
Baru juga keluar dari halaman rumah Ahmad, mereka langsung berpapasan dengan sebuah motor yang sangat di kenal Risa.
"Vin?" Risa menatap heran dengan keberadaan Kelvin yang tiba-tiba memblokir jalan mereka.
"Ngapain kamu di sini Sa? Kamu kenal Bima?" Tatapan Kelvin berpindah menatap datar ke arah Ahmad.
"Ee... gurunya Rani," jawab Risa singkat, tak mau panjang lebar, kayaknya suasana hati Kelvin sedang tidak baik.
Tapi bukankah itu agak sedikit aneh? Jangankan Risa, Rudi yang bodoh amatan dari tadi mulai mengerutkan keningnya merasa ada yang tak beres dengan si Ahmad. Sintia yang terkenal humoris tiba-tiba saja menjadi dingin kepada Bima. Lalu, Kelvin, dia juga ikut-ikutan menatap tak suka ke arah Ahmad.
Bisa jadi mungkin Kelvin cemburu? Tapi kenapa harus menatap seintens itu? Seakan-akan ada rasa muak yang sudah lama dia pendam.
"Kalian bertiga kemana aja? Mama kalian nelpon aku buat nyari kalian. Lain kali kalau mau pergi kasih tau ortu," Kali ini Risa benar-benar yakin kalau suasana hati Kelvin sangat buruk.
Cara bicaranya saja datar kayak permukaan kertas. Tambah lagi mata sipitnya yang membesar dengan susah payah.
"Itu Vin, aku... sebenarnya... ini..." Risa bingung mau menjelaskannya seperti apa.
Karena pertama kali dia nemuin masalah ini melibatkan Kelvin, tapi sekarang, dia malah membuat Kelvin tak tau apa-apa.
"Apaan Risa....?" Tanya Kelvin sambil melepas Helm di kepalanya, yang sepertinya mulai terasa gerah.
"Aku cari Kembarannya Nathan," jawab Risa akhirnya
"Hah... ternyata belum kelar? Aku kira udah kelar, gak pernah ngabarin lagi," nada bicara Kelvin sepertinya berubah kecewa.
"Ee... aku gak mau terus ngerepotin kamu Vin," Jawab Risa seadanya.
"Oh gitu, ngerepotin aku gak mau, tapi ngerepotin dia yang belum terlalu kamu kenal gak masalah ya Sa," mata Kelvin melirik ke arah Ahmad.
Ahmad yang di lirik menghela nafas, merasa bersalah. Padahal dia tak ada melakukan apapun sedari tadi.
"Udah deh bang, bukan gitu maksudnya kak Risa. Gitu aja udah marah, kalau tingkah abang kayak gini terus, maka masalalu pasti terulang lagi. Jangan posesif banget deh. Kak Risa berhak buat temenan dan minta bantuan sama siapa aja yang dia mau. Dan lagian, bang Ahmad ini, aku yang minta bantuan dia, bukan kak Risa. Kalau abang mau bantuin, ya udah ikut aja, jangan menghalangi jalan dong. Ini masalah udah mendesak banget," Sintia yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
Kelvin yang di serang mendadak oleh Sintia mengeraska rahangnya. Matanya menunjukkan rasa tak suka karena Sintia membahas masalalunya yang tak menyenangkan dengan enteng seakan-akan itu bukan masalah. Padahal Sintia sendir tau, masa lalunya sama sekali bukan hal yang enak untuk di bahas.
Risa dan kedua adiknya lagi-lagi di buat keheranan. Tunggu... apakah Sintia juga mengenal Kelvin? Masa lalu apa yang di maksud oleh Sintia?
"Hah... Risa, naik ke motor ku, biar aku yang bonceng kamunya. Sintia, lo aja yang sama Ahmad," tanpa minta persetujuan Risa, Kelvin langsung menarik tangan Risa.
Rani yang belum pandai mencerna kondisi hanya beranggapan kalau Kelvin saat ini sedang cemburu. Lihatlah, Kelvin berusaha menjauhkan Kakaknya dari Ahmad.
'Cinta yang merepotkan'
Batin Rani.
๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ
Lagi dan lagi, mereka harus kembali ke rumah itu, rumah besar yang berisi hantu yang Risa bilang kebanyakan bisu. Apa lagi pria tua yang ada di lantai atas. Seperti ingin mengatakan sesuatu tapi memilih untuk diam.
Ketiga motor itu sudah parkir di depan rumah yang besar tak terawat itu. Rudi langsung menggenggam tangan Rani saat merasakan sesuatu yang tak enak sedari tiba di sini. Rani yang menyadari aura di rumah ini sudah tak beres dan lebih menyeramkan dari sebelumnya memilih menyembunyikan badannya di belakang Rudi yang selalu siap menjadi tameng buat Rani.
Risa yang sudah turun dari motor Kelvin tak berani melangkah, entah kenapa dia terasa seperti tertarik oleh sesuatu. Jika dia mendekat sedikit saja, dia tak tau apa yang akan terjadi pada dirinya.
Kelvin yang belum mengerti segila apa kondisi yang bakalan dia temui tetap duduk santai di atas motor sambil memeluk helm yang telah lepas dari kepalanya. Tak lupa, sekali-kali dia merapikan anak rambutnya yang berantakan karena helm yang dia pakai.
Berbeda dengan yang lainnya, Sintia dan Ahmad malah melangkah mendekati rumah itu.
"Kalian gak usah ikut masuk, bahaya. Dan Rud, tolong tetap di dekat kak Risa, dia itu bisa di bawa oleh arwah jahat di sekitar sini. Dan Rani, tolong terus pantau kondisi, jika aura rumah ini makin pekat, segera kasih tau aku," kata Sintia memberi taukan seluk beluk yang dia tau agar lebih waspada.
"Dan gue ngapain?" Kelvin menunjuk ke arah dirinya.
"Abang di sini aja, bantuin Rudi jagain yang lainnya, jangan masuk. Dan nanti kalau udah selesai, aku bakalan ngabarin kak Risa, kakak nanti harus masuk dan pastinya harus di kawal sama kamu Rud," mendengar penuturan Sintia, Rudi dan Risa mengangguk paham begitu juga dengan Kelvin.
Tanpa banyak bicara, Ahmad langsung melangkah ke dalam rumah itu dengan berbekal tasbih di tangan kanannya.
"Kau akan meruqyah?" Tanya Kelvin agak sedikit berteriak.
__ADS_1
"Iya dek," jawab Ahmad yang di barengi embel-embel adek.
Yang membuat Kelvin bergidik jijik, benar-benar tak sudi di panggil adek oleh Ahmad. Musuh lamanya.
๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ
Saat pintu sempurna terbuka, maka jantung Sintia ikutan berdebar dengan kencangnya. Untuk yang kedua kalinya, Sintia bertemu rasa gugup yang sudah lama hilang bertahun-tahun yang lalu.
"Kamu yakin mau ikut masuk Sin?" Tanya Ahmad yang sekilas tak sengaja melihat ketakutan di wajah Sintia.
"Yakinlah, gue gak selemah dulu," jawab Sintia tanpa menatap mata Ahmad.
Lalu kemudian melenggang masuk duluan, meninggalkan Ahmad sejauh tiga langkah.
"Dia udah gak di sini," jelas Sintia saat melihat Ahmad yang mengedarkan pandangannya.
"Lalu dimana?" Tanya Ahmad heran.
"Kayaknya di lantai dua," Jawab Sintia setengah yakin.
Dia lalu berlari ke arah ruang makannya Claudi yang ada di lantai dua. Saat mereka berdua sampai di depan pintu itu, tiba-tiba saja pintu itu terdorong lepas dari engselnya dan melayang ke arah mereka.
Untung saja, Ahmad yang cepat tangkap langsung menarik Sintia untuk menghindari pintu yang tiba-tiba pandai terbang itu.
"Dia benar-benar kuat," kata Ahmad.
"Hah... gue udah kasih tau lo dari awal," sintia tiba-tiba bicara santai, yang membuat Ahmad tersenyum miring.
"Dan aku lebih fokus dari kamu Sin," ledek Ahmad yang membuat bibir Sintia manyun ke depan.
"Terserah lo deh," jawab Sintia sambil memutar bola matanya malas.
"HAHA...HAHA...HAHA..." Suara berat yang sedang tertawa itu menggema di dalam ruangan tanpa pentilasi itu.
Tawanya saja sudah buat bulu kuduk merinding, apalagi menghadapinya secara langsung?
"Gak usah takut, aku di sini. Semuanya akan baik-baik saja," jawab Ahmad sambil menepuk pundak Sintia pelan.
"Kita lihat nanti, apa perkataan lo itu bisa di percaya," lagi-lagi nada bicara Sintia bernada kesal.
"Kalau kamu gak percaya sama aku, kenapa minta bantuan aku Sin?" Tanya Ahmad menatap adik sepupunya itu dari belakang.
"Jangan geer bang, aku cuman mau kasih kamu kesempatan kedua, kalau kali ini abang gagal lagi. Lebih baik lo bunuh diri aja, biar gue jadi tenang," Jawab Sintia, sambil menepis tangan Ahmad yang tadi ada di bahunya.
Dengan langkah takut-takut dia mendekat ke dalam ruangan itu, yang dimana di sana sudah ada makhluk yang bersiap untuk melukainya, atau mungkin membunuhnya?
"haah... kalau pun kali ini berhasil, tetap saja, aku tak akan pernah memaafkan diriku yang dulu Sin, bukan hanya kamu dan Kelvin yang muak denganku, but... i hate myself," Ahmad bergeming sebelum akhirnya berjalan mendahului Sintia.
"HHEHEHE... LIhaaat. . siapa yang datang?" Suara Naell bergema seiring dengan keterkejutan dari wajah Sintia dan Ahmad yang tak percaya dengan apa yang nereka lihat.
Sekuat apa iblis itu? Sehingga urat-urat leher dan urat di wajah Naell menonjol dengan jelas, tak ketinggalan juga tatapan mata yang membuat nyali ciut seketika.
"Aku hamba Allah," jawab Ahmad, berusaha menyingkirkan rasa keterkejutannya.
"Cuih..." Naell membuang air liurnya kelantai, merasa jijik dengan pernyataan Ahmad.
"Hamba Allah? hamba Allah yang munafikkah?"
"Keluar dari tubuh anak itu," Ahmad tak menggubris pertanyaan Iblis yang berusaha memancing amarah Ahmad.
"Kalau aku tidak mau?"
"Maka aku akan membunuhmu," Jawab Ahmad sambil mendekat ke arah Naell selangkah demi selangkah.
"Ups... aku sangat ketakutan," nada bicara iblis itu terdengar mengejek sambil menyunggingkan seringaiannya.
Ahmad tersenyum mendengar perkataan Iblis itu. Tanpa menunggu waktu lagi, Bima mulainya dengan membaca surah Al-Fatihah, dan disusul ayat-ayat ruqyah lainnya.
__ADS_1
Tak mau kalah, Iblis itu terus berteriak, mengalahkan suara Bima yang sedang melantunkan ayat suci Al-Qur'an.
"JANGAN HARAP BISA MENGUSIRKU, INI HADIAHKU, PEMUDA INI ADALAH HAK KU, IBUNYA SENDIRI YANG MEMBERIKANNYA PADAKU! DIAMLAH! DAN ENYAHLAH! JANGAN MENGGANGGUKU!" Iblis itu berjalan cepat, ups bukan, tepatnya berlari ke arah Bima yang hanya berjarak tiga meter darinya.
BRAAK...
Sintia membulatkan matanya saat Ahmad melayang terdorong begitu saja menghempas dinding yang ada di belakangnya.
"Arh... gue lengah," Sintia berlari kearah Ahmad.
"ada yang luka?" Tanya Sintia panik, sambil melihat punggung Ahmad yang mendarat ke arah dinding itu dengan keras.
Ahmad tersenyum dan menggelengkan kepalanya tanda dia baik-baik saja.
"Apa kau tau? Orang yang kau tempati itu lebih berhak atas dirinya dari pada ibunya sendiri, tak ada nyawa yang berhak untuk kau ambil. Tidak ada! Tidak ada satu pun yang pantas untuk kau! Sadarlah, ini bukan tempatmu! Kau hanya makhluk rendah yang tak punya hak untuk satu pun nyawa manusia di sini, jadi pergilah sebelum kau akan musnah dari dunia ini dan takkan kembali ke duniamu lagi... alias mati," Telunjuk Ahmad terus mengarah ke arah Naell yang sekarang berjalan mundur, saat menyadari Ahmad yang melangkah maju.
"TIDAK! AKU BERHAK ATASNYA! MENYINGKIRLAH!," Iblis itu terpojok.
Ahmad tak mempedulikan lagi teriakan Iblis itu, dia melanjutkan bacaannya yang sempat terputus.
"AAA... AAARGH.... HENTIKAN!," Seperti terikat, dia tak bisa lagi bergerak ke samping.
Ahmad memegangi bahu Naell, tepatnya bukan memegang, tapi lebih kemenekan, sampai Naell terduduk olehnya.
"Mau keluar sendiri atau ku bunuh?" Tanya Ahmad dengan tatapan mengintimidasi.
"Aku takkan keluar!!!," tak mau kalah, terus belagak sombong.
Ahmad mengarahkan telunjuknya ke depan leher Naell. Seakan-akan itu sebuah pisau yang akan memenggal kepala Iblis itu.
Melihat Iblis itu tersudut, Sintia menyuruh Risa untuk masuk. Berniat untuk menghentikan pergerakan hantu lainnya yang akan masuk ke tubuh Naell jika saja Iblis itu benar-benar keluar.
"Kak Risa?" Sintia memanggilnya melalui telepati.
"Sin? Gimana?" Tanya Risa yang langsung merespon.
"Kakak masuk, kondisi mulai bisa di tangani bang Ahmad," mendengar pernyataan Sintia, Risa langsung berlari ke dalam rumah.
Melihat kakaknya yang tiba-tiba masuk, Rudi langsung berlari mengejar kakaknya.
"Kok gak abang tahan?" Tanya Kelvin yang hanya menatap dari tempat dia berdiri.
"Kata Risa kondisi sudah aman, jadi aku di suruh nunggu disini," jawab Kelvin.
"Aish... perasaan aku gak enak," Rudi melanjutkan larinya menyusul Risa yang sudah masuk duluan.
Baru saja akan melangkah melewati pintu, Rudi langsng terhenti mendengarkan teriaka Rani.
"Bang! Auranya pekat, auranya mulai pekat, aku rasa ada yang gak beres" Rani berteriak ketakutan, membuat Kelvin mendekatinya jaga-jaga takut terjadi sesuatu dengan Rani.
"Si*lan!, Bang, jagain Rani, kak Risa dala bahaya sekarang, aku bakalan nyusul kak Risa," mendengar itu Keringat mulai membasahi pelipis Kelvin.
Dia merasa takut dengan apa kemungkinan yang akan terjadi. Dia menutup matanya dan berharap kejadian di masalalu tak terulang lagi.
๐พ๐พ๐พ๐พ๐พ
Hai semuaaa...
Waduh... udah lebih sebulan author gak up๐ฃ. Author merasa bersalah banget sama yang nungguin kelanjutan dari ceritanya Risa...
Author ada keinginan buat lanjutin secepatnya, tapi waktu gak memungkin kan keinginan author waktu itu. Kebetulan akan memasuki bulan Ramadhan, kerjaan Author banyak, karena orderan baju yang cukuo membludak. Ngomong-ngomong author seorang penjahit. Gak bisa buat sekedar up episode baru, bahkan harus begadang biar kerja selesai tepat waktu.
Author minta maaf banget, sama sifat author yang gak bisa ngatur kegiatan sehari-hari dengan baik, sampai-sampai cerita ini terbengkalai.
Sedih saat lihat komentar kalian nungguin cerita author... iya, author gak profesional๐ฃ.Maafin ya... kadang kalau terdesak sama pekerjaan dan urusan rumah sering lupa up...
Padahal author juga pengen cerita ini cepat kelar, pengen semuanya selesai.... tapi malah gantung sebulan lebih... sekali lagi maaf ya...
__ADS_1
Kalau kondisi author udah stabil author bakalan up lagi