
POV RANI
Aku menggeleng tidak percaya. Mereka bukan manusia? Tidak mungkin manusia mau memakan bangkai seperti itu.
"Kak, mau kemana? gak mau ikut makan sama kami?" Kata bocah yang berada di tengah-tengah.
Kakiku tak mau bergerak, tolong kaki, bekerja samalah sekarang. Ini tak aman. Keringat sudah bercucuran di pelipisku. Jika aku tetap di sini mungkin aku akan bernasib sama dengan monyet itu. Aduh, dosaku masih banyak, belum mau mati. Aku menggelengkan kepala ku kuat-kuat saat membayangkan tubuhku yang tergeletak di sana bukan si monyet malang.
"Kak.... kok diam?" Kata anak kecil yang ada di tengah, sambil memutar kepalanya seratus delapan puluh derajat seperti burung hantu.
Untuk yang kesekian kalinya aku kaget bukan main. Anak itu melap dagunya yang berlepotan karena darah santapannya, lalu tanpa aba-aba dia tersenyum padaku yang di ikuti kedua temannya.
Aku terus berusaha mwngangkat kakiku agar tak menempel terus pada tanah ini.
"Aku mohon, lepaslah!," Teriakku
BRAAK
Tubuhku langsung tersungkur ke tanah, saat aku menarik kaki dengan kuat, kakiku langsung terlepas dan keseimbangan langsung hilang.
Tanpa mengulur waktu aku berusaha berdiri walau punggung begitu sakit karena terhempas cukup kuat. Dengan cepat aku berlari menjauh dari ketiga hantu tengil itu. Aku tak peduli lagi dengan tawa mereka yabg semakin lama terdengar samar-samar dan menghilang.
TAAAK
"Aaauu..." aku menabrak sesuatu, tapi aku tak tau itu apa, semoga saja bukan hantu. Please percaya atau tidak hantu di sini terlihat lebih nyata. Aku bahkan mengira ke tiga bocah itu adalah manusia, dan ternyata mereka hanyalah hantu yang sedang dinner bertiga.
__ADS_1
Dan sekarang apa ini, kepalaku seperti jatuh di atas ranting pohon? Tapi ini rasanya lebih besar dari sebuah ranting. Aku ingin melihat tapi takut membuka mata. Bagaimana ini
SREEK
Benda yang di bawah kepalaku bergerak, tidak, aku mohon jangan takuti aku, bisa-bisa nanti nyawaku tak lagi di badan. Aku sendirian, bayangkan itu. Sendirian di tengah hutan yang di huni para makhluk astral. Ini bukan uji nyali, tapi aku ingin sekali melambaikan tangan ke kamera tanda tak kuat lagi. Tapi sayangnya jangankan kamera, nyaliku saja sudah tak tau dimana.
"Hei, mau sampai kapan kau menghimpit tanganku hantu sialan!" Rani terbelalak saat mendengar suara seorang laki-laki.
Apakah hantu ini hantu lupa diri? Dia bilang aku hantu sialan? Lalu dia hantu apa? Hantu jadi-jadian gitu?
"Bangun! Tanganku sudah pegal," tanpa rasa sopan santun dia mendorong kepalaku cukup kuat.
Wah, orang tuaku saja belum pernah mendorong kepalaku seperti itu. Kayaknya nih hantu sebelum mati gak di ajarin sopan santun sama orang tuanya.
Dengan beraninya aku melihat seperti apa wujud hantu itu. Seketika aku tertegun dalam beberapa saat.
Inikah hantu jadi-jadian itu? kok penampilannya modern banget? pake bawa tas segala, kok tas di bawa mati? heran aku!
Siapa yang lo bilang hantu, yang ada lo itu yang hantu," kata dia sambil menunjuk ke arahku dengan jarinya itu.
"Heh... aku bukan hantu ya, Aku masih hidup, lo kalau jadi hantu sendirian aja, jangan ngajak-ngajak dong," sekarang giliran aku yang menunjuk-nunjuknya.
"Lo belum mati? Lo seriusan manusia?" Tanyanya dengan kening berkerut.
"come on, lihat kakiku masih nyentuh tanah, aku nyata! Bukan gaib!, Ya elah," Kataku sambil menghentakkan kaki ku ke atas tanah berulang kali.
__ADS_1
"waah, akhirnya aku ketemu manusia juga," Katanya sambil mengelus dadanya lega.
"Tunggu dulu, Lo juga manusia?" Kali ini aku muali meragukan pendapatku yang mengatakan dia hantu, soalnya dia juga sama kayak aku. Menginjak bumi.
"Iya, dan ada dua teman ku juga di sana," dia menunjuk ke arah barat kami.
"Akhirnya, aku ketemu manusia, boleh aku ikut? Aku takut sendirian," tanpa malu aku memelas kepada orang yang baru aku temui.
Ayolah, di saat genting kayak gini, malu itu bisa di kesampingkan dulu.
"Boleh kok, lagian aku gak tega juga ninggalin lo sendirian. Ayo, " Dia berjalan di depanku, dan aku membiarkannya menuntun tanpa menolak.
"Oh ya, nama lo siapa?" Tanyanya sambil menyibak daun-daun yang menutupi jalan dengan tangannya.
"Aku Rani, Lo?"
Gak usah pakai embel-embel kakak atau abang kali ya? Dia kelihatannya seusia denganku.
"Aku Denis, salam kenal ya,Oh ya, Lo ngapain di tengah hutan sendirian Ran? Sambil bawa tas sebesar itu?" Tanyanya sambil menunjuk ke tasku yang menggelayut di pundakku.
"Aku mau cari kakak sama abangku, mereka sudah meghilang beberapa hari, dan aku yakin banget mereka hilang di sini,"
"Kalau giti kita sama, aku juga nyari abang aku, Bang Dimas, kita terpisah." Aku lihat ada raut wajah sedih di wajahnya.
Ternyata ada yang senasib denganku
__ADS_1