
POV AUTHOR
"Mau lo apa?" Risa yang menunggu sedari dua jam belakangan terkaget mendengar seseorang yang langsung berbicara dengan nada tinggi padanya. Dia membalikkan badan memastikan kalau itu memang si cowok kasar.
"Lo siapanya Nathan?" orang ini gak nyantai, Risa pun ikutan gak nyantai.
Muka Risa yang bertanya bodoh amat di balas kerutan kening tak suka dari cowok itu. Cowok itu kelihatan kesal, namun berusaha menahannya.
"Lo temannya?" Cowok itu malah bertanga balik kepada Risa.
Risa yang di tanya jadi gelagapan, Nathan dan dia tak bisa di bilang teman, mereka tak pernah berbicara, papasan di sekolah pun gak pernah. Risa tau Nathan palingan dari mulut-mulut cewek tukang gosip, atau sekedar melihatnya di perpustakaan sekolah. Istilah teman buat mereka benar-benar tidak cocok.
"Ee... iya, iya aku teman sekolahnya Nathan," kata Risa cepat berusaha agar tak terlihat mencurigaka.
di dalam hati Risa memohon maaf pada Tuhan, karena telah berbohong. Ini baru kali pertama buat Risa berbohong sama orang yang belum dia kenal.
"Kalau lo emang temannya, seharusnya sekali lihat saja lo udah tau, kalau gue saudara kembarnya Nathan. Lo buta ya? Gitu aja gak tau," jlep.... kata-kata cowok itu bagai pisau bermata dua yang langsung menusuk tepat di ulu hati Risa. Iyap mereka benar-benar mirip. Tapi Risa tadinya masih ragu aoa benar itu kembaran Nathan, atau jangan-jangan itu Nathan yang gentayangan.
"Lo gak Nathan kan? Maksud aku, lo itu gak hantu kan? Soalnya aku gak pernah dengar kalau Nathan punya saudara kembar," tanya Risa sambil mengarahkan telunjuknya ke wajah cowok itu.
"Lo gila ya? Nathan udah lama meninggal. Tapi seriusan Nathan gak pernah bilang atau cerita tentang gue?" Tanya cowok itu.
Risa mengangkat bahunya tanda tak tahu, ya mana dia tahu, semenjak kapan pernah ngobrol bareng Nathan.
"Jadi, kalian cuman berdua? Gak ada saudara lain?" Tanya Risa masih penuh selidik.
"Enggak," jawab cowok itu singkat.
"Jadi lo..."
"Lo suruh gue ke sini cuman mau nanyain itu? Sampai acara nyita barang gue cuman gara-gara pertanyaan ini?" Cowok itu langsung memotonh kalimat Risa yang belum sampai.
__ADS_1
"Hah... di sini aku yang bertanya, bukan Lo!," Risa menekankan kata-kata terakhirnya.
"Oh oke? Jadi lo mau nanya apa lagi? Setelah ini balikin gantungan kunci gue,"
"hmm.." Risa mengangguk mengiyakan.
"Jadi kalau gue gak salah tebak, nama lo itu NAELL?" Risa langsung fokus menatap mata cowok itu. Jaga-jaga kalau nanti dia ingin berbohong.
"Lo tau nama gue? Kok? Tapi kata lo, Nathan gak pernah cerita," Oke, tak ada tanda-tanda kebohongan di matanya.
Jadi ini dia Naell, orang yang di benci Nathan, itulah akibatnya kenapa Nathan tidak pernah cerita tentang Naell.
Saudara yang kembarnya benar-benar seiras ini, tak di sangka salah satu dari mereka memendam perasaan benci. Ternyata tak semua saudara kembar itu kompak, buktinya yang ini malah di kasih rasa benci oleh adik kembarnya.
"Lo tau gak? Aku... hmm... di datangin Nathan, dia sering datang di mimpi aku, kayaknya ada yang ingin dia sampaikan deh," Risa berterus terang padanya.
Bagaimana pun Risa membutuhkan bantuang Naell untuk bisa masuk ke rumah itu, hanya dia yang bisa mencari aoa yang di sembunyikan Nathan di rumah itu. Risa tak mau mengajak Naell bekerja sama dengan cara membohonginya terus-terusan.
Lalu kemudian dia terdiam dan menatap Risa dengan tatapan dingin itu lagi.
"Jangan jadikan kematian adik gue sebagai candaan, Lo tau? Itu gak lucu sama sekali!," Nadanya penuh penekanan dengan wajah yang mulai tak bersahabat.
Risa menggigit bibirnya takut, susah membuat orang yang tidak percaya hantu menjadi percaya, apa yang harus dia lakukan agar orang ini percaya?
"Sekarang kembalikan gantungan kunci gue," Dia menatap Risa datar, dan tangannya sudah mengulur minta barangnya di kembalikan.
"Ee... anu... itu..," Risa gelagapan saat menyadari dia membawa tas yang lain, sedangkan gantungan kunci itu ada di tas satunya lagi yang tadi pagi dia bawa.
"Apaan? Jangan bilang lo lupa bawa barang gue," mendengar itu Risa menunduk takut. Membenamkan kepalanya tak mau terlihat gugup di depan Neall.
"Haish... Sial! Lo tau gak sih sepenting apa barang itu buat gue! Jangan sok-sokan megang barang orang kalau gak bisa di jaga!" Kali ini nada bicara Naell naik satu oktaf.
__ADS_1
Untung saja Risa perempuan, kalau laki-laki sudah sedari tadi di tinju oleh Naell.
"Mm...Maa...maaf," Risa masih tak berani menatap wajah Naell.
Melihat Risa yang ketakutan membuat Naell juga tak tegaan.
'Apa aku terlalu keras dengannya?' pikir Naell.
"Ah sudahlah, besok siang lo harus datang ke sini lagi bawa punya gue. Kalau enggak, gue gak mau lagi lepasin lo!," Tak.... Risa terkunci.
Kali ini dia yang malah di peras Naell, niat tadi mau memanfaatkan Naell gagal total.
Naell berlalu pergi dengan rasa amarah yang masih berkecamuk di dadanya. Karena baginya gantungan kunci itu lebih berharga dari pada rumah tua yang sekarang dia huni. Baginya gantungan kunci itu sudah seperti nyawa saudaranya. Benar-benar berharga.
"Haiish... gimana nih? supaya dia percaya sama aku? Supaya dia tau kalau hantu itu ada?" Risa berbicara sendiri di taman yang sudah mulai gelap.
"Mau aku bantu?" Risa terkaget dan langsung meembalikkan badannya.
Tak ada siapa-siapa, lalu yang berbicara tadi ?
"Hey, aku di atas mu," Sekali lagi Risa terkaget dan mendongakkan kepalanya ke atas.
"Hantu?" Risa menunjuk ke arah gadis yang memanjat di atas pohon, iyap dia sedang memanjat dengan keadaan memeluk pohon itu. Bajunya gaun pendek berwarna hitam dengan kerah baju berwarna putih, rambut panjangnya terikat rapi.
Dia terlihat normal dari pada hantu yang banyak di temui Risa, cantik dan imut, tidak ada yang menyeramkan, hanya saja dia terlihat sangat pucat. Benar-benar pucat tanpa daeah yang mengalir di tubuhnya.
"Kau bisa membantu ku?" Tanya Risa sepertinya mendapatkan teman baru.
"Tentu saja, tenang aku tidak akn mengambil keuntungan dari mu, aku hanya butuh teman, dan aku senang kau sepertinya orang baik," hantu itu tersenyum.
Membuat wajah cantiknya semakin cantik. Sepertinya semasa hidup dia adalah gadis cantik nan ceria. Benar-benar bersinar, bahkaj sudah mati sekali pun.
__ADS_1