikkan.
Aku sempat bertanya waktu itu kepada Sintia bagaimana rasanya daging manusia, Sintia tertawa mendengar pertanyaanku, artinya dia juga tidak tahu. Toh, dia juga gak makan daging manusia kan? Apa mungkin kayak daging sapi? Atau seperti daging ayam? Entahlah, aku benar-benar tak tau apapun.
"Mhmm..." Setelah kakiku meenginjak ruangan itu, bau tak sedap pun langsung menghampiri hidungku. Tanganku langsung menutup hidung yang rasanya tak kuat lagi menghirup bau tak sedap itu.
Sintia yang mengerti langsung menepuk pundakku pelan, seakan-akan berusaha agar aku kuat dan tidak muntah lagi.
"Kau kenapa?" Tanya Naell yang sepertinya tak mencium bau busuk itu.
"Busuk, seperti bangkai," jawabku yang langsung di hentikan oleh Sintia dengan isyarat telunjuk di ajungkan di depan mulutku.
"Coba diam dulu, kita cari dimana saklar lampunya, biar bisa lihat seisi ruangan," kata Sintia sambil berjalan meraba dinding berharap menemukan saklar lampu, begitu juga dengan Naell, sedangkan aku awalnya memilih menunggu mereka menemukan tombol itu, namun hampur 3 menit mereka tak menemukannya.
Aku mulai geram dengan cara mereka yang tetap meraba dinding dalam gelap, aku rasa otak mereka sedikit tumpul ketika masuk di ruangan ini. Aku menghela nafas menyadari kebodohan kedua insan yang sok hebat itu, ku rogoh saku bajuku dan mengambil handphone di sana, menekannya untuk menghidupkan senter.
__ADS_1
"Ah... kenapa tidak ke pikiran?" Pekik Sintia melihat cahaya senter di handphoneku.
"Itu saklarnya, agak lebih tinggi dari kita," tunjukku yang tak sampai menghidupkan lampu, agak sejengkal lagi baru tanganku bisa menyentuh saklar lampu.
TAK...
Naell berdiri di belakangku dan menekan tombol itu yang pastinya sampai oleh tangan dan kaki panjangnya itu. Aku yakin sekarang dia meledekku yang tinggi saja tak sampai 150 cm.
"Kosong," jawab Naell saat mengitarkan pandangannya di ruangan itu.
Sebenarnya tidak sempurna kosong sih, ada satu meja yang panjangnya kira-kira 100 cm dengan lebar 60 cm, dan dua kursi di bagian kiri dan kanannya, kursi itu warnanya seperti manggis dengan dinding kamar berwarna hitam.
"Semua hal yang aneh harus di curigai, bahkan walau pun itu satu ekor lalat, jika mencurigakan dan aneh, harus di cari tau, jangan di anggap angin lalu," Mendengar itu aku kembali memilih untuk menyimpan rasa penasaran ini dari pada membuangnya.
Jika sudah menemukan waktu yang tepat, aku akan menanyai alasan dari si pemilik rumah memberikan warna dan bentuk rumah seperti ini, mungkin saja ada petunjuk yang bisa aku ambil nanti.
"Ada sesuatu di sini, tapi aku tak bisa menebak apa itu," Sintia berbicara sambil mengalihkan pandangannya kepada Naell.
__ADS_1
"Sesuatu seperti apa?" tanya Naell heran.
"Hmm begini, aku rasa kak Risa bisa mencium sesuatu yang tak lagi kita rasakan, sesuatu yang mengerikan, indra kakak sangat peka, terbukti dari indra penciuman kakak yang bisa menangkap bau tidak sedap yang sama sekali tidak aku cium. Pasti ada sesuatu yang serupa dengan apa yang kakak cium tadi. Kalau boleh aku tau, aroma apa yang kakak tangkap?" Tanya Sintia yang aku yakin mode seriusnya belum juga Off.
"Bau bangkai Sin, dan sampai sekarang masih menyengat," jawabku yang di balas anggukan mantap dari Sintia.
"Bang, mau ikut aku kembali ke masa lalu? Aku ragu jika itu bau bangkai, karena pada dasarnya memang claudi dan ibunya membawa mayat ke sini, bisa jadi itu bau bangkai korban atau mungkin sesuatu yang lain, jadi untuk memastikannya bagaimana kalau kakak ikut dengan ku pergi ke masalalu?" tawar Sintia pada Naell.
"Kenapa harus aku? Kenapa gak dia aja?" tunjuk Naell padaku.
"Gak bisa, kak Risa masih lemah, biarkan kak Risa ngamatin ruangan ini dulu, ah... lebih baik tadi kita bawa Rani," tiba-tiba saja Sintia menyembut nama adikku.
"Kenapa Rani?" tanya Ku heran.
"Entahlah, instingku merasa bahwa dia bisa membantu kita, aku yakin ada kelebihan Rani yang tidak aku dan kakak miliki, ck... anak itu sekali-kali harus di bawa turun ke lapangan," celoteh Sintia yang sama sekali tak aku gubris dengan senyuman.
"Ayolah, kakak mau masalah ini selesai gak sih? Kalau mau jangan takut melibatkan suadara kakak," Kata sintia yang pasti tau kalau aku menolak untuk Rani ikut serta.
__ADS_1
"Nanti dulu kalian berdebatnya, jadi gak pergi ke masalalu seperti yang lo bilang tadi?" Naell menengahi percakapan kami.
Kali ini entah kenapa aku senang Naell menengahi kami, setidaknya aku tak jadi berteriak ke muka Sintia karena berani berfikir melibatkan adikku