Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Kunci kompas


__ADS_3

Risa bergidik ngeri membayangkan rasa sakit yang nanti akan dia rasakan. Haruskah menolong hantu ini? Jika tidak maka kunci itu takkan pernah bisa jatuh ke tangan Rudi. Suasana hening, orang tua mereka belum pulang. Sehingga hanya ada Rudi yang telat bangun dan Risa yang masih di pegangi hantu itu.


"Bantulah aku, aku mohon. Jangan buat aku hidup di dunia ini sendirian terlalu lama," jawab hantu itu.


"Siapa yang mengunci mu?" Tanya Risa dengan hati-hati.


Hantu itu langsung tersenyum, senyuman yang benar-benar tercipta dengan tak ikhlas, Perlahan, hantu itu langsung melepaskan pegangannya di tangan Risa, seperti ada yang ingin di sampaikannya tapi hantu itu masih saja diam.


"Kau mau menjawab atau tidak?" Kali ini yang bertanya adalah Rudi dengan nada mendesak yang tak bersahabat.

__ADS_1


"Rudi!," Risa benar-benar tak habis fikir dengan apa yang di lakukan adiknya sedari tadi.


Tingkahnya yang blak-blakan benar-benar membuat Risa tak nyaman. Tak pernah seperti ini biasanya. Adiknya itu dulu masih punya sopan santun, tau kapan harus berbicara dengan baik. Tau apa yang harus di lakukan dan apa yang harus di biarkan. Namun kali ini, Rudi benar-benar berbeda dari dirinya yang dulu.


Dengan miris Risa menatap ke arah kunci kompas yang masih nyaman bergantung di mata hantu itu, ada darah yang membasahinya, warna kuning dari kunci itu sudah di lumuri darah yang tak pernah mengering selama ini. Apakah adiknya masih berhak menerima kunci itu? Dia takut jika kunci itu jatuh ke tangan adiknya maka akan di salah gunakan karena tingkahnya yang tak lagi bertanggung jawab.


Rudi, kenapa dia berubah? Apa yang dia lakukan? Apakah ini salah satu cara dia memberontak? Tapi memberontak untuk apa?. Risa tak tau masalah apa yang terjadi pada adik laki-lakinya ini. Rudi tak pernah mau cerita dengannya. Mereka jarang sekali mengobrol berdua, selalu sibuk dengan kehidupan masing-masing.


Mendengar pertanyaan Risa, hantu itu langsung menundukkan kepalanya, dia seperti mengaku kalah dan pasrah. Risa dan Rudi mengerutkan keningnya tak paham.

__ADS_1


"Selama kamu tidak menjawab maka selama itu juga aku takkan mau membantumu!," Keputusan Risa sudah di sampaikan, dan hantu itu tak juga bergeming.


'Apakah dia pasrah?' Risa menghela nafasnya, dan memilih untuk kembali ke kamar dan melupakan dulu masalah hantu ini.


"Kakak ke kamar dulu, capek," Kata Risa kepada Rudi yang sudah siap-siap meninggalkan rumah dan berangkat sekolah walau sudah terlambat.


"Iya, aku pergi dulu kak, jangan bukain pintu untuk orang asing, oke?" Risa hanya mengangguk.


Ada satu hal yang belum berubah dari adiknya itu, sifat pedulinya. Sifatnya yang diam-diam selalu bertingkah menjaga Risa dan Rani. Setidaknya dia tidak lupa bahwa dia punya tanggung jawab untuk menjaga kedua saudarinya sebagai seorang anak laki-laki.

__ADS_1


Rudi berlalu dan Risa juga memilih untuk tidur, sedangkan hantu itu tetap diam di samping pintu kamar Rudi. Entah sampai kapan dia akan ada di situ, mungkinkah dia akan di sana sampai Risa mau membebaskannya? Jadi apa selama itu Risa akan terus melihat keadaan mengerikan gadis itu setiap harinya?


Ck... tak bagus untuk Risa, Rudi dan Rani.


__ADS_2