
Rani duduk di atas kasurnya menatap ke arah ku yang sekarang berada di kursi belajar, entah kenapa saat ini Rani terlihat seperti guru BK yang siap menceramahiku, dengan kedua tangan dia lipat di dada.
"Kak! Jelasin pokoknya! Ngapain ke sana? Ada hubungannya sama kotak antik itu kan?" Wah Rani langsung to the point, tak mau bertele-tele dia langsung ke intinya saja.
"Kok kamu tau kalau ini berhubungan sama kotak itu?" Rani sepertinya pandai menebak.
"Kemarin, Rani gak sengaja lihat penampakan kak Linda lagi megang kotak itu," jelas Rani.
Mendengar itu aku semakin penasaran dengan masalah ini. Masalah ini masih banyak bolongnya, puzzle belum terbentuk sama sekali. Jangankan terbentuk, kepingannya saja belum di temukan. Permainan ini masih sangat panjang.
"Kamu lihat Linda? Kapan?" Tanyaku sambil mendekatkan kursi ke kasur Rani.
"Waktu kakak pingsan karena ambil kunci bang Rudi dari hantu perempuan itu. Rani gak sengaja lihat kak Linda lagi duduk di kursi kakak, sambil mengusap kotak itu. Pas Rani panggil dia noleh, dia tersenyum tapi tipis banget lalu tiba-tiba hilang," Jelas Rani.
Aku menyimak dan semakin yakin, kalau Nathan pasti ada hubungannya dengan Linda, terutama dengan kematian Linda, dia pasti berperan. Entah mengambil peran apa, aku tak tau. Tugas ku sekarang, mencari tau tentang Naell yang di tulis di halaman pertama di buku harian Nathan.
Tapi bagaimana caranya? Sedangkan rumah Nathan berada di kampung Kembang yang konon katanya setelah salah satu warga mereka di temukan bunuh diri, kampung itu menjadi tak tentram apalagi di malam hari. Karena suara bising dari arwah yang bunuh diri itu.
Semenjak itulah, orang asing yang datang ke kampung itu akan dia buat berputar di sana, dan dalam kurun waktu yang tidak di ketahui berapa lama itu.
"Kak kok bengong?" Rani menepuk pundakku pelan melihat aku yang tetap diam. Aku menatap adikku itu tanpa berniat menjawab.
Tolong diam dulu, biar aku fikirkan bagaimana caranya agar bisa kembali ke rumah itu lagi. Siapa Neall? Apakah dia bisa membantu ku menyelesaikan semua ini?
"Eh... Jangan-jangan Neall itu si cowok kasar yang kemarin lagi, kalau iya bakalan susah dong,!," Aku mengacak rambutku sendiri karena kesal.
Rani yang melihatku seperti itu menjadi ke heranan.
"Cowok kasar? Siapa lagi sih kak?" Rani yang merasa tak nyambung dengan percakapan monolog ku memilih berbaring di atas kasurnya. Dia memejamkan mata berharap kantuk menyapanya, agar bisa tidur lebih cepat.
"Udah mau tidur nih?" Tanyaku pada gadis kecil itu.
Rani hanya mengangguk kecil, tak menjawab dengan mulutnya, sepertinya kantuk sudah datang bertamu.
"Ya udah, kakak balik ke kamar kalau gitu, mau istirahat," Kataku.
Rani mengangkat tangan kananya lalu menyatukan ujung jari telunjuknya dengan ujung jari jempolnya hingga membentuk "OK".
Hari sudah larut, dan baru kali ini aku tidak tidur dua hari karena terjebak di kampung Kembang itu. Dari pada menyia-nyiakan waktu senggang, aku memilih menidurkan badanku. Memejamkan mata dan membiarkan aku terhanyut masuk ke alam mimpi.
🐾🐾🐾🐾
__ADS_1
07.00 WIB
"Kak... gak kerja?" mama teriak dari dapur, karena sudah jam segini batang hidungku tak juga kelihatan.
"Enggak ma, hari ini gak ada jadwal," jawabku sambil ikut-ikutan teriak dari dalam kamar.
Entahlah, rasanya begitu nyaman di atas kasur, sampai cacing di perutku bernyanyi barulah ada keinginan keluar untuk makan. Mama sudah siap dengan gulai ayam yang memancarkan aromanya ke penjuru dapur, dengan sigap aku mengambil nasi untuk memulai santapan pertama. Iyap, biarkan aku menjadi orang pertama yang mencicipi gulak ayam pagi ini.
PLAK...
Mama memukul tanganku begitu saja saat mau mengambil sesuap nasi.
"Cuci muka dulu, gosok gigi, baru makan,"
"Iya iya...." jawabku kesal melihat sepiring nasi harus tertunda dulu memasuki perutku.
"Kak...!!" Belum juga masuk kamar mandi, Rani sudah berteriak.
"Apaan?" Tanyaku sambil menunda ritual mencuci muka.
"Beliin Rani buku gambar dong, Rani lupa, hari ini ada pelajaran Seni Budaya, Buku gambar Rani habis,"
"Rani belum selesai kak, beliin ya?"
"Iya deh iya," kataku lalu masuk ke kamar mandi, tanpa berniat mendengarkan kata terimakasih yang Rani teriakkan.
Untuk sekali lagi, aku harus membiarkan nasi ku itu dingin dulu, membeli buku gambar menjadi aktifitas kedua di pagi hari ini.
🐾🐾🐾🐾
BRAK...
"Ck...," orang yang baru saja menabrak ku itu memegangi bahunya yang beradu kuat dengan kepala keras ku. Dia mendecak kesal dan pergi begitu saja.
Wah, dimana letak sopan santunnya? Bukannya meminta maaf dia malah melenggang pergi tanpa merasa bersalah.
"Ah sudahlah," aku berjalan sambil mengusap keningku yang terasa sakit karena beradu dengan bahu orang tadi.
"Eh, apa ni?" aku merasa seperti menginjak sesuatu yang keras. Saat melihat ke bawah ternyata itu gantungan kunci.
Berbentuk bintang dengan inisial namanya NL dan bagian belakangnya NT. Apa ini punya pria yang baru saja menabrak ku tadi?
__ADS_1
"Hey!," Bagaimana pun aku bukanlah orang yang tidak punya rasa peduli. Walau hanya sebuah gantungan kunci tetap saja itu perlu di kembalikan kepada pemiliknya apa lagi aku tai siapa pemilik benda ini.
"Hey... yang pakai topi hitam dan kemeja putih," teriakku yang kedua kalinya yang sepertinya di dengar oleh orang itu.
Dia berhenti tanpa berniat membalikkan badannya. Aku memilih mendekat ke arah orang itu, karena sepertinya dia tak ada niatan menghampiriku.
"Ini punyamu?" Aku menepuk pundaknya yang setinggi kepalaku itu dengan jari telunjukku.
Yang di panggil membalikkan badannya padaku, dan akhirnya mata kami berdua saling bertemu dan wajah kaget tergambar di wajah kami.
"Lo?" Dia langsung menunjukku dengan jari telunjuknya yang tadi ada di dalam jelana jeansnya.
"Gak usah nunjuk-nunjuk," Aku menepis tangannya dengan buku gambar yang baru saja ku beli.
"Ada apa lagi?" Tanyanya ketus.
"Ih, bisa santai gak sih kalau ngomong, ini punya lo gak?" Dia yang ngomong pakai lo, gua, membuatku ikut-ikutan manggil lo, gua juga.
"Balikin," gak ada nanya atau basa basi dulu, atau setidaknya bilang terimakasih sudah berinisiatif mengembalikan ini malah langsung menyerobot maksa mau ambil.
"Enggak, aku baru mau kasih ini ke lo kalau lo mau nurutin syarat dari aku," lucu sih bunyinya aku manggil dia dengan 'lo'.
"Gak usah banyak omong deh, balikin gak?" melihat dia yang memaksa seperti itu membuat aku yakin benda ini pasti berharga.
Ini membuat pikiran licik menguasaiku.
Maaf harus memanfaatkan ini agar kamu mau mempermudah misiku.
"Turutin dulu syaratku, baru mau aku kasih," dia keras, aku tak kalah kerasnya.
"Oke, apa syaratnya," pria yang mirip dengan Nathan itu mengalah juga akhirnya.
Wah, kayaknya gantungan kunci ini benar-benar bisa dimanfaatkan.
"Nanti aku kasih tau, kita ketemuan di taman tengah kota, oke?" Kataku sambil menunggu persetujuannya.
"Duh, jangan diam aja dong, aku lagi buru-buru," aku baru ingat kalau Rani mau pergi sekolah.
"Oke, terserah lo," katanya lalu berlalu pergi begitu saja.
Meninggalkan gantungan kuncinya tetap di tanganku. Setidaknya Tuhan sudah kasih kemudahan.
__ADS_1