Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Rencana Penyelamatan Diri 2


__ADS_3

"Ngomong-ngomong ini sisir siapa Vin? Seingatku kamu ke sini cuman bawa badan doang?" Tanya ku sambil berusaha membawa sisir itu melewati rambutku yang kusut ini.


"Sisir Dimas," dia menjawab dengan enteng tanpa rasa bersalah.


"Maksudmu, kamu ngambil sisir Dimas tanpa minta izin?" aku mengerutkan keningku.


Dan langsung melayangkan pukulan kuat ketangannya saat melihat dia cengegesan seperti itu.


"Gak apa-apa Sa, pakai aja,"Dimas menyauti di sela-sela kegaduhan yang aku dan Kelvin perbuat di pagi berembun ini.


"Ngomong-ngomong sekarang kita harus apa? Menunggu Sherly?" Kelvin duduk di sampingku yang sekarang sudah rapi dengan rambut di kucir ekor kuda.


"Entahlah, apa ada di sini yang tau cara memusnahkan hantu?"


Aku mengedarkan pandangan ke Dimas dan Kelvin tapi mereka sama-sama menggeleng. Sedangkan Ocha? Jangan di tanya, dia kembali melamun lagi, mungkin hanya badannya di sini, tapi kesadarannya entah ada dimana.

__ADS_1


"Cha, lebih baik kamu cerewet kayak biasanya aja deh, soalnya kalau kamu tetap diam kayak gitu serem tau gak," Kini aku mengalihkan pandangan ke arah Ocha.


Ajaib, Ocha membalas tatapan mataku sambil tersenyum lebar, suatu kelangkaan seorang Ocha tersenyum padaku. Percaya tak percaya, selarang bulu tanganku berdiri. Aku merinding melihat senyumannya.


"Aku sedang malas berbicara Sa," lagi-lagi suaranya terdengar datar.


"Seperti bukan kak Ocha," tiba-tiba seseorang menyaut dari belakang kami, ternyata itu Rudi.


Yang di katakan Rudi, sesuai dengan yang ada di benat ku, dia bertingkah seperti bukan Ocha yang asli. Kalau memang benar ini bukan Ocha, lantas dimana Ocha sekarang.


Tunggu dulu, jangan-jangan ini memang benar-benar Ocha tapi dia di rasuki. Hah... dua kemungkinan itu timbul di benatku, tapu aku tak berani menyampaikannya, takut nanti di bilang terlalu berhalusinasi.


"Jangan fokus dengan Ocha, fokus saja dengan tugas kalian memusnahkan arwah Tarjo itu," suara itu terdengar entah dari mana.


Walau tak terlihat wujudnya,kami sudah bisa menebak, suara anak-anak itu adalah suaranya Sherly.

__ADS_1


"Tapi kenapa dengan Ocha?" Dimas sepertinya masih mencemaskan Ocha.


"Gadis itu di masuki salah satu arwah di sini, tapi tenang saja, aku akan membantu Ocha," Tiba-tiba seseorang keluar dari pohon besar yang ada di dekat mereka itu.


Pagi begini, tak menghalangi mereka untuk muncul. Hah, Sebenarnya aku pun tak bisa mengatakan sekarang Pagi atau siang, karena pada dasarnya kami tak bisa melihat langit karena terhalang kabut tebal dari atas, sedangkan di sekitar kami, hanya ada kabut tipis namum cukup membawakan hawa dingin di sekitar hutan ini.


"Siapa yang merasukinya?" Risa bertanya kepada S, iya itu S yang keluar dari dalam pohon.


"Hanya bocah yang tak penting," kata S, sambil menatap bola mata Ocha dengan tajam.


Tak selang beberapa lama, Ocha terbatuk dan tak sadarkan diri.


"Apa yang kau lakukan?!" Dimas membentak setelah sempurna memangku Ocha yang pingsan.


"Aish... aku muak dengan manusia yang suka marah tak jelas seperti dia, bukannya berterimakasih malah membentakku. Kalau tau begitu aku biarkan saja bocah itu mengambul alih tubuh gadis manja itu," raut muka S menjadi kelam. Dia seperti sudah bersiap sedia membunuh Dimas sekarang juga.

__ADS_1


"Tenanglah S, Dimas hanya panik, dia khawatir dengan Ocha, kalau kau menyakitinya, itu hanya akan membuat kau kekurangan tenaga untuk membalaskan dendammu," Risa mencoba membujuk sekaligus menceramahi hantu pipi bolong itu.


Mendengar penuturan Risa, S hanya bisa menarik nafasnya kesal.


__ADS_2