Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Akhir dari semuanya


__ADS_3

Seperti sesuai rencana. Semua sudah siap pada posisi mereka masing-masing, Kelvin mendorong pintu utama dengan sangat hati-hati, tapi sial, namanya juga pintu tua, pasti akan meninbulkan bunyi. Semua mata saling menatap saat suara pintu berdecit itu menyapa. Keringat sudah membasahi baju mereka sekarang. Wajah panik sudah sempurna terlukis. Tapi tak ada kata mundur lagi, mereka sudah melangkah sejauh ini, mundur hanya akan memperlambat waktu saja.


Karena tak ada pilihan lain, dengan perlahan Kelvin kembali mendorong pintu itu. Mereka pasrah saat mendengar suara pintu itu semakin kuat saat di dorong.


Pintu sekarang sudah sempurna terbuka, tak ada tanda-tanda nenek mengetahui ke beradaan mereka. Tapi pemandangan saat ini sempurna membuat kaget Risa, kaki Risa sendiri yang terhenti di saat semuanya sudah berjalan beberapa langkah.


"Sa, kenapa?" Cika memegang tangan Risa, khwatir dengan Risa yang tiba-tiba berhenti.


"Rumah ini tidak seperti ini dulu, " Risa menggeleng kuat, tanda bahwa rumah ini tak sama dengan apa yang ada di ingatannya.


"Ada apa? Rumahnya kayak biasa aja kok," kata Denis dengan berbisik.


Takut nanti kalau Kintan bangun. Cuman Kelvin sendiri yang tak peduli dengan percakapan itu dan memilih untuk mencari kamar Kintan.


"Kalian tak lihat? Rumah ini seperti sudah di tinggalkan oleh penghuninya puluhan tahun! Sangat kotor." mendengar penuturan Risa, Cika dan Denis saling pandang tak mengerti.


Di mata mereka semuanya terlihat baik-baik saja. Tak ada yang kotor, atau mungkin penglihatan Risa sudah bermasalah? Karena lama tinggal di hutan ini? Ah aneh! Apa hubungannya penglihatan aneh Risa dengab tempat ini!.


"Aku ingat! usap kalung ini, kalian akan lihat kebenarannya," Risa menyodorkan kalung pemberian Sherly padanya waktu pertama kali sampai di sini.


Dia berharap setelah mengusap kalung ini, mereka akan percaya dengan perkataan Risa.


"Apa yang kalian lakukan? Jangan memperlambat waktu! Ingat rencana awal kita!," Kelvin mulai jengah dengan tingkah ketiga orang ini yang santai dari tadi.

__ADS_1


Padahal nyawa mereka sedang dalam taruhan saat ini. Sedikit saja lambat, nyawa mereka akan melayang lalu kemudian akan sederat dengan Sherly dan S.


"Maaf," kata mereka bertiga serentak.


Risa memasukkan kalung merpati itu ke dalam sakunya lagi, tak jadi membuktikan penglihatannya saat ini kepada Cika dan Denis.


"Dimana kamarnya Risa?" Tanya Kelvin sambil kembali menjelajahi ruangan itu.


"Disini," kata Risa sambil berjalan ke arah pintu sebuah ruangan yang letaknya tak jauh dari pintu utama.


"Kita periksa dulu, apa nenek itu ada di dalam atau tidak, kalau sudah pasti dia ada di dalam, Risa langsung ke pintu belakang membuka pintu untuk Dimas dan yang lainnya, sedangkangkan Cika, Denis dan aku, tetap di sini berjaga-jaga," jelas Kelvin yang di mengerti ke tiga orang itu.


Seperti tadi, Kelvin yang berani mendorong pintu itu. Dan sesuai dugaan mereka pintu itu kembali berdecit!.


Semua seakan-akan menahan nafas mereka. Takut kalau nenek itu terbangun, Kelvin tak berani lagi mendorong pintu kamar, dia tak mau mengambil resiko jika nenek itu bangun, akan sangat berbahaya buat yang lainnya.


Kelvin bernafas lega, ada orang tidur di situ. Dan dia yakin itu pasti nenek Kintan.


"Dia ada di dalam, Sa, cepat buka pintu belakang, kami akan berjaga di sini. Langsung cari keberadaan mayatnya Tarjo," Kelvin menyuruh Risa yang dari tadi masih asik bengong memperhatikan keadaan rumah yang tak biasa ini.


"Sa? Kamu dengar gak?" Tanya Kelvin lagi, tapi kali ini di sertai tepukan halus ke bahu gadis itu.


"Ah iya, aku pergi dulu," tanpa mempedulikan wajah Kelvin yang bingung Risa berjalan dengan cepat ke arah pintu belakang dengan hati-hati. Jangan sampai meninbulkan suara.

__ADS_1


"Hey," Risa memanggil ke tiga orang yang terduduk di belakang rumah.


Sepertinya mereka sudah mulai bosan menunggu di sana.


"Lamanya kak," geruru Rudi sambil membersihkan pinggulnya yang kotor karena duduk di atas tanah.


"Maaf ya, lama, ya udah cepat masuk," Risa meraih tangan Rani yang paling dekat dengan pintu.


Dia menarik adiknya masuk, karena pintu belakang sedikit lebih tinggi dari tanah, dia harus membantu adiknya itu naik ke atas.


Setelah mereka semua masuk, Dimas dan Rani terkejut dengan pemandangan yang mereka temui kecuali Rudi yang tak tau.


"Kalian lihat keadaan rumah yang sekarang juga?" Tanya Risa saat mendapati wajah bingung dari kedua orang itu.


"Perasaan rumahnya dulu gak kayak gini deh Sa," jawab Dimas yang masih dengan keheranannya.


"Berantakan banget, kayak udah lama di tinggalin penunggunya," saut Rani yang mulai berjalan melihat-lihat.


"hah... aku fikir aku doang yang lihat," jawab Risa sambil menyusul Rani.


Dan menarik tangannya agar berhenti.


"Kamu mau kemana dek?" Tanya Risa kepada Rani.

__ADS_1


"Kita harus cepat kak, sebentar lagi, semuanya akan berakhir, waktu kita gak banyak,"


Risa menghela nafasnya, adiknya ini sangat mirip dengan Kelvin, terlalu serius dan fokus.


__ADS_2