
"Mas?" Cika mengguncang tubuh Dimas yang tak juga bergeming.
"Kalian tau kan? Bercanda itu ada batasnya?" Setelah beberapa lama terdiam itulah kata pertama yang keluar dari mulut Dimas.
"Kami gak bercanda bang," Denis mendekat ke abangnya itu, dia menyentuh pundak abangnya. Tidak terlalu sulit buat Denis. Karena Denis juga tak kalah tingginya dari sang abang. Cuman berbeda beberapa cm.
Mata Dimas mulai basah, tapi si pemilik mata berusaha menahan agar air matanya tak jatuh membasahi pipi yang kini sudah mulai memucat itu.
"Dim?" Cika yang mengerti perasaan Dimas saat ini, berusaha untuk menenangkan Dimas yanh terlihat akan meledak.
"Gue mau sendiri dulu, jangan ikutin gue," Dimas menepis tangan adiknya. Dan kata-katanya barusan berlaku untuk kami semua.
Aku yang tak kalah syok dari Dimas hanya menatap punggung pria itu mulai menjauh. Aku ingin mengusap punggung itu memberikan rasa simpati. Seperti yang mama sering lakukan dulu, saat aku sedang sedih mama pasti mengusap punggungku pelan, dan mengatakan padaku "semuanya akan berlalu, tenanglah".
"Sa, minum dulu," Kelvin menyodorkan sebotol air yang dia ambil dari sungai tadi. Aku hanya mengangguk pelan, mengambil botol itu dan mengalihkan pandanganku dari Dimas.
__ADS_1
🐾🐾🐾
POV AUTHOR
Dimas terus berjalan menembus kabut yang menghalangi pandangannya dari tadi. Rasanya dia ingin berteriak memanggil nama Ocha. Tapi entah kenapa suaranya begitu susah untuk keluar. Dadanya terasa sesak, dia ingin sekali marah pada Ocha karena pergi begitu saja, namun orang yang ingin dimarahi tak ada lagi.
Dimas terhenti di bawah pohon yang di sampingnya ada batu yang cukup besar. Dia terduduk di situ.
Sendirian.
Kembali ke masa itu, dimana mereka baru pertama kali kenal. Ocha, gadis cerewet yang gak mau diam. Dia kadang egois maunya semua orang nurutin kemauanya dia. Apalagi kalau Ocha jatuh cinta, dia pasti akan ngelakuin apapun agar orang yang di sukai juga mencintainya. Malang sekali orang yang nanti mendapatkan cinta Ocha.
Dan orang itu adalah Dimas.
"Cha," Dimas menghapus air matanya dengan pu nggung tangan kirinya. Perlahan dia kembali terjun kemasa lalu.
__ADS_1
"Mas, jangan diamin aku terus dong," Ocha berusaha berjalan mengikuti irama kaki Dimas yang panjang itu. Kadang sekali-kali Ocha berlari kecil untuk menyamai langkahnya dengan Dimas.
"Cha, aku ada kelas hari ini, bisa jangan ganggu," saat itu Dimas begitu kesal dengan tingkah posesifnya Ocha.
Pacar bukan, sahabat juga bukan. Tapi Ocha selalu menempel padanya seperti permen karet. Hanya saat di rumah, Dimas bisa terbebas dari Ocha.
Dulu, Dimas sempat jengah dan kesal dengan tingkah Ocha, dia berharap Ocha berhenti mengikutinya, dan menyerah mengejar cintanya. Dia berharap, agar Ocha sadar bahwa dia sama sekali tak bisa membalas cinta Ocha.
Iya, itu yang dulu selalu di fikirkan Dimas, Tapi sekarang saat gadis itu menjadi pendiam, saat gadis itu menghilang dan apalagi saat mendapatkan kabar bahwa gadis itu sebenarnya telah tiada. Membuat Dimas benar-benar kesepian, marah, rindu dan segalanya bercampur menjadi satu.
"Gue kangen di ganggu sama lo lagi Cha, gue kangen suara berisik lo, gue kangen pernyataan cinta lo yang selalu lo ucapin setiap hari. Cha, bukannya lo nungguin jawaban gue tentang perasaan gue ke lo? Tapi kenapa sebelum gue kasih tau lo tentang perasaan gue sebenarnya lo malah pergi Cha! Lo yang bilang ke gue, gue gak boleh ninggalin lo, Tapi kenapa sekarang lo yang malah ninggalin Gue??? OCHA... JAWAB GUE!"
Dimas berteriak hingga urat lehernya terlihat, bahkan teman-temannya yang berkumpul pun ikut kaget mendengar teriakan dimas.
Dia benar-venar terluka, tapi sayangnya lo terlamabat Mas
__ADS_1