
Risa membaringkan tubuhnya di atas kasur yang begitu empuk, perlahan tulang-tulang yang terasa nyeri mulai dimanjakan oleh sensasi lembut dari bed covernya. Matanya terpejam menahan sakit yang kadang menghantam kepala yang sedari tadi terus berdenyut.
"Kenapa ya? Gak biasanya kayak gini? Semua badan rasanya sakit banget," Risa menarik selimut berharap bisa tertidur agar rasa sakit itu tak terus terasa.
Walau susah, dia paksakan matanya untuk terpejam.
'Untuk sebentaaaar saja, aku mau tidur, jangan mimpi buruk, rasanya capek banget, masalah hantu itu nanti pikirin,'
Risa berdiskusi dengan dirinya sendiri. Mulai hari ini semua akan berbeda, semua takkan berjalan senormal dulu, Mulai hari ini kejadian aneh akan terus mengikutinya. Dan mulai besok, tubuhnya harus siap menerima hal baru dan masalah baru.
🐾🐾🐾🐾
Rani terduduk di bawah pohon jambu yang berdiri sudah cukup lama di sekolahnya itu. Dia cemberut dari pagi tadi, karena hari ini Rudi yang mengantar dan menjemputnya. Rudi tak pernah tepat waktu kalau di suruh menjemput, bahkan dia pernah pulang ke rumah tanpa mengingat adik kecilnya ini. Rani terus memeriksa jam tangannya, waktu sudah hampir menunjukkan pukul satu siang, tapi si abang tak juga menunjukkan batang hidungnya.
Kebiasaan! Mulai lagikan pelupanya!
"Ya Allah, ni abang kemana sih? Jangan bilang lupa jemput?" Rani berdiri dari duduknya.
Dia mondar-mandir menunggu ke hadiran abang yang entah akan datang atau tidak. Matahari semakin jatuh, hari sudah mulai masuk waktu senja, Kali ini Rani tak tahan, akhirnya tangis yang dia tahan pecah juga. Sudah jam tiga sore, tapi Rudi tak kunjung datang, Rani benar-benar takut sekarang, sekolah sudah begitu sepi.
Dan yang tak di inginkan Rani datang juga, ada sosok yang berjalan di koridor kelas 6 yang posisinya tak jauh dari Rani berdiri. Sosok yang berjalan itu adalah seorang laki-laki dengan memakai pakaian perang, yang di lihat dari posturnya bukanlah orang indonesia, dia berjalan dengan membawa senapan panjang yang kalau Rani perkirakan, senapan itu hampir setinggi dirinya.
Namun sayang, ada sebatang bambu menancam di dadanya, wajah putihnya benar-benar begitu pucat. Pria itu terus berjalan mondar mandir, seperti ada yang dia jaga.
Rani tak mau ambil pusing, wujud hantu itu makin banyak terlihat, seiring matahari yang mulai menghilang.
Abangnya kali ini sudah keterlaluan, bagaimana mungkin dia bisa lupa menjemput adiknya? Padahal kak Risa sudah mengingatkan berkali-kali.
__ADS_1
"Rani?" Rani langsung menoleh ke arah asal suara yang memanggil namanya.
"Pak guru," Rani berjalan ke arah gurunya. Dengan tingkah sopan yang sudah di ajarkan, Rani mencium tangan gurunya itu.
"Kok belum pulang?" Tanya guru Rani yang tak lain bernama Ahmad.
Guru Rani ini adalah salah satu guru muda di SD itu, beliau adalah guru di bagian agama Islam, Semua murid begitu nyaman jika belajar dengan Ahmad. Kalau kata mereka pak Ahmad adalah tipe guru yang mengajar tak pernah membosankan dan membentak, Ahmad memberikan kesan nyaman buat murid-muridnya dengan tingkah laku baik dan ramah.
"Abang Rani belum jemput," Air mata mulai menggenang lagi di pelupuk mata Rani.
"Oalah, Ya udah, gimana kalau bapak antar? Ini udah hampir malam loh?" Mendengar tawaran itu, Rani tersenyum senang dan langsung mengangguk setuju.
Akhirnya dia bisa pulang juga, dan pergi dari sekolah yang memberikannya sosok penampakan yang mengerikan itu. Sekolah ini penuh dengan sosok tentara yang terluka, bahkan ada beberapa yang bahkan sudah kehilangan anggota alat gerak mereka. Sungguh kasihan.
🐾🐾🐾🐾
"Makasih ya pak," Rani turun dari motor Ahmad, tak lupa dia menyalami gurunya itu sebelum pamit masuk ke rumah.
"Rani?" Ahmad yang tadinya mau membalas ucapan muridnya itu langsung tersentak kaget saat mendengar suara seseorang berteriak dari arah rumah.
"Kamu udah pulang? Mana si Rudi? Kamu pulang sama siapa?" Ahmad tersenyum manis melihat tingkah gadis yang ada di depannya itu.
Gadis itu tak lain adalah Risa, muka Risa sudah di penuhi rasa khawatir, terlihat gurat khawatir tergambar dari wajahnya.
"Rani di antar sama pak guru" Jawab Rani polos.
Risa langsung terdiam dari ocehannya, dia menutup mulutnya rapat-rapat. Betapa malunya Risa, melihat guru itu yang tersenyum melihat tingkahnya barusan.
__ADS_1
'Oh Risa, dimana tingkah sopanmu, memalukan banget tau gak!,'
"Saya Ahmad, guru agamanya Rani," Tiba-tiba saja guru itu memperkenalkan dirinya, yang membuat Risa bingung mau jawab apa.
"Ah iya, makasih banyak ya pak, udah mau antar Rani," Risa jadi salah tingkah, tak tau harus bagaimana cara mengembalikan imejnya yang sudah terlihat buruk di depan guru adiknya itu.
🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾🐾
Assalamualaikum....
sebelumnya terimakasih ya sudah mau jadikan ini bacaan kalian di waktu senggang. Terimakasih untuk semua dukungannya. Terimakasih untuk votenya😊.
Terimakasih untuk likenya.
Terimakasih untuk kritik dan sarannya.
Mohon dimaklumi ini cerita pertama author, jadi mohon saran dan kritikannya jika ada yang mengganjal atau menemukan kesalahan. Author akan dengan senang hati menerima saran dan kritikannya. Bagi Author itu juga sebagai pelajaran yang datang secara tidak langsung.
Dan maaf juga karena gak bisa up banyak-banyak, author punya kerja, kadang sampai malam, jadi sering capek gak ada waktu buat up. Tapi author bakalan terua usahain up malam harinya, jadi tungguin terus kelanjutannya ya....
Oh ya, author ada karya baru yang judulnya KONTRAK BERDARAH.
Cerita itu adalah sambungan dari cerita PETAKA DI RUMAH TUA ini. Di sana kalian akan temuin kepingan puzzle dari ending cerita PETAKA DI RUMAH TUA. Kalau gak baca itu juga gak masalah kok. Karena author pasti akan kasih jawaban buat semua teka-teki dari setiap episode di novel ini. Nantikan terus kelanjutannya. Dan kalau ada waktu tolong berikan dukungannya buat cerita baru author ya KONTRAK BERDARAH.
Salam buat semuanya,
Assalamualaikum😊
__ADS_1