Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Rencana Penyelamatan Diri


__ADS_3

***Maaf sebelumnya tidak update, belakangan ini ada beberapa masalah. Jadi baru sekarang bisa di up, terima kasih sudah mau menunggu karyaku. Sayang kalian๐Ÿ˜.


Oh ya sebelumnya aku juga mau berterimakasih atas dukungannya, lalu kritik saran dari kalian. Itu semua sangat membantu bagiku yang baru belajar ini.


Mari menunggu kelanjutan ceritanya,jangan bosan mampir ya.....


Oh ya mari kita berteman follow ig ku ya, nanti aku follback @sapitrielmi*** .


๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ


Aku terbangun dari tidur, setelah merasakan bahwa orang yang tidur di samping ku lenyap. Kemana lagi cewek itu? Apa dia tak bosan membuat orang terus mengkhawatirkannya? Aku mengacak rambutku yang memang sudah berantakan. Pengen sih nyisir rambut, tapi sekarang keberadaan Ocha lebih penting.


Aku takut mana tau dia mengigau sambil berjalan tadi malam, dan keluar dari tenda, lalu kemudian di terkam binatang buas. Kan gak lucu kalau nanti kami bertemu dengan bangkainya. Aku belum siap untuk melihat bangkai lagi. Itu sangat mengerikan.


"Cha... itu kamu kan?" Aku melihatnya berdiri tidak jauh dari bekas api unggun tadi malam.


Dia berdiri menatap ke depan, entah apa yang dia lihat. Di tambah lagi dia tak membalas panggilanku, apa dia tiba-tiba tuli?. Ah... tidak mungkin.


"Ocha, kamu sakit? Kok diam aja sih?" Aku memegang pundaknya dari belakang.


Namun hasilnya tetap sama, si pemilik pundak itu tetap diam seperti sudah di lem saja mulutnya. Apa jangan-jangan dia melihat hantu?

__ADS_1


Aku langsung mengikuti arah pandangan Ocha dan hasilnya hanya pohon besar, yang daunnya bergoyang-goyang di tiup angin. Tidak ada sesuatu yang menarik di situ.


"Cha... woi, kamu kenapa sih? jangan diam aja?"


Tangan ku melayang memukul pundaknya, berharap dia marah dan mencerocos seperti biasanya. Jujur aku lebih jengkel melihat gadis cerewet ini tiba-tiba diam. Tidak seperti biasanya.


Aku menatap wajahnya, mata hitam itu terlihat kosong, dia melamun? Tapi seharusnya dia kaget kalau cuman sekedar melamun? Mataku mulai memperhatikan seluruh wajahnya dan aku menemukan kulitnya yang lebih putih dari biasanya.


Dengan refleks tanganku langsung menyentuh kedua pipinya, dingin, itu yang tanganku rasakan.


"Cha, kamu sakit? Kok kulitmu pucat gini?" Kali ini aku panik, pemilik kulit pucat itu lantas membalas tatapan mataku, entah kenapa matanya terlihat sangat sendu. Ada apa dengan gadis ini?


"Aku baik-baik saja Risa, lepaskan tanganmu," dia langsung menurunkan tanganku yang menempel di pipinya.


"Tapi badan kamu dingin banget Cha," aku mencoba meraih tangannya. Namun keburu di tepis.


"Mungkin karena cuaca di sini dingin, makanya tubuhku terasa dingin," jelas Ocha.


Aku hanya mengangguk dengan kebingungan. Ingin menjawab kata-katanya tapi ini bukan waktu yang tepat. Ocha benar-benar kelelahan, lebih baik diam, dan memberikan waktu perempuan ini untuk sendirian.


"Kalian udah bangun?" Aku menoleh ke belakang, ke arah asal suara itu. Dia Dimas, keluar dari tenda, di susul oleh Kelvin.

__ADS_1


"hmm, Rudi masih tidur?" Tebakku, yang tak melihat adikku ikut keluar bersama mereka.


"Iya, dia kayaknya nyenyak banget," Kelvin tersenyum tipis.


"Loh? Ocha kamu sakit? Muka mu pucat," Dimas mendekat ke arah kami, tepatnya ke arah Ocha.


Ternyata mataku tak salah, warna kulit Ocha memang lebih putih dari biasanya.


"Aku baik-baik aja Mas, gak usah berlebihan," suara itu datar dan ada aura dingin di sana.


Tidak seperti Ocha yang biasanya, kalau bicara dengan Dimas dia pasti memasang senyum manis dan tak pernah memasang muka datar seperti itu. Kalau pun sedang marah, Ocha pasti akan menyempatkan diri merengek kepada Dimas. Di tambah lagi, dia tadi tidak marah saat aku memukul pundaknya dan menyentuh pipinya. Apa sifat seseorang bisa berubah dalam kurun waktu semalam?


"Sa, kamu tidak menyisir rambut? Lihat kayak singa," Kelvin mengangkat rambutku yang sudah seperti benang kusut itu.


"Hehehe, aku lupa," mendengar itu Kelvin segera masuk ke tendanya.


Tak lama dia pun keluar dan membawakan sisir.


"Aku yang sisir atau kamu sendiri?" Dia sepertinya tak suka melihat aku kacau begini.


"Aku bisa sendiri kok Vin," aku mengambil sisir itu dengan kesal. Dia selalu seperti itu. Perhatiannya lebih dari pada ibuku. Itulah kenapa ibu tidak masalah jika aku berteman dengan Kelvin, karena entah kenapa kalau Kelvin sudah mengeluarkan perintah aku tak bisa menolak.

__ADS_1


"Kalau di biarkan terus kusut, nanti rambut kamu jadi susah di sisir, ujung-ujungnya makin banyak yang rontok," jelasnya padaku yang sedang berusaha menyisir rambut yang sekarang sudah menjelma seperti sarang burung.


__ADS_2