Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
36


__ADS_3

Sintia mencoba segala cara agar Rudi segera sadar. Sedangkan darah di pelipisnya sudah sedari tadi mengering.


"Bukan gitu kak," Rani mengambil alih posisi tempat Sintia duduk, dan berusaha membangunkan abangnya. Sintia yang di tegur hanya menjauh dan berharap mana tau gadis kecil ini bisa membangunkan Rudi.


Dengan hati-hati, Rani mengangkat kepala bagian bawah Rudi agar leher Rudi menjadi lurus. Dengan begitu peredaran darahnya menjadi lancar.


"Kak, angkat kedua kaki abang, sedikit lebih tinggi," Sintia yang tak tau apa yang di lakukan Rani hanya menurut saja.


Sedangkan Risa dan Ahmad berusah sekuat mungkin menahan tusuk itu agar tak lepas dari kaki Iblis. Karena semakin lama, tusuk rambut itu seperti terdorong untuk keluar dari dalam, yap, Iblis itu berusaha memberikan perlawanan.


"Bang, bang, bangun dong," Rani menepuk pundak Rudi pelan alih-alih menepuk pipinya, dan sekali-kali dia mengguncang si pemilik tubuh agar terbangun.


Tak beberapa lama, yang di panggil memberikan respon dengan kelopak mata yang mulai membuka.


"Dia sadar!," sintia berteriak kegirangan sambil melepas kaki Rudi yang dia angkat.


"Kenapa tidak dari tadi?" Celoteh Ahmad yang terkejut dengan cara Rani membangunkan Rudi.


"Dimana-mana kalau lagi panik mana ada yang kepikiran," jawab Risa dengan sedikit kesal karena tenaganya hampir terkuras habis.


"Duduk dulu," Rani mendudukkan Rudi yang baru saja sadar.


"Ran! Gak ada waktu buat santai, Rudi harus keluarin kuncinya dan tarik jiwa iblis itu," Sintia mulai putus asa, saat melihat Risa yang sudah mulai kelelahan, dan Ahmad yang sudah tak kalah pucatnya.


"Woi! Ngapain lo pegang tangan kakak gue?" Rudi yang baru sadar di suguhi pemandangan yang tak dia sukai.


Ahmad yang sudah berusaha sedari tadi menahan kecanggungan karena tak ada cara lain selain membantu Risa dengan posisi seperti ini, malah di tegur seperti itu secara tiba-tiba.


"Di depannya ada Iblis, mereka sedang berusaha buat bunuh iblis itu. Gimana auranya Ran?" Tanya Sintia pada Rani yang kembali tertegun saat tak sengaja menatap jasad Kelvin lagi.


"Auranya tak sebesar tadi kak," Entah harus bahagia atau sedih karena mereka hampir menang namun dengan satu korban. Rani benar-benar merasa serba salah.


Rudi yang tadi hanya fokus dengan kakaknya, baru sadar keberadaan Kelvin saat dia mulai mecoba berdiri. Belum utuh kakinya menopang tubuhnya, seketika malah kembali terduduk karena keterkejutan yang tidak dia sangka-sangka. Mata Rudi membulat, dalam sekejap matanya sudah berkaca-kaca dengan jantung yang tak berdetak dengan tenang.

__ADS_1


"Bang Kelvin!," Rudi berteriak dengan suara yang parau karena tangis yang tertahan.


"Bang...," Rani memanggil Rudi lirih .


Hati Rani yang masih belum tenang, kembali terlihat pilu, ini kali pertama Rani melihat Rudi dengan mata yang berkaca-kaca.


Dulu, waktu Rudi masih nakal dan membangkang, sering sekali pukulan dari ikat pinggang melayang  ke kaki serta punggungnya. Namun tidak sekali pun Rudi meneteskan air matanya.


Tapi, karena Kelvin, akhirnya air mata yang sombong itu menetes juga tanpa Rudi sadari.


"Dia kenapa Ran?" Tanya Rudi.


"Ceritanya panjang bang, yang penting sekarang kita harus lindungi kakak, jika kita lambat bisa jadi kak Risa akan menyusul bang Kelvin," Jelad Rani panik.


Karena aura yang tadi terasa akan menghilang, seakan-akan mulai terasa lagi.


"Gimana caranya aku bisa bantu mereka?" Rudi mengalihkan pandangannya dari Kelvin ke arah Rani.


"Kunci itu, kunci iblis dengan kunci itu," Rani menunjuk ke arah leher Rudi.


"Tapi aku gak bisa lihat iblisnya Ran," balas Rudi bingung.


"Aku bantuin, aku bakalan bantuin kamu buat lihat mereka, tapi ingat, jangan gegabah, dan tetap dengerin aku, oke Rud?" Jela Sintia lalu berdiri di depan Rudi.


"Oke, apa yang harus aku lakuin sekarang?"  Tanya Rudi.


"Berdiri di depanku, aku balalan coba buka mata batin lo," jawab Sintia.


Sesuai dengan perkataan Sintia, Rudi sudah berdiri tepat di depan Sintia.


Sintia mengangkat tangannya dan meletakkan telapak tangannya itu tepat di depan mata Kelvin.


"Pejamin mata lo, sampai aku suruh buka," Kelvin mengangguk sambil menutup kedua matanya.

__ADS_1


Tak beberapa lama Rudi merasakan ada yang panas di bola matanya, dia mengernyitkan kening menahan perih yang mulai terasa.


"Rud, buka," Sintia menurunkan tangannya dan membiarkan Rudi membuka matanya perlahan-lahan.


Ketika mata Rudi terbuka yang pertama kali dia lihat adalah seisi ruangan seperti di isi oleh kabut hitam dan yang paling pekat ada di depannya dengan makhluk bertubuh besar berdiri tepat di depan kakaknya dan Ahmad.


Sekarang terlihat jelas olehnya apa yang sedang di tusuk oleh kakaknya. Yaitu kaki si Iblis bertanduk itu.


"Rud, kamu tinggal mendekat ke sana, dan hati-hati, bisa saja iblis itu menyerang tiba-tiba. Aku sama Rani di sini bakalan ngontrol keadaan, Rani bakalan bantuin kamu buat tetap menjaga aura mu tidak terlalu di sadari Iblis itu. Karena sekarang dia sedang tidak bisa fokus dengan apa yang dia lihat karena menahan rasa sakit yang di beri tusuk rambut kak Risa. Tapi indra penciumannya masih kuat Rud, jadi Ran, tolong bantuin Rudi ya. Aku di sini bakalan berusaha menahan tenaga dia bila mana tauan tiba-tiba menyerang lo. Sekarang pergi ke sana dan tetap fokus dengan intruksiku," Rudi yang mendengar penjelasan panjang lebar itu mengangguk dengan mantap.


Rani pun demikian, dia mulai berusaha menghalau kabut hitam itu agar menjauh dari abangnya. Sedangkan Rudi sudah siap sedia berjalan dengan langkah cepat ke arah Risa dan Ahmad.


"Rudi?" Risa bisa melihat Rudi yang sudah mendekat.


"Kakak oke? muka kakak pucat banget, tahan ya, Aku akan tangkep iblis itu," Kata Rudi setelah tiba tepat di depan Risa.


"Kak Risa masih bisa?" Tanya Sintia dari jauh.


Entahlah, bukannya tidak mencoba, tapi sudah berulang kali Sintia mendekat ke sana untuk membantu Risa tapi tetap saja seperti ada energi yang mendorongnya setiap kali mendekat. Aneh, kenapa Rudi tidak? Mungkin karena bantuan Rani?


Jika pun Rani bisa membantunya juga mendekati iblis itu dan membantu yang lainnya, itu hanya akan memperburuk keadaan Rani sendiri. Dia tidak akan kuat menjaga dua orang sekaligus. Jadi Sintia memilih memberi tau dari jauh.


"Masih Sin, tapi kenapa dia tidak mati?" Tanya Risa dengan sedikit berteriak.


"karena tidak ada yang menariknya dengan paksa keluar dari tubuh gaibnya itu, sekarang ada Rudi, semua akan selesai, Bang Ahmad, tarik tusuk rambut iti sekuat mungkin dan Rudi segera tikam ulang lubang yang di buat tusuk rambut itu dengan kunci lo." Teriak Sintia yakin.


Iblis itu bukan tak paham bahasa mereka, dia sudah muak menahan sakit yang menjalar dari kakinya itu. Dengan sekuat yang dia bisa dia menarik kembali energi dalamnya.


"GAWAT!!!," Rani yang menyadari ketebalan auranya secara tiba-tiba berteriak ketakutan.


"CEPAT BANG!! DIA MULAI KUAT LAGI!," Rudi, Risa dan Ahmad menatap khawatir dan mulai berusaha menarik tusuk rambut Risa.


🐾🐾🐾🐾🐾

__ADS_1


episode berikutnya, tengah malam nanti....


__ADS_2