
Risa merapikan jilbabnya dengan melihat dirinya dari pentulan cermin. Dia sudah siap dengan gamis merah hati dan jilbab yang senada dengan warna gamisnya.
Kali ini dia bertekad akan menyelesaikan masalah Liya, bagaimana pun, dia telah berjanji, dan Risa tak pernah ingkar janji.
Di luar, Rani sudah siap dengan dua tas besar yang di bereskan tadi pagi. Ada mama dan Rudi di dekatnya. Sedangkan Ayah, sudah pergi bekerja terlebih dahulu, dia sudah mengizinkan kedua putrinya pergi liburan ke rumah nenek mereka di kampung. Walau sedikit takut, tapi saat dia tau semua sudah selesai, dan lagian Kintan sudah di rumah sakit jiwa, maka tak ada lagi yang akan mengganggu kedua putrinya itu. Biarlah mereka menghabiskan waktu liburan dengan bermain di kampung halaman.
"Aku beneran gak boleh pergi ni?" Rudi tegak di samping pintu dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
Risa yang baru saja lewat di depan adiknya itu hanya menggeleng sebagai tanda tidak!.
"Yah kak, aku kan juga mau liburan ke kampung, mau main di sungai," Rudi merengek kali ini, dia persis seperti bocah kecil.
Terkadang Risa menganggap itu hal biasa, tapi setiap kali adiknya bisa berubah sikap dan ajaibnya sehari sikapnya bisa menjadi tiga jenis. Yang membuat Risa yakin ini bukan hal yang bisa di anggap sepele. Ada yang tak beres dengan adik laki-lakinya itu.
__ADS_1
Kadang merengek seperti bocah kecil usia lima tahunan, kadang juga begitu membangkang tak mau mendengarkan orang sama sekali, bahkan yang lebih parahnya dia kadang berkata kasar baik itu kepada Risa dan Rani juga kepada kedua orang tuanya.
Namun kalau sedang normal, dia bertingkah seperti Rudi yang biasanya, tak banyak bicara, dan selalu menurut serta begitu sopan. Entahlah, apa itu memang Rudi yang merubah emosinya, atau ada yang mengendalikannya. Sampai sekarang Risa tak bisa menyimpulkannya.
Dia yakin suatu hari yang namanya pertanyaan pasti akan tetjawab. Kita tinggal menunggu waktu dan kisi-kisi yang tepat.
"Kalau kamu pergi, hantu yang di depan kamar mu itu bagaimana? Tunggu saja di sini, mana tau dia mau berubah fikiran dan memberikan kunci itu padamu," jelas Risa yang hanya di balas anggukan kecil yang terlihat terpaksa dari Rudi.
"Tenang aja, nanti bang Kelvin katanya mau nemenin kakak di rumah," kata Rani yang langsung merubah ekspresi cemberut Rudi berubah begitu sumbringah.
Hampir saja botol itu memberikan irama gendang di kepala Rudi. Melihat adiknya yang mengelak dengan sigap, Risa mencibir kesal.
"Mana bang kelvin, kok belum datang?" Rudi berjalan ke arah pagar rumah, meninggalkan Rani dan Risa yang menggeleng tak paham dengan sikap Rudi.
__ADS_1
"Ternyata mudah ya dek bujuk Rudi," kata Risa sambik melihat Rudi berlari girang menunggu kedatangan Kelvin.
"Kok dia sebahagia itu banget?" Risa mengangkat bahuna karena pertayaannya sendiri.
"Ris," Seseorang dengan motornya masuk ke dalam gerbang rumah Risa, bukannya mengucap salam, tapi kata yang pertama kali dia keluarkan adalah 'Ris'.
Risa tersenyum dengan terpaksa.
"Apa Vin?" Dia menghampiri Kelvin yang baru saja turun dari mobilnya.
"Liburan gak ngajak-ngajak. Ya udah deh, aku maafin kali ini, tapi nanti pulang pakai apa?"
"mobil banyak kok Vin,"
__ADS_1
"Ya udah nanti kalau udah ketemu mobilnya kasih tau aku sebelum pergi ya?" Risa dan Rani mengangguk serentak.