Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
45


__ADS_3

"Hallo nda?" Suara Nathan akhirnya tersambung dengan Linda. Dia benar-benar menelpon temannya itu.


Tanpa tau, adegan apa yang akan terjadi selanjutnya jika saja Linda benar-benar datang ke rumah itu.


"Nathan? Loh... tumben Nelfon, Ada apa hm?" Tanya Linda balik.


"Hm... Nda, kamu bisa ke rumah ku gak? Kakak perempuan aku ngundang buat makan bareng," Nathan berusaha menghilangkan ke gugupannya.


Dia berusaha sesantai mungkin, dan terus menyingkirkan pikiran negatif terhadap kakaknya, apa yang terjadi pada Naell, mungkin itu hanya sebuah kecelakaan.


"Aduh.. gimana ya Nath, Orang tua aku lagi gak di rumah, apa boleh keluar nanti malam ya?" Linda bingung, jika keluar tanpa memita izin orang tuanya terlebih dahulu.


"Sebentar kok Nda, gak lama, mau ya? Tumbenan loh kakak aku mau makan bareng sama orang lain. Sama kami aja kadang jarang banget.


"Nathan tiba-tiba kaget, melihat kakak perempuannya yang sudah berdiri di ambang pintu, dengan tangan kanan menggenggam tangkai cangkul.


Tubuh kerdil kakaknya yang tak bisa bertumbuh besar itu sama sekali tidak membuatnya terlihat kecil dan imut. Melainkan, begitu mengerikan, senyum yang sepertinya memiliki maksud terselubung membuat bulu kuduk Nathan berdiri.


"Please Nda, mau ya?" Nathan merendahkan suaranya, dia benar-benar ketakutan sekarang, kakinya saja tak mau berhenti menggigil.

__ADS_1


" Hmm.. oke deh, tapi sebentar ya? Nanti jam tujuh aku ke sana," mendengar suara Nathan yang memohon, Linda pun mau tak mau, tak bisa menolak.


"Oke.. makasih ya Nda, aku tunggu," Nathan memutus sambungan telpon mereka.


Setelah meletakkan handphonenya, dia menatap ke arah kakaknya yang ternyata sudah tak ada lagi di ambang pintu kamarnya.


"Kok kakak tiba-tiba mau ketemu Linda ya? Dan bang Naell, mukanya kenapa? Ck... ngapain aku mikirin anak kesayangan mami itu," Nathan berjalan ke arah pintu berniat menutup pintu kamarnya. Kembali belajar agar tak terlalu ketinggalan dengan Naell, anak pintar yang Nathan yakini takkan bisa dia ungguli.


"Nathan, Aku mau ngomong," Naell menahan pintu kamar Nathan dengan telapak tangan kirinya yang benar-benar persis dengan tangan Nathan.


"Mau ngomong apa? Gak usah deh, nanti waktu belajar abang jadi kekurang gara-gara ngobrol sama aku dulu, belajar sana gih, aku gak mau ngomong," Nathan mendorong tangan Naell yang memegang pintu itu cukup kuat.


"Haish!!!" Naell menarik rambutnya dengan keras, dia memukul pintu kamar Nathan agak sedikit kuat


Mukanya memerah menahan amarah yang tak tau kemana mau dia lepaskan. Naell bahkan tak bisa berteriak memanggil Nathan, karena itu hanya akan mengundang amarah kakaknya berkali-kali lipat.


Dia terduduk tepat di depan pintu kamar Nathan, Naell menggigit bibirnya menahan tangis yang tak boleh keluar itu. Bagaimana jika apa yang di katakan kakaknya benar-benar di lakukan? Bagaimana jika kakaknya benar-benar akan menyakiti adiknya? Naell tak bisa membayangkan itu, dia takut kakaknya akan menjadi nekat.


Di sisi lain, ke empat orang yang sedang menonton itu tak kalah ikut merasakam kecemasan yang di rasakan Naell.

__ADS_1


"Kau tau tentang kejadian ini?" Tanya Risa kepada David.


"Enggak, aku gak tau, tapi kalau Naell tidak dalam ke kacauan seperti ini, aku mungkin tak akan bisa menguasai dirinya malam ini. Syukurlah, aku juga menyayangi Nathan dan menganggap dia seperti adikku sendiri, tapi tidak dengan kedua orang tua Nathan dan kakaknya itu. Aku tak menyukai mereka, sudah sejak lama aku ingin melakukan seperti apa yang aku lakukan malam itu," jawaban David agak terdengar sedikit ambigu di telinga Risa dan Sintia.


Sedangkan Cika yang tak paham memilih untuk mendengarkan dulu.


"Maksud kamu 'malam itu' adalah malam ini?" Tanya Sintia agar lebih jelas.


David mengangguk tanda benar.


"Apa memangnya yang kamu lakukan malam ini?" Risa juga bertanya untuk memperjelas.


"Aku akan kasih hm... kalian bocoran, yang pasti apa yang aku lakukan malam ini adalah hal yang tak akan pernah di lakukan seorang Naell, dan malam ini semuanya berakhir, dan kebebasan kakak kami juga tiba," David mengedipkan satu matanya dengan senyum yang di buat semanis mungkin.


Risa yang langsung berfikir ke arah negatif langsung membulatkan matanya, tapi kemudian mencoba menepiskan pandangan itu lagi, muka Risa pucat, dia takut apa yang dia fikirkan ini adalah kebenaran, lalu bagaimana cara menyelesaikannya jika kesimpulan yang dia simpan sendiri ini menjadi kenyataan atau kata lainnya adalah kebenaran yang sesungguhnya?.


"Kamu mikirin apa Sa?" David menepuk pundak Risa, membuyarkan lamunan gadis itu.


"Apa hari ini, semua akan mati Vid?" Tanya Risa sambil menatap bola mata hitam cowok itu dengan tatapan mengintimidasi.

__ADS_1


"Kita tunggu saja nanti Risa," Tak ada jawaban yang bisa membuat ke tiga orang itu puas.


__ADS_2