Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
24


__ADS_3

"Ya udah ayo," Sintia menarik tanganku yang masih sedang asik berfikir.


"Ayo kemana?" Anak ini benar-benar tak bisa membedakan mana yang tua mana yang seumuran dia. Setidaknya sopanlah sedikit denganku jangan asal tarik.


Tapi ya sudahlah, lagian itu bukan masalah yang besar, selagi dia tidak memanggil ku dengan nama itu sudah cukup rasanya.


"Kita pulang kak, energi ku udah mulai habis, capek," kali ini muka dengan senyum jahil dan sok tahu itu berubah sedikit lelah.


Aku mengerti dan hanya mengangguk saja, aku masih penasaran siapa cowok itu, tapi Sintia katanya udah gak kuat lagi, kalau aku paksain takut nanti berdampak buruk buat dia.


🐾🐾🐾🐾🐾🐾


"Sudah pulangkah?" Naell memicingkan matanya saat melihat kami yang langsung membuka mata setelah sampai ke dalam tubuh asli.


"Iya ud...." kata-kataku terhenti saat merasakan ada yang basah dan berlendir di daguku.


Dan dalam waktu sekejap aku menyadari apa itu dan merasakan jijik yang luar biasa.


"Kamar mandi dimana?" Tanya ku sambil berdiri melihat baju bagian atas ku sudah basah oleh muntah ku sendiri.


Sedangkan lantainya? Jangan tanya, itu pun masih kotor dengan genangan muntahan ku yang berisi makananku tadi pagi. Jengkel dengan Naell yang tak berinisiatif setidaknya membersih lantainya ini. Tapi ya sudahlah, bagaimana pun itu muntahanku juga tidak baik kalau meminta orang lain membersihkannya.


"lurus saja ke depan, lalu belok kiri," jawabnya santai tanpa menatapku, mungkin jijik kali ya, lihat masih di lumurin muntahan.

__ADS_1


"Oh iya, pel ada di dapur, di belakang pintu," sambung Naell yang berarti menyuruhku membersihkan lantai.


Aku hanya mendengus kesal dan berlalu begitu saja, lebih baik membersihkan kotoran yang sudah nyangkut di bajuku ini. Kalau saja tidak karena apa yang aku lihat tadi, pastilah ini semua tidak akan terjadi.


Saat aku sampai di dalam kamar mandi, aki takjub dengan apa yang di tangkap oleh mataku, kamar mandinya sangat bersih dengan ukuran yang cukup besar. Dan sialnya ketakjubanku di hilangkan oleh pemandangan di sudut sebelah kiri kamar mandi, ada seorang perempuan berbaju putih, berambut panjang, namun tak seperti kuntilanak yang aku fikirkan, dia terlihat cantik dengan bola mata berwarna abu-abu, bibir kecil dan mata besar di sertakan bulu mata yang lentik. Kulitnya berwarna kuning langsat, benar-benar kecantikan yang sempurna, hanya saja kesempurnaan wajahnya harus di patahkan oleh nyawa yang tidak ada.


"Kau bisa melihatku?" Tanyanya sambil melayang mendekat ke arahku,


Aku berusaha pura-pura tuli, sambil membersihkan bajuku dengan air.


"Hey... kalau dengar tu di jawab!" suara wanita itu melengking di telingaku, seiringan dengan bau harum bunga yang menyengat. Apa ini ya bau bunga yang di hubungin sama bau astral? Entahlah, aku tak tau.


"Selesai," jawabku berusaha tidak menghiraukan hantu itu.


Sesuai kata Sintia, aku tidak boleh terus menanggapi hantu yang ingin berbicara, bisa-bisa mereka melunjak dan banyak minta.


Sesuai kata Naell tadi, aku harus mengambil pel dan membersihkan lantai yang sudah aku kotori. Asik-asik mencari pel, aku malah bertemu tempat yang familiar. Di atas ada tangga, dan dari bawah aku bisa melihat sebuah pintu yang ada dekat di samping tangga. Aku berusaha mengingat, dimana aku pernah melihat tempat itu.


Dan....


"Itu tempat makan Claudi!," kataku senang.


Bukannya mencari pel, kakiku malah menuntunku menaiki tangga, aku ingin lihat bagaimana kondiri ruangan itu sekarang.

__ADS_1


"Mau kemana?" Naell tiba-tiba muncul di belakangku dan menghentikan langkahku yang baru mau menaiki tangga ke empat.


"Ke atas," jawabku santai,


"Jangan seenak hati lo di sini, gue tau, lo udah pergi ke masa lalu tapi buka berarti lo bisa masuk ke sini sesuka hati lo!" gak pernah bicara santai, anak ini selalu saja dengan nada tinggi berbicara pada ku.


"Oke," aku tak mau membuat masalah lagi, lebih baik menurut dan undur dulu keinginan untuk mencari tahu itu.


Saat kaki ku sudah sampai menginjak lantai dan meninggalkan tangga yang belum sempat ku daki, tiba-tiba aku mendengar suara teriakan yang begitu memilukan,


"Kau dengar?" Tanyaku yang benar- benar takut.


Teriakan itu seperti teriakan seseorang yang merintih ke sakitan, sangat pilu dan terdengar menyedihkan, siapa itu?


"dengar apaan? Telinga lo bermasalah," lagikan? Gak pernah sekali aja gitu gak nyakitin hati aku sama kata-kata tajamnya.


Ck, mana mungkin dia dengar, aku menoleh ke belakang, dan melihat di sana seorang gadis dengan muka hancurnya terus berteriak, mengerikan.


Tapi aneh, dia seperti tidak bisa bergerak dari atas tangga itu, dia bahkan tak bergerak seperti di kunci, siapa itu?


🐾🐾🐾🐾🐾


Maaf baru sempat up....

__ADS_1


Author belakangan ini lembur dan vanyak kerjaan, gak sempat buat up, maaf ya buat kalian menunggu....


Mohon pengertiannya, semoga kerja author cepat selesai dan bisa sering up lagi


__ADS_2