Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Perkenalan Dengan Ahmad


__ADS_3

Risa duduk di salah satu kursi yang ada di bawah pohon rimbut di SD tempat Rani sekolah. Dengan headset yang terpasang di kedua kuping Risa membuat Risa tak bisa mendengarkan suara bising di sekitarnya. Suara aneh terus mengusik telinganya, bahkan ada yang jail banget sampai berbisik dekat ke telingan Risa. Risa jengah, dia merogoh handphonya dan memutarkan musik hingga volume full. Kali ini dia tak peduli sama telinganya yang mungkin nanti akan sakit.


Yang dia pedulikan sekarang ketenangan dan kedamaian, sudah dari kemarin dia terus di ganggu hantu. Untuk hari ini masa iya di ganggu juga. Di tambah lago hantu di sini tubuhnya pada gak normal lagi.


Yah mungkin Risa bisa menutupi telinganya dari suara bising hantu-hantu itu. Tapi dia tak bisa menutup bau amis darah yang terus tercium hidungnya. Berulang kali dia berdo'a agar adiknya itu cepetan keluar dari kelas dan segera pulang.


Sekali-kali Risa melirik jam tangan berwarna biru dongkernya itu, setiap menit dia hitung bukannya merasa waktu berjalan cepat malah Risa merasa matanya sangat berat kali ini. Musik sudah di putar dengan keras, tapi yang datang bukan asik, namun kantuk yang terundang.


"Ya Allah ngantuk banget," Risa menyandarkan kepalanya di kursi yang dia duduki. Perlahan matanya mulai tertutup dan Risa mulai terlarut dalam rasa kantuknya. Perlahan Risa kembali tertidur di tengah hari.


🐾🐾🐾🐾


Ahmad, guru agamanya Rani berjalan ke arah Risa. Entahlah, kakinya sendiri yang menuntun dia mendekat ke arah Risa. Padahal selama ini dia tak pernah mau berurusan dengan perempuan.Tapi perempuan yang kali ini entah kenapa rasanya begitu lain.


"Mbak? Mbak... " Ahmad terus memanggil Risa, namun sayang sepertinya Risa masih nyaman dengan tidurnya. Masih nyaman berselancar du dunia alam bawah sadarnya.

__ADS_1


"Mbak!," Agak sedikit menaikkan oktaf suaranya, namun Risa sama sekali tidak terganggu.


Tentu saja tidak terganggu, jelas-jelas Risa memakai Headset dan memutarkan lagu dengan keras, suara berisik hantu saja tak lagi terdengar, mana mungkin suara Ahmad yang terkategori pelan itu terdengar oleh Risa.


"Loh pak?" Rani muncul dari belakang dengan menggendong tasnya yang berwarna pink cerah itu.


"Ini, kakak Rani ketiduran," kata Ahmad sambil menunjuk ke arah Risa yang tertidur lelap.


'Ya ampun kak, sempat-sempatnya tidur di tempat umum,' Rani menepuk keningnya pelan.


'Duh kak, bangun dong, malu sama pak Ahmad nih,' Rani habis kesabaran.


Dengan tenaga yang ada, Rani langsung memukul lengan kakaknya dengan kuat.


PLAK...

__ADS_1


Suara pukulan Rani menggema di telinga Ahmad, dan pukulan itu juga berhasil membuat Risa mengeluh kesakitan dan bangun.


"Rani! Sakit tau, mukulnya kok gak pelan-pelan sih!," Risa menggerutu kesal ke arah adiknya itu sambil mengelus tangannya yang terasa panas dan pedih. Dan mungkin nanti akan memerah.


"Kak, sopan dikit, ada pak Ahmad," Rani mendekat ke arah Risa dan berbisik sambil menunjuk ke arah samping kiri Risa.


Risa menggigit bibirnya kesal, dia menundukkan kepalanya dengan malu.


"Untuk yang kedua kalinya aku bertingkah di luar batas di depan pak Ahmad," Risa menggerutu di hatinya.


"Mbak Risa?" Suara pelan Ahmad terdengar di telinga Risa.


Dengan malu dia menatap ke arah orang yang memanggilnya tadi.


"Eh, ada pak guru, aa... saya bawa Rani pulang ya pak, Siang," Tanoa menunggu jawaban Ahmad, Risa langsung menarik tangan adiknya pergi dari sekolah.

__ADS_1


Ahmad yang menyadari jawabannya tak di perlukan hanya tertawa pelan melihat tingkah Risa yang terlihat menahan malu.


__ADS_2