
POV RISA
Aku dan nenek sudah berdiri cukup lama di luar, dari matahari masih di atas sampai berganti menjadi bulan. Tak ku sangka, nenek orangnya asik juga, dia terus bercerita panjang lebar mengenai masa kecilnya, pertemuannya dengan almarhum kakek hingga kondisi sekarang yang tinggal bersama ibunya Sherly yang aku tau nama ibu Sherly itu adalah Yanti.
"Bibi Yanti belum pulang ya nek?" Tanya ku sambil menarik kursi yang tak jauh di belakangku agar bisa duduk sejajar dengan nenek.
"Iya, dia mau pergi ke kampung ortunya saat tau kalian akan tinggal beberapa saat di sini, setidaknya dia bisa melepas rindu dengan saudaranya," jawab nenek sambil menghirup udara segar di malam hari ini.
"oo.. gitu ya nek," jawabku singkat sambil ikut menatap ke depan, melihat suasana gelap di malam hari.
Suasana di sini benar-benar berbeda dengan suasana di rumah sialan waktu itu. Di sini suasananya lebih hidup dan nyaman.
TAK TAK TAK....
Kami berdua terkejut mendengar seseorang berlari dari dalam rumah. Itu Rani, dia langsung memelukku, ada raut wajah ketakutan, pasti Rani baru saja bertemu hantu, dan hantu apa kali ini?
"Kak ada orang yang ngintip di luar jendela kamar," Rani masih ngos-ngosan tapi tetap menjelaskan apa yang baru dia alami.
"Bukan manusia?" nenek mendahului aku bertanya, pertanyaan nenek sesuai tebakan ku, di jawab anggukan oleh Rani.
Aku membuang nafas dengan senyum kecut. Tidak pernah bisa tenang setelah memilik penglihatan yang sialan ini.
Aku memeluk adikku kuat, tangannya masih menggigil, semenyeramkan apa hantu itu sampai adikku setakut ini?
__ADS_1
"Hantunya serem banget ya?" tanyaku memastikan.
Adikku menggeleng, membuatku semakin tak mengerti, kalau tak seram lalu kenapa harus setakut itu.
"Terus kenapa takut?" Tanya ku lagi.
"Auranya, adek gak ngerti, tapi saat mata kami saling bertemu aura menakutkannya buat Rani bener-bener takut banget," aku masih belum mencapai titik paham. Namun nenek mengangguk, seakan-akan mengerti apa yang terjadi hanya dari penjelasan singkat Rani.
Hayolah! Tentu saja nenek tau, jelas! Level nenek berbeda dengan kami. Dia bukan hanya bisa melihat tapi juga memiliki hal gaib dalam dirinya. Luar biasa!
"Kenapa nek?" Aku penasaran, dan gak mau sok kalem.
Bukannya menjawab, nenek malah menatapku sebentar kemudian tersenyum, senyum yang memberikan penuh tanda tanya.
"Jika dia mengeluarkan aura yang tidak mengenakkan berarti semasa hidupnya dia memiliki sifat yang buruk. Banyak perbuatan yang tidak baik dia lakukan, dan itu juga bisa di karenakan dendam yang begitu besar dan belum terbalaskan. Kedua hal itu bisa menjadi kemungkinan kenapa auranya menjadi begitu menakutkan," jelas nenek. Yang benar-benar jelas.
"Haruskah?" Aku sebenarnya takut, tapi jika itu harus tidak bisa di tolakkan?
"Entahlah, tapi bisa saja dia memberikan petunjuk akan masalah yang sekarang kamu miliki," jawab nenek yang membuat Rani dan aku saling pandang.
Dimana nenek bisa tau kalau aku punya masalah? Aku tidak ada bercerita dengan nenek. Dan Rani dia pasti juga belum bercerita, karena seharian tadi dia hanya tertidur.
"Tidak perlu bingung nak, selama nenek masih hidup, nenek akan jagain dan awasin kalian. Benda yang ada bersama kalian sekarang akan menarik banyak hantu yang penasaran, jadi selama kalian belum bisa sepenuhnya mengontrol benda yang ku berikan, maka selama itu aku akan menjaga kalian," kalimat nenek kali ini cukup membuat kami takjub dan takut.
__ADS_1
Takjub karena nenek selalu bisa menjaga kami walau kami jauh, dan takut akan bahaya yang akan di berikan senjata ini kepada kami. Baru kompas dan tusuk rambut yang berada di tangan kami. Dua saja masih susah di kuasai, apa lagi tiga di tambah kunci itu, pasti itu sangat sulit.
Aku tertegun sebentar, benar yang di katakan nenek, semua hal harus aku curigai, tak boleh terlewatkan, mana tau hantu itu bisa memberikan petunjuk selanjutnya.
Aku langsung menarik tangan Rani menuju kamar setelah berpamitan dengan nenek, kali ini rasa penasaran dan ambisi menyelesaikan masalah lebih besar dari pada rasa takut.
Pintu kamar terbuka, aku bisa melihat isi kamar dan jendela yang masih terbuka, angin sekilas menyapa kami, meniup beberapa helai rambut hitam panjangku. Sedangkan Rani dari tadi berdiri di belakang ku sambil menggenggam tanganku dengan kuat.
KREEEK
Pintu jendela berbunyi saat ku dorong sedikit. Memberikan aku ruang untuk melihat keadaan di luar rumah.
Sial! Rani tak berbohong, ada gadis yang berdiri di sana. Tapi kali ini aku hanya melihag punggungnya, aku ingin berteriak memanggilnya, namun sayang, lidahku kali ini terasa kelu.
"Dia berbalik," Rani menenggelamkan kepalanya di balik tanganku, benar! Hantu itu menoleh.
DEG
Wajahnya tak terlihat hanya satu matanya yang menonjol, rambut hitamnya menutup sebagia wajah gadis itu. Dan ada....
"Tunggu dulu! Rani itu pisau di lehernya?" Tanya ku pada Rani berusaha memastikan penglihatanku.
"Iya, Rani tadi juga lihat pisau itu," mendengar pernyataan Rani aku tertegun seketika.
__ADS_1
"Benar kata nenek, kita harus lebih waspada dan berhati-hati. Hampir saja aku melewati hantu itu. Kalau sampai aku tidak melihat hantu itu sampai sekarang aku takkan tau siapa dia," Rani menatapku tak mengerti.
"Itu S. Kakak yakin dengan pisau di lehernya, kita menemukannya!," Aku bersorak senang dan memeluk adik dengan penuh cinta