Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
41


__ADS_3

Risa menatap sekeliling rumahnya, dia menghela nafasnya pelan, tak ada siapa-siapa, lagi-lagi semuanya sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Risa melangkahkan kakinya menuju kamarnya, sekilas dia menatap ke arah pintu kamar Rudi, saat ingin membuka pintu kamarnya, dia merasa ada sesuatu yang aneh dari kamar adik laki-lakinya itu.


Dia tak jadi membuka pintu kamarnya, melainkan dia kembali berjalan dengan tujuan ke kamar adik laki-lakinya itu.


"Tumben pintunya gak di tutup," Kata Risa lalu berniat menarik pintu itu agar tertutup sempurna. Tapi tangannya terhenti lagi saat melihat sesuatu dari sela pintu yang terbuka.


"Kuncinya Rudi kenapa kayak makin gelap gini?" Tanya Risa entah kepada siapa.


Kali ini dia sudah berada di dalam kamar Rudi. Dia berniat memegang kunci itu karena penasaran, tapi saat di sentuh Risa berteriak kecil karena kaget.


"Panas," Seperti memegang kuali yang sedang berisi minyak panas di atas kompor, kunci itu terasa panas dan cukup membuat jarinya melepuh.


"Ck..." Risa keluar dan berjalan menuju wastafel di kamar mandi, meninggalkan pintu kamar Rudi yang tak di tutup kembali.


Tanpa Risa sadari kunci itu bergetar beberapa kali, lalu kemudian kembali diam, tak bergerak sama sekali.


"Kak?" Rudi melihat Risa yang keluar dari kamar mandi dengan memegang telunjuknya yang tadi terkena kunci Rudi.


"Eh Rud, darimana?" Tanya Risa sambil mengipasi jarinya.


"Habis cari angin kak," jawab Rudi lalu menatap tangan kakaknya yang memerah.


"Angin kok di cari, nih, di giniin aja udah ada angin kan?" Risa mengibasi tangannya di depan wajah Rudi seakan-akan sedang mengipas.


"Ck... gak gitu maksudnya kak, tuh tangan kakak kenapa?" Rudi mengalihkan pembicaraannya kepada tangan Risa yang sudah memerah itu.


"Gini, tadi kakak lihat pintu kamar kamu ke buka, jadi kakak mau tutup pintunya, tapi tiba-tiba, kakak melihat ada yang aneh sama kunci kamu dek, tiba-tiba warnanya makin gelap dan pas di pegang rasanya panas, makanya tangan kakak melepuh," Akhir kata Risa menunjuk ke arah tangannya yang sudah di siram air dingin di wastafel tadi.


"Masa sih? coba aku lihat dulu," Kata Rudi lalu berjalan ke arah kamarnya di susul Risa yang masih mengipasi tangannya yang masih berdenyut.


Rudi memasuki kamarnya yang tidak tertutup itu. Dia berjalan ke arah meja belajarnya dimana kunci itu terletak.


"Loh, warnanya emang makin hitam kak," jawab Rudi ikut heran.

__ADS_1


"Nah benerkan," jawab Risa.


"coba aku pegang," sebelum tangan Rudi memegang Kunci itu Risa mencegah adiknya.


"Jangan, nanti tangan kamu kayak kakak," tegah Risa khawatir.


"Makanya hati-hati, jangan di pegang lama," jawab Rudi bersikeras.


Rudi tak mengindahkan cegahan kakaknya dia malah memegang kunci itu.


"Eh, gak panas kok kak," kata Rudi setelah memegang kuncinya sedikit lalu menarik tangannya.


Menyadari kuncinya tidak panas, dia akhirnya mengangkat kunci itu dari meja.


"Masa sih?" Risa mengerutkan keningnya heran. Lalu kenapa pas dia pegang terasa panas?


"Aneh," celoteh Risa,lalu berlalu keluar dari kamar Rudi tanpa mengindahkan panggilan adiknya itu.


"Panasnya dimana sih?" Rudi pun ikut-ikutan berbicara sendiri.


🐾🐾🐾🐾


Risa mengambil handphonenya, entah kenapa dia mulai rindu dengan benda petak kecil yang canggih ini. Sudah cukup lama dia tak memegang handphonenya semenjak duka yang melanda dirinya.


dengan gabut dia mengecek nomor handphone teman-teman di hpnya, berniat memghapus nomor mana yang tidak aktif. Namun kemudian tangannya terhenti teringat ada sesuatu hal yang ingin dia simpulkan.


Bergegas Risa meraih pulpen di dalam laci mejanya dan salah satu buku binder berwarna biru langit dengan gambar barbie. Benar-benar selera yang aneh untuk anak seusia Risa.


Dia mencatat apa yang harus dia catat, dia tak mau ada sesuatu yang tertinggal. Mungkin dengan begitu dia bisa sedikit merangkum siapa pembunuh Linda, dan keluarga Nathan.


"Oke... yang pertama, waktu aku mimpi untuk yang pertama kalinya, kalau kotak Nathan itu berasal dari cewek yang sampai sekarang aku gak tau dia siapa, foto di kalung itu juga belum terlihat jelas, apakah dia Linda, Atau cewek yang suka sama Nathan itu.


Lalu, Nathan yang aku lihat kepribadiannya juga berbeda, di mimpi terlihat dingin dan cuek, tapi di lain sisi aku pernah lihat Nathan benar-benar laki-laki ceria dengan orang di sekitarnya. Apa jangan-jangan Nathan juga punya kepribadian ganda? Ah gak mungkin deh, O.... Atau yang dalam mimpi aku itu bukan Nathan, tapi Naell? Eh... kok bisa gitu?" Risa menggaruk tengkuknya setelah menulis tentang siapa yang dia temui di mimpi. Dia bingung dengan petunjuk yang dia dapatkan.

__ADS_1


Masalahnya, Nathan punya kembaran, kalau enggak kan gak bakalan seribet ini.


" Biarkan itu dulu, yang harus aku cari tau, siapa perempuan yang kasih kotak ini? Apakah dia gadis yang di temukan tewas dan di cap sebagai pembunuh Linda? Dengan bukti flashdisk itu? Apakah mereka orang yang sama? Oh Tuhan! Kenapa setiap petunjuk yang datang gak ketemu jembatan penyatunya sih!," Risa mendorong bindernya.


Dia merasa makin pusing dengan apa yang dia tulis, apa Tuhan sedang mempermainkannya? Risa mengerutkan keningnya seakan-akan dia siap untuk mulai berfikir keras lagi.


DRRRT...DRRT...


Fokus Risa beralih ke hpnya, ada pesan masuk di aplikasi berwarna hijau, yang biasa di bilang *wa.


0813******** : "Save ya Sa, Cika*"


Risa membaca pesan itu tiga kali, dia berusaha mengingat siapa Cika?


"Oh... teman kak Dimas!" Risa berteriak senang saat mengingat siapa pemilik nama Cika itu.


"*Oke Cik..., Sekarang apa kabar?"


Cika : "Aku baik kok Sa, kamunya?"


"Baik juga*," Bala Risa.


Dan basa-basi pun terus berlanjut. Sampai dimana perhatian Risa teralihkan oleh foto profil Cika.


"Tunggu! Ini kok kayak pernah lihat, tapi lihat dimana ya?"


Foto itu seperti seorang gadis yang membelakangi kamera dengan pita rambut putih mengikat rambut panjangnya dengan pemandangan hamparan kebun bunga berwarna kuning.


"Oh iya! Ini aku lihat waktu di mimpi pas ketemu Nathan! Ini cewek yang nyatain oerasaannya sama Nathan! Tapi kok fotonya ada sama Cika?".


"Cik, itu foto profilmu, foto kamu ya?" Risa mengirim pesan Wa nya


*Cika : "Bukan Sa, itu foto sahabatku, tapi dia udah meninggal,"

__ADS_1


"Eh? Maaf cik, aku gak tau*" Risa merasa bersalah mengungkit orang yang sudah meninggal.


Tapi bukankah ini seperti kebetulan, apa jangan-jangan cewek yang suka Nathan itu adalah sahabatnya Cika? Kalau iya, berarti takdir sedang berpihak dengannya kali ini


__ADS_2