
Risa merasa tak nyaman dengan senyum Liya, benar kata Rani, hantu itu tak pernah tulus dalam membantu, selalu meminta balasan dan imbalan. Oh iya? Bukankah manusia juga begitu? Mereka tak akan membantumu jika tak mengharapkan sesuatu darimu. Manusia itu memang cocok di sandingkan dengan semua hal yang buruk.
Coba fikirkan,manusia di ciptakan memiliki kelebihan dari semua makhluk yang di ciptakan Tuhan. Manusia punya nafsu, malaikat tidak punya nafsu, Manusia punya akal, tapi binatang tak berakal. Manusia punya rupa yang nyata, namun Jin dan setan hanya kebagian wujud gaib. Namun kenapa manusia kebanyakan begitu menjijikkan? Ternyata opini Rani mulai mempengaruhi pikiran Risa. Adiknya yang kecil itu bisa berfikir seperti itu, berbeda dengan Risa yang hanya fokus dengan tujuannya, tak mau ambil pusing memikirkan hal yang tak membuahkan hasil seperti yang sering di lakukan adik bungsunya itu.
Kadang Rani ada benarnya namun juga ada salahnya, setiap manusia yang berbuat jahat bukankah karena di pengaruhi Jin dan nafsu serta akal yang tak berfungsi baik? Manusia memang punya segalanya tapi mereka kadang lupa fungsi dari semua kelebihan yang Tuhan berikan untuk mereka. Manusia sepertinya harus belajar lagi, mungkin ini terjadi karena orang-orang lebih mementingkan otak cerdasmu dari pada tingkah laku baik mu.
Selama kau pintar dan kaya, semua orang akan mencintaimu, namun jika kau tak terlalu pintar dan tak beruang, maka lebih baik simpan keinginanmu untuk di hargai seperti cara mu menghargai manusia. Karena terkadang manusia lupa bagaimana cara membalas budi seseorang.
"Apa yang kau fikirkan?" Liya membuyarkan lamunan panjang Risa yang bahkan belum sampai ke titik finish.
"Bukan apa-apa," perut Risa mulai bereaksi.
Sedari tadi perutnya tak ingat untuk merasakan mual, tapi melihat hantu itu tetus mendekat dan bau busuknya semakin menyengat membuat kata mual hadir dalam perutnya.
'Ini tak bagus, jangan muntah, atau bocah kecil ini akan tersinggung'
__ADS_1
Risa berusaha sebisa mungkin menahan rasa tak enak itu. Namun sepertinya hantu yang satu ruangan sama dia sekarang ini, tak mengerti dengan muka kusut Risa. Dia terus mendekat dengan salah satu tangannya hampir terputus.
"Berhenti! Kenapa dengan tanganmu? " Hantu itu berhenti berjalan.
Dia melihat ke arah tangannya yang di tunjuk oleh Risa. Risa bernafas lega saat hantu itu berhenti maju, setidaknya dia bisa memperpanjang waktu sebelum seluruh isi perutnya keluar.
"Ini? Aku hanya melakukan kebiasaan ku semasa hidup, dan saat aku mati sepertinya kebiasaan itu tak juga menghilang,"
"Kebiasaan? maksudmu kebiasaan melukai tanganmu? Kau gila! Jangan bilang semasa hidup kau berniat bunuh diri?," Risa menggeleng tak percaya.
"Heh, semua orang selalu bilang aku gila, kenapa hah? Tidak ada yang menyayangiku, lalu untuk apa aku menyayangi diriku sendiri! Semua orang bebas menyakitiku, tapi tak pernah di bilang gila. Padahal orang lain yang mereka sakiti. Sedangkan aku, hanya menyakiti diri sendiri bukan menyakiti orang lain malah di bilang gila! Aku melakukan ini hanya sebagai upaya mewujudkan impian ibuku cepat terwujud, dia ingin aku cepat mati, tapi setiap kali aku merobek pergelangan tanganku, aku selalu pingsan karena menahan sakit. Ini tak adil! Aku ingin mati! Tapi saat itu aku terlalu lemah, luka kecil saja bisa membuatku pingsan, MEMUAKKAN!," Risa mengedipkan mata tak habis pikir.
Hantu ini bercerita panjang lebar dari tadi, tapi kenapa ceritanya selalu membuat hati Risa sakit dan sedih?
Melihat dari wujud hantu ini, dia pasti baru berusia 14 tahun atau 15 tahun, tapi kenapa hidupnya sudah begitu pilu?
__ADS_1
'Kasian sekali'
"Cara berfikirmu salah Liya," Risa tak tau harus bilang apa.
Mau bagaimana pun Risa bilang cara berfikir hantu itu salah, tapi tetap saja semua sudah berlalu, tak ada yang bisa di salahkan, masalalu memang seperti itu. Tak pernah bisa di perbaiki!
"Ya aku tau itu, lalu apa kau mau membantuku sekarang agar bisa menebus kesalahanku?" Senyum dengan penuh makna itu tergambar lagi di wajah Liya.
"Kalau aku membantu mu apa kau akan pergi dari hidup adikku?" tawar menawar sepertinya sudah di mulai.
"Yah tentu, asalkan berhasil, aku akan pergi dan tak lagi mengganggu kalian," tak seperti dugaan risa sebelumnya, hantu ini ternyata gampang di ajak negosiasi.
"Baiklah, apa yang bisa aku lakukan?" dengan pertanyaan itu, Risa dan Liya sudah terikat kontrak.
Kontrak untuk menyelesaikan masalah kehidupan liya di masalalu.
__ADS_1
"Kembali baca masa lalu ku Risa," jawab hantu itu penuh kepuasan.