
Setelah tenda selesai kami pun duduk di depan kedua tenda. Tenda yang pertama di isi Dimas, Kelvin dan Rudi, sedangkan yang satunya lagi, aku dan Ocha yang menempati. Kami diam, tak ada yang memulai percakapan, hari sudah gelap, hanya api unggun kecil di tengah-tengah kami yang memberi pencahayaan. Karena di sini tidak ada bulan mau pun bintang.
Di dalam kesunyian tiba-tiba saja Ocha yang duduk di sebelah Dimas menangis. Sontak membuat kami semua menjadi terfokus padanya.
"Kenapa Cha?," Dimas memegang bahu Ocha dan mengusap kepalanya mencoba untuk menenangkan Ocha.
"Aku mau pulang, aku mau keluar dari sini," kata Ocha sambil terisak.
Aku mengerti dengan kegundahan dan kesedihan Ocha saat ini, di sini hanya ada kami berlima tidak ada orang lain, tapi tidak tau dengan ke tiga temannya Dimas, entah mereka masih hidup atau kemungkinan buruknya tidak.
Dimas yang mencoba menenangkan Ocha berusaha memasang muka tegar, padahal aku sangat tau, dia juga mengkhawatirkan kondisi kami saat ini, di tambah lagi dengan ke beradaan adiknya yang tak tau dimana.
"Ocha, tenanglah, kita akan mencari cara untuk keluar dari sini," kata ku yang berada di depannya yang di batasi api unggun di antara kami.
__ADS_1
"Gimana aku bisa tenang Sa! Kita saja gak tau entah bahaya apa yang menanti kita lagi!" Nada Ocha meninggi, membuat keningku berkerut kesal.
"Semua orang juga tau itu Cha, tapi kalau kita membiarkan diri kita terus dalam ketakutan kita gak bakalan bisa bebas, kita harus tenang dan mencari jalan keluarnya," aku berusaha menahan emosiku.
Jika aku juga ikut emosi itu bisa membuat panas keadaan. Sedangkan kedua hantu yang membawa kami kemari tak ada kabarnya sama sekali, menghilang begitu saja.
"Benar kata Risa, kita harus tenang dan mencari cara agar bisa menghabisi hantu itu dan keluar dari sini," Kelvin yang berada di samping ku berusaha meyakinkan Ocha.
"Tapi gimana caranya? Kita bahkan tak tau apa pun, kemana kedua teman hantu mu itu Risa? Kenapa mereka menghilang begitu saja!" Sepertinya Ocha sudah emosi dimakan rasa takutnya.
"Aku juga tidak tau mereka dimana Cha, tenanglah, aku yakin mereka akan membantu kita, mereka punya dendam yang belum terbalaskan, maka mereka tak akan membiarkan kita mati karena hanya kita yang bisa membalaska dendam mereka," Aku sudah lelah menenangkan cewek cengeng itu. Kepalaku rasanya sakit sekali.
Ocha hanya diam saja, sekarang tangisnya sudah mereda namun tetap meninggalkan jejak mata sembab di wajahnya, aku iba sekaligus jengkel dengan gadis itu.
__ADS_1
"Sudahlah, hari sudah semakin gelap, sepertinya Sherly tidak akan datang hari ini, lebih baik kita tidur untuk istirahat, karena kita tak tau sebanyak apa tenaga yang kita perlukan untuk menyelamatkan diri," Kata Dimas yang di balas anggukan oleh kami.
Aku berjalan menghampir Ocha, gadis itu masih menatap api unggun, dia benar-benar terguncang. "Ayo Cha, kita masuk, di luar dingin," aku memegang bahunya dan dia hanya menurut dengan berusaha berdiri dan jalan duluan dari ku menuju tenda.
Setelah Ocha masuk aku pun berniat untuk masuk dan tertidur malam ini.
"Selamat malam kak," Kata Rudi sambil membersihkan pinggulnya yang sedikit kotor karena duduk di atas tanah.
Aku tersenyum ke arah adikku itu, dia pasti sangat ketakutan sekarang, ini semua karena ku, seandainya saja aku tak terjebak di sini,pastilah Rudi dan Kelvin tak akan menyusulku. Tuhan tolong jaga kami, biarkan kami melihat matahari besok.
🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾
POV AUTHOR
__ADS_1
Malam itu Rani tertidur dengan pulas, sampai dia tidak sadar ada sepasang mata terus memperhatikannya dari kejauhan. Mata itu berwarna merah, bercahaya seperti ada lampu di bola matanya. Samar-samar dari kegelapan kamar itu,di pojok ruangan ada yang tersenyum manis ke arah Rani.