Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Mimpi


__ADS_3

POV AUTHOR


Risa dan Kelvin berpisah dari gerbang sekolah karena rumah mereka berbeda arah. Risa memilih untuk mampir ke taman dulu, ada yang ingin dia pastikan.


setelah hampir dua tahun taman ini ternyata tak mengalami banyak perubahan. Taman yang berada di ujung simpang jalan ke sekolah Risa ini sudah mulai ramai dengan para remaja yang datang sekedar hanya untuk nongkrong dan bernyanyi bersama teman-temannya. Risa tersenyum kecil saat melihat dua bocah kecil yang kira-kira berusia tujuh tahunan itu berlari di sekeliling pohon yang ada di tengah taman.


Pohon itu sekarang sudah di lengkapi tempat duduk yang mengelilingi batangnya yang besar, terlihat cantik dengan di tambah bunga-bunga berwarna kuning di sebelah kiri dan kanannya yang bersinar karena lampu penerang yang menyorot tepat mengenai bunga-bunga itu.


Kedua gadis itu tertawa bahagia berlari tanpa menghiraukan orang-orang di sekitarnya.


Mereka lucu.


Dengan gaun berwarna biru lembut setinggi lutut dan rambut yang tergerai sebahu di tambah jepit rambut yang berwarna senada dengan gaun mereka membuat kedua gadis itu terlihat tambah menggemaskan.


Tanpa menunggu, Risa berjalan ke arah kedua gadis itu. Entah kenapa, anak-anak itu memiliki aura yang menarik. Risa duduk di kursi yang melingkari pohon itu. Dia terus memperhatikan kedua bocah itu. Entah kenapa itu membuatnya tersenyum sendiri, anak-anak ini menyita perhatiannya.


"Kakak mau ikut main?" Salah satu gadis kecil itu berhenti tepat di depan Risa.


Suara imutnya membuat Risa semakin gemas olehnya.


Andai saja mama mau kasih aku satu adik perempuan lagi, pasti seru.


Risa menggeleng sambil tersenyum. Dia sadar diri, sudah cukup tua untuk bermain kejar-kejaran.


"Kakak sendirian? Tidak bawa teman?" Tanya salah satu anak yang lainnya.

__ADS_1


Dengan santai duduk di samping Risa, matanya berbinar sambil mengayun-ayunkan kaki kecilnya yang menggantung dari tempat duduk.


"Enggak, kakak cuman sendirian," jawab Risa seperlunya.


Bagaimana pun, Risa tak pandai banyak bicara, dia tak terbiasa berkomunikasi dengan orang yang baru dia kenal walau pun itu seorang anak-anak.


"Kasian, gak mau kami temenin?" Risa terperanjat kaget karena anak itu tiba-tiba menyentuh tangannya.


Hawa tangan anak itu begitu dingin, Risa otomatis menatap wajah anak kecil itu yang tersenyum sumbringah, seperti dapat mainan baru.


'Kenapa perasaan ku tidak enak?' Risa bergumam.


"Hey! Jangan bengong kalau lagi sendirian dek," Risa melirik ke arah sepasang suami istri yang melintas di depannya.


Bapak itu merespon dengan kening berkerut. Sedangkan wanita yang sepertinya adalah istri dari si bapak seperti menarik tangan bapak itu untuk menjauh dari Risa.


"Dia tidak waras, jelas-jelas sendirian tapi malah bilang tidak, ayo pergi saja," wanita itu bergidik ngeri saat kembali menatap Risa yang tersenyum ke arah mereka.


Risa yang masih tak menyadari kebodohannya hanya menghela nafas saja. Kenapa orang tua itu bilang dia sendirian? Risa mengangkat bahu tanda tak tahu dan tak peduli.


Sampai kesadaran menyentil otaknya yang lambat sekali menyerap keadaan.


"Apa anak-anak ini bukan manusia?" Pekik Risa dalam batinnya.


Dengan tanpa menimbulkan rasa curiga Risa perlahan berdiri dari tempat duduknya, dia berniat untuk segera pulang, karena jantungnya sudah mau copot sekarang.

__ADS_1


"Kakak mau kemana?"


Sial! Bocah kecil itu menarik ujung baju Risa, dan tak berniat melepaskannya saat Risa menarik bajunya kembali.


Bocah ini gigih!


"Kakak mau pulang, sudah larut, kalian juga pulang ya," Risa berusaha bertingkah sewajarnya, walau keringat sudah bercucuran di pelipis.


"Kakak bodoh ya? Hantu tidak takut kata larut. Tidak perlu suruh kami pulang, kami masih mau main. Dadah kakak," Risa tertegun seketika.


Anak ini mengakui dirinya hantu?


Dengan perlahan, Risa memberanikan diri untuk menatap kedua gadis kecil itu. Wajah mereka perlahan terlihat pucat dengan baju yang berubah menjadi begitu lusuh berwarna kecoklatan. Rambut mereka masih rapi dan wajah itu masih dengan senyum hangatnya.


Risa masih dengan ketakjubannya, ternyata ada hantu yang tak mengganggu dan menakutkan seperti mereka. Tanpa ragu, Risa membalas lambaian tangan kedua gadis itu. Tanda ucapan selamat berpisah.


"Sering-sering datang kemari ya kak," Risa hanya bisa mengangguk setuju.


Dia tak berani menggeleng, takut membuat kedua gadis kecil itu kecewa. Padahal di dalam hati Risa sudah ada niat untuk tak kembali ke taman itu. Bagaimana pun mereka tetap hantu, harus punya jarak dan jangan terikat.


Tapi siapa yang tau, suatu saat Risa pasti akan kembali ke taman itu, karena suatu alasan yang takkan bisa dia tolak.


Kedua gadis itu berjalan mundur saat melihat tusuk sanggul yang di pakai Risa mengeluarkan sinar merah.


"Kakak ini bukan orang sembarangan,' Pikir kedua hantu itu.

__ADS_1


__ADS_2