
"Nda? Itu kamu?" Risa sekarang berdiri tepat di depan arwah yang dia panggil Linda.
Bukannya menjawab Linda malah tersenyum dengan wajah pilu itu. Seragam sekolah yang di kenakan Linda membuat dia terlihat persis seperti masa sekolah dulu, rambut pendek sebahu, dan tubuh tinggi semampai. Namun sayang, wajahnya begitu pucat.
"Nda, aku mohon ngomong dong, jangan buat aku terus-terusan bingung kayak gini," Risa tak bisa menahan air matanya, dan akhirnya gadis itu menangis juga.
"Bukan Nathan pelakunya, bukan Nathan yang membunuhnya Sa, bukan dia," Linda akhirnya mengeluarkan suaranya dari bibir pucat itu.
Risa terdiam dengan kening ysng berkerut. Apa maksud Linda? Bukan Nathan pembunuhnya? Pembunuh siapa? Apa perempuan yang tergantung di gudang ruang musik? Apakah itu yang di maksud Linda?.
Risa tak menjawan dia diam dalam pikirannya yang berkecamuk, otaknya masih berfikir, tanpa dia sadari jam terus berjalan, waktu dia di runah semakin sedikit.
"Membunuh siapa Nda? Siapa yang di bunuh Nathan? Siapa yang meninggal?" Risa menggaruk tengkuknya bingung.
"Sudah ku bulang Nathan bukan pembunuh! Itu buka kesalahan Nathan! Itu kesalah perempuan itu sendiri! Dia sendiri yang membuat dirinya bertemu maut," Linda berteriak frustasi.
Apakah Linda sedekat itu dengan Nathan? Sampai semarah itu karena Risa mengatakan Nathan pembunuh?
"Perempuan siapa Nda? Siapa sih? Tolong jelasin, biar aku bisa selesaikan ini semua," Risa kali ini kesal, dia mencoba menggapai tangan Linda. Namun nihil tak ada yang bisa dia sentuh dari Linda.
"Kamu sudah hampir bertemu dengan perempuan itu, dia ada di dalam kotak itu, cari tau tentang dia, temukan kebusukannya, dengan begitu Nathan takkan di tuduh pembunuh lagi, temukan buktinya Sa, aku mohon, dengan begitu siapa yang membunuh aku pun akan terungkap, bukankah itu yang ingin kamu cari? Pembunuhku?" Jelas Linda.
__ADS_1
"Jadi... kamu memang di bunuh? Bukan bunuh diri?" Nafas Risa memburu di dadanya. Entah kenapa dia merasa begitu marah. Linda di bunuh? Kenapa? Apa motifnya? Tidak, kenapa dia tidak mengetahui kalau Linda di bunuh? Sahabat apaan Dia?.
"Iya Risa, bantu aku kembali tenang, bantu aku membawa Nathan pulang," senyum mekar juga akhirnya di pipi Linda.
Melihat itu Risa semakin yakin betapa istimewanya seorang Nathan untuk Linda. Apa jangan-jangan gadis yang istimewa itu adalah Linda? Wah... kenapa cinta mereka berakhir kematian seperti ini?
"Jadi Nda..." baru saja Risa ingin bertanya kembali, Linda sudah hilang dari hadapannya. Menyisakan dia yang terdiam sendiri di kamarnya.
"Kotak itu?, benar! Kata Linda, gadis itu ada di dalam kotak," Risa berlari ke arah kotak yang dia letakkan di dalam laci.
Tangannya membuka kotak itu dengan cepat dan mengambil kalung yang berbentuk love di sana. Liontin itu terbuka menunjukkan dua buah foto yang sudah hafal di kepala Risa. Seorang Pria yang entah itu Nathan atau Naell dan satu lagi perempuan dengan bagian wajah fotonya tidak lengkap.
Risa mendekatkan foto itu ke wajahnya berharap mengenal perempuan itu, atau setidak bisa mengingat sesuatu tentang foto itu. Dia terus meraba foto yang tak lengkap itu, berharap Risa bisa kembali masuk ke masalalu dan melihat siapa gadis ini. Namun nihil, Risa tetap di sini, di kamarnya. Tanpa ada tanda-tanda akan terlempar ke masalalu.
"Eh," Risa dengan cepat mengambil Liontin itu.
"Apa aku merusaknya?" Saat Risa mengambil liontin itu, kaca yang menempelkan foto itu di kalung pecah dan terlepas.
Dan yang terlepas hanyalah foto gadis itu, Risa mengambilnya dan tak sengaja melihat sisi belakang foto itu.
"Eh..." mata Risa membulat, ada namanya.
__ADS_1
Dan nama yang tertulis di situ adalah 'Cika?'
"Tunggu... siapa? Cika? Kayak pernah dengar namanya deh?" Risa kembali melihat foto itu lagi.
Kepalanya berdenyut saat tak sengaja menatap anting-anting yang di kenakan gadis itu. Berbentuk bintang kecil dan berwarna kuning dengan ada permata di tengahnya.
"Anting-antingnya gak asing deh? Eh?" Risa langsung berdiri kaget saat sesuatu terlintas di kepalanya. Saat sosok pemilik anting-anting ini mirip dengan orang yang ada di ingatannya.
"Tunggu! Apa maksudnya dia Cika? Cika teman Dimas? Benarkah?" Risa menutup mulutnya tak percaya. Kaget dengan apa yang dia simpulkan.
Kembali dia mengingat saat masalalu Nathan masuk dalam mimpinya, ada seorang perempuan di taman bunga. Yang mengenakan pita di belakang rambutnya, dan tinggi perempuan itu....
"Kalau di fikir-fikir tinggi mereka sama, bentuk tubuhnya juga, dan anting-anting ini sangat serupa. Bukankah rambut Cika juga agak sedikit pirang? Iya perempuan dalam mimpi itu juga memiliki rambut pirang. Wah.... Apa ini serius? Perempuan di foto ini Cika? Aku gak salah kan?" Risa terkejut sendiri dengan apa yang dia simpulkan.
Entah ini titik terang atau malah sebuah kesalahan. Risa tak tau, tapi ini bisa di coba menjadi kemajuan yang bagus. Dengan sigap dia meriah hpnya dan mencari nama Dimas di sana. Iya, dia harus menghubungi Dimas, dia tak punya nomor hp Cika tapi dia punya nomor ho Dimas. Semoga saja orang yang di tebak Risa benar.
Kali ini, dia akan melibatkan Dimas lagi, cowok cerewet yang pernah membuat kepalanya hampir pecah dulu.
Setidaknya, rumah tua pembawa petaka itu memberikan dia sediki bantuan dan beberapa teman baru yang bisa di mintai pertolongan. Bagus!
Risa tersenyum senang saat mendapati nomor Dimas di layar hpnya, entah apa kabar orang itu, mungkin dia akan sedikit kesal karena tak pernah mengabari sekali mengabari malah merepotkan.
__ADS_1
"Siapa yang peduli," Kata Risa lalu menekan panggilan di Hpnya.