Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Perlawanan Rani


__ADS_3

"Ma, Rani lapar," Itu kata yang keluar duluan di mulut Rani.


Perutnya lebih penting sekarang. Urusan raksasa itu nanti di bicarakan.


"Ya keluar dong dek, makan," saut mama yang juga ikut berteriak agar si bungsu mendengar suaranya.


"Rani malas keluar, mama antar ke kamar Rani ya?" Pinta Si bungsu Rani.


"Hah... iya deh, tunggu bentar ya dek," Rani bersorak ria di dalam hatinya, akhirnya dia bisa makan juga. Kenaoa gak kepikiran dari tadi sih suruh mama ngantarin makanan ke kamar?


🌱🌱🌱🌱


Rani kira dengan dia berdiam diri di kamar untuk beberapa waktu, raksasa itu akan pergi. Namun harap tinggal sebuah harapan, raksasa itu tak bergeming dari tempatnya walau hanya seinci. Ini benar-benar membuat Rani jengkel. Dia berguling-guling tak jelas di atas kasurnya. Panas, Rani mau keluar.


Di tambah lagi, di pojok sebelah kiri ada orang yang memandangi Rani. Tidak masalah jika dia hanya berdiri diam di sana. Tapi masalahnya, dia terus menyeringai membiarkan darah terus mengalir dari kepalanya. Ada pisau di tangannya, dan pisau itu terus dia gosokkan ke pergelalangan tangannya. Rani ngilu, tidak ada darah yang mengalir di tangan itu. Tapi Rani bisa mendengar suara pisau yang berdecit beradu dengan tulangnya. Dia raih handphone di dalam laci meja, dengan tanpa akhlaknya dia memutar musik dengan speaker kecil yang tersambung dengan bluetooth.


"Rani! Jangan putar musik keras-keras," seperti dugaan Rani, mama pasti akan berteriak padanya.


Tapi Rani tak peduli, setidaknya suara decitan tulang dengan pisau itu bisa tersamarkan. Namun hanya suaranya yang bisa Rani redam, sedangkan gadis kecil itu tak juga mau menghilang. Sepertinya dia ikut menikmati alunan musik yang Rani putar.

__ADS_1


Menyedihkan!


Khii Khii Khii...


"Ya ampun..... Apa ada yang lucu? Kenapa dia tertawa?" Ini masalahnya. Suara gadis itu lebih melengking dari pada musik yang dia putar.


ME-MU-AK-KAN.......


SYUT...


Kan anak kecil ini memang menjengkelkan, sekarang dia terbang dan berdiri tepat di sampingku. Suara decitan pisau dengan tulang yang tadi telah redam kini terdengar lagi.


"HENTIKAAAN!!!," Rani tak tahan lagi, dia berteriak sampai pita suaranya terasa sakit.


Anak kecil itu langsung menggesekkan mata pisau itu dengan perlahan, sehingga tercipta bunyi yang panjang. Lalu berhenti.


Rani membuka matanya, akhirnya suara yang membuat ngilu itu berhenti.


"Kedatanganmu mengganggu," suaranya lirih, persis seperti orang yang sedang berbisik.

__ADS_1


"Raksasa itu berani melewati batasnya. Hanya untuk membunuhmu, ini semua karenamu!!!," Tangan yang hampir putus karena terus di sayat oleh hantu itu langsung beralih menarik rambut Rani.


Hantu ini sama ganasnya dengan Sherly!


"Apa maksudmu? Lepaskan Rambutku, sakit!!!," Suara lengkingan Rani hampir menyamai suara lengkingan bocah kecil ini.


"Tidak akan! Sampai kau mengusirnya dari sini!," jawab anak kecil itu tak mau kalah.


"Bagaimana cara aku mengusirnya? Kau kira aku dukun?? Hey ayolah, aku hanya anak kecil yang kebetulan bisa melihat kalian" Rani mulai jengah.


Air mata mulai merembas dari matanya, rasanya rambut Rani tercabut dari kepala bersama kulit kepalanya.


Bocah ini kuat!


"Jangan jadi pecundang dong! Kau yang membuat dia kemari, jadi harus kau juga yang mengusirnya," kini hantu itu menunjukkan muka pucat itu kepada Rani.


"Menjauh dari ku! Kau amis!"


Tentu saja amis, darah sudah membasahi kepala bocah itu, pastinya bau darah sudah menjadi sampo sekaligus bedak buat wajahnya.

__ADS_1


Melihat wajah Rani yang memelas kesakitan, hantu itu langsung melepaskan tangan nya yang hampir putus itu dari rambut Rani. Memang tangannya hampir putus, tapi kekuatannya luar biasa, lihatlah, rambut Rani menempel di tangannya beberapa helai. Rani kesal melihat itu.


Padahal aku sudah bersusah payah memanjangkan rambutku! Dia seenaknya saja menjambak, dasar hantu jahat!


__ADS_2