
Gadis ini sudah banyak belajar dari semua masalah yang menimpanya. Gadis ini lebih dewasa dari pada usianya. Itulah pikir Sherly.
"Sombong kau bocah," S terbang menjauh, membuat semua orang semakin takjub dengan Rani.
Seharusnya S tadi sudah mencekik atau setidaknya membentak Rani, tapi S bahkan tak menyentuh sehelai rambut Rani. Ada sisi luar biasa dari gadis ini.
🐾🐾🐾🐾
Sesuai dengan rencana. Semuanya sudah siap untuk kembali ke rumah itu. Sherly berada di depan sebagai penuntun jalan, sedangkan S melindungi mereka dari belakang. Sesuai dengan permintaan Denis. Selama perjalanan, Risa,Rani dan Rudi harus berada di tengah. Sehingga posisi sekarang, Dimas di belakang Sherly, lalu di belakang Dimas ada Risa, Rani, Rudi, Lalu Cika kemudia Denis dan Kelvin barulah S.
Masing-masing membawa senjata, barang apa saja yang bisa membantu mereka telah berubah alih menjadi senjata dadakan. Denis, Dimas dan Kelvin sudah memegang masing-masing kayu yang mereka temukan di jalan. Selebihnya membawa batu, entah untuk apa. Kalau kata Rani, sebagai senjata saat terdesak nanti.
Hanya Risa yang menggunakan senjata yang benar, tanpa di rekayasa atau bohongan.
__ADS_1
"Kita sampai," Sherlh menghentikan langkahnya.
Semua mata tertuju kepada rumah yang masih seperti dulu. Lampu kuning remang-remang menerangi rumah pembawa petaka itu. Dimas dan Risa bahkan sudah hafal isi rumah itu serta ruangan rahasianya.
"Auranya gak enak," Denis mengusap tengkuknya, belum juga masuk, Denis sudah merinding.
"Kalian mencium bau amis? Ish... baunya pekat banget tau ," Cika menutup hidungnya berharap bau busuk itu menjauh darinya.
Semuanya hanya bisa menghela nafas berat, Denis dan Cika sudah di ganggu bahkan sebelum masuk.
"Fokus kak, pokoknya pikiran kakak jangan sampai kosong, ingat Tuhan, oke?" Rani tak berhenti untuk terus msngingatkan mereka tentang keberadaan Tuhan.
Semuanya hanya mengangguk setuju, tanpa ada niatan bicara.
"Hmm.. kalian sudah siap?" Tanya Sherly setelah berhasil menangkap wajah pucat dari sekelompok manusia ini.
__ADS_1
Sherly sangat tau, mereka pasti takut mati, siapa coba yang gak takut mati? Tapi bagaimana pun permainan sudah di mulai saat mereka masuk, maka caranya mereka keluar adalah menyelesaikan permainan ini!.
Tak bisa bernegosiasi, masuk begitu mudah tapi keluar sama sekali tidak gampang, kali ini mereka hanya bisa bergantung dengan kekompakan dan Rani.
Rani adalah inti dari sebuah kemenangan yang ingin mereka raih. Siapa yang menyangka bocah hebat ini mempunyai nenek yang menjijikkan seperti Kintan. Hah... Ini karena cinta. Karena cinta butanya Kintan.
Membuat dia menjadi budak dalam jebakan cintanya pada Tarjo.
"Kak Risa sama bang Dimas pernah di rumah inikan? Kalian pasti hafal ruangannya kan?" Tanya Rani penuh harap.
Sekarang mereka bersembunyi di balik pohon besar yang cukup jauh dari rumah itu.
"Iya, ruangannya tidak banyak, hanya ada satu dapur, satu kamar mandi, dan tiga Kamar tidur." kata Dimas sambil mengingat-ingat.
"Dan ada satu ruangan lagi, di kamar nenek, ada sebuah lemari, yang sebenarnya itu adalah pintu menuju ruang bawah tanah. Di situ aku menemukan dua mayat," kata Risa dengan yakin.
__ADS_1
"Dan kedua mayat itu adalah kami," Sherly tidak di tanya, tapi mau menjawab dengan suka rela.