
Liya menatap Risa dengan penuh rasa bimbang. Dia tau kalau mulutnya berkata apa namun hatinya meminta lain. Dia mungkin bisa membohongi orang lain kalau dirinya tak lagi menyukai kakaknya itu. Tapi sampai mati pun dia tak bisa membohongi hatinya sendiri bahwa dia masih merindui dan menyayangi Sendi.
"Kok diam doang?" Tanya Risa yang mulai kesal.
Namun yang di tanya tetap membisu. Tak berniat menggerakkan bibirnya itu.
"Ya udah! Kalau gak mau ngomong tu bilang dong! Capek tau gak sih nungguin lo ngomong!," Risa mulai meninggikan nadanya.
Dia menhentakkan kakinya ke lantai dengan kuat. Sepertinya Risa hanya akan bertanya tanpa jawaban. Untuk apa menunggu Liya yang tak tau kapan akan selesai membisu.
PRAAANG....
Baru juga mau tidur di samping adiknya yang sudah terlelap, Risa malah di kagetkan dengan gelas yang jatuh ke atas lantai.
Gelas yang tadinya utuh kini hancur berserakan di atas lantai. Risa mendecak kesal dan menatap Liya dengan tatapan protes.
"Kamu kenapa sih Ya!!! Gelasnya jadi pecahkan! Ih... buat orang kerja aja tau gak!," Liya yang di omeli cuman tersenyum picik.
Dengan terpaksa Risa membereskan kaca yang berserakan itu. Baru juga menyentuh beling yang pertama, kepala Risa kembali sakit. Berdenyut sangat hebat.
__ADS_1
'Kendalikan dirimu Sa,' Dalam keadaan sakit Risa teringat perkataan neneknya.
Kendalikan diri? Bagaimana caranya? Tidak menunggu waktu lama Risa pingsan di samping beling kaca dan tanpa sengaja tangannya tergores dengan pecahan kaca yang dekat dengan posisinya sekarang.
Risa menyentuh barang yang baru saja di sentuh Liya. Tanpa dia sadari Liya sudah merencanakan agar Risa bisa kembali masuk ke masalalunya.
Liya ingin bercerita tentang apa yang selama ini terjadi. Namun dia takut dan malu dengan pendapat Risa tentang dirinya dan juga ibunya. Seburuk apa pun ibunya itu tetap aib yang harus dia tutup.
Dan malam itu tak ada yang tau kemana masing-masing orang beralih ke dalam dunia mimpi. Tak ada yang tau kemana mereka di bawa berkelana oleh mimpi mereka.
Namun berbeda dengan Risa, dia bukannya berkelana dalam mimpinya sendiri namun malah berkelana dalam kehidupan masalalu Liya Gadis yang akan berniat menjelaskan masalalunya dengan membiarkan Risa melihat itu dengan mata kepalanya sendiri.
🐾🐾🐾🐾
"Sial!!!!!! Aku mau tidur LIYA!!! Tapi malah di bawa ke masalalunya, gak mikir orang capek kali ya? Pantesan tadi dia senyum-senyum gak jelas. Awas aja kamu Ya!!!," Risa berteriak kepada pohon yang ada di depannya.
Kalau bisa bicara mungkin pohon itu akan balik memaki Risa yang melampiaskan amarah padanya.
"Kan udah aku bilang Liya! Kamu baru boleh pulang kalau kerbau udah pada kenyang ke dua-duanya!," Risa yang tadi hanya menatap pohon terperanjat kaget mendengar teriakan seseorang dari dalam rumah Liya.
__ADS_1
Yang Risa yakini adalah mamanya Liya, wanita yang tak pernah lembut sedikit pun pada Liya.
"Iya ma, Liya bawa kerbaunya makan," Liya berbalik arah berencana keluar mengambil kerbau yanh di ikat tak jauh dari rumahnya, dekat dengan posisi Risa sekarang.
Baru saja gadis kecil itu melangkah satu langkah dari pintu depan. Tangan kasar mamanya mendorong Liya hingga tersungkur di atas tanah itu. Liya menggigit bibirnya agar tak terdengar keluhan atau tangisan di sana.
Risa yang melihatnya membulatkan mata tak percaya, pantaskah wanita itu di panggil ibu? Diaman letak kasih sayangnya. Tanpa sadar tangan Risa sudah menggepal kuat, dan matanya sudah mulai basah, dari kecil dia tak pernah di perlakukan kasar oleh ibunya. Meninggikan nada saja tak pernah di lakukan ibunya. Selama ini yang Risa tau seorang ibu itu adalah wanita yang penuh kelembutan, dan sempurna dengan kasih sayangnya.
"Dia wanita gila! Apa kesalahan Liya sampai di perlakukan seperti itu?" Risa berkomentar lagi, tapi kali ini tak berbicara dengan pohon itu.
"Awas saja kalau kerbaunya tidak kenyang! Kau tak boleh makan hari ini!," Wanita itu bukan hanya mendorong Liya, tapi juga mengancamnya.
"Anak bukan pembantumu sialanan!," Risa sekarang tak tau cara bicara yang sopan lagi. Ucapannya sudah mulai kasar.
"Orang kasar pantas di kasarin," Kata Risa membenarkan tingkahnya sendiri.
Liya berusaha berdiri dan berjalan ke arah ke dua kerbau yang sudah menunggunya. Dengan kaki kiri yang agak sakit dia berusaha berjalan dengan tidak menunjukkan rasa sakitnya.
Bagaimana pun dia tak mah menunjukkan kepada ibunya bahwa dia terluka. Takut nanti ibunya merasa bersalah.
__ADS_1
"Aku jadi merasa bersalah tadi teriak-teriak sama Liya," Kata Risa saat Liya sudah berada di sampingnya.
Dengan cepat Liya melepas ikatan kerbau dari pohon. Hari ini, dia akan pergi berjalan dengan di temani kedua kerbau kesayangan mamanya.