Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
21


__ADS_3

Kenangan di ciptakan bukan untuk di lupakan. Jangan menyesali sebuah pertemuan, karena semua yang telah terjadi selalu ada hikmahnya


🐾🐾🐾🐾🐾


Sontak, mata ku dan Naell melihat ke arah yang di tunjuk Sintia, Aku langsung membekap mulut takut akan teriak. Sedangkan Naell menyipitkan mata berusaha menangkap apa yang tak bisa dia lihat.


"Gua gak lihat apa pun," kata Naell sambil mengangkat bahunya dan melirik ke arah Sintia dan berhenti di aku.


"Kau segitu kagetnya? Hey.... Tidak ada apa-apa di sana. Jangan berakting lagi, apa kamu tidak capek?" Tanyanya Lalu menarik tanganku yang menutup mulutku dengan kasar.


Sakit, serius rasanya sakit banget. Tapi aku memilih diam dari pada membalas perkataannya, karena sekarang dia pasti belum percaya.


Dan bagaimana tidak kaget, hantu yang ku lihat sekarang benar-benar seperti habis mandi darah. Rambut panjang sepinggang dengan sedikit keriting sudah basah oleh darah yang tidak tau siapa pemilik darah itu. Keningnya pun terus mengeluarkan darah seperti habis di pukuli hingga retak. Baju yang berwarna biru muda itu sudah hampir sempurna basah oleh noda merah berbau amis itu. Dan ada sebuah boneka di tangan kirinya yang dia seret begitu saja sambil bolak balik naik turun tangga. Boneka kelinci berwarna keabu-abuan itu sepertinya juga ikut mandi darah dengan wanita paruh baya itu.


"Siapa itu Sin?" Aku tak menanggapi tingkah kasar Naell tadi. Yang ada di benatku sekarang, apakah orang ini juga termasuk dalam puzzle yang harus aku kumpulkan untuk mengetahui siapa Nathan?, kenapa dia meninggal? Dan apa hubungannya dengan Linda?


"Dia ibunya bang Naell, wanita yang bunuh diri ketika menghabisi seorang nyawa anak kecil," lagikan...

__ADS_1


Sintia bahkan tak memikirkan perasaan Naell saat menceritakan apa yang membuat wanita itu berlumuran darah. Dengan santainya Sintia bilang bahwa ibu Naell adalah pembunuh.


"Baiklah, aku sekarang percaya padamu, dan apa mau kalian kemari? Sampai-sampai mengungkit tentang ibuku cuman hanya untuk membuat aku percaya tentang arwah gentayangan?" Si hantu kecil itu tersenyum juga akhirnya melihat dia tak perlu berusaha keras membuat Naell percaya akan kehadirannya.


Dan ingat, ini semua berkat Sintia, si gadis ceplas ceplos atau si mulut ember.


"Bukankah aku sudah pernah bilang sama kamu Naell? Kalau Nathan mendatangiku meminta bantuan untuk menyelesaikan masalahnya yang belum terselesaikan?" Kataku agak sedikit malas.


Padahal sebelumnya aku sudah menjelaskan tujuan aku datang mencarinya, apa penjelasan aku waktu itu cuma di anggap angin lalu?


Naell menghembuskan nafasnya dan tersenyum kecut, dia lalu membuka pintu dengan lebar dan memberikan kami jalan untuk masuk. Dan untuk yang kedua kalinya kaki ku menginjak bagian dalam rumah ini.


Cuma bedanya dulu aku masuk tanpa di izinkan, dan sekarang di perbolehkan. Naell berjalan duluan di depan kami menuju ruang tamu yang ada di sebelah kiri. Di sana ada satu set sofa mewah yang berwarna hitam menambah elegan rumah yang tak banyak mendominasi warna ini. Hanya ada warna hitam dan abu-abu, selebihnya tak dapat di temukan di sini, bahkan perabotannya tak ada yang berwarna. Palingan ada satu-satu yang berwarna putih, seperti vas bunga dan bingkai foto.


Jangan salah, foto yang di panjang pun berwarna hitam putih, tapi ada satu foto yang sengaja di buat besar dan di bingkai warna emas. Iyap, itulah satu-satunya benda yang berwarna di sini. Kemarin aku tak terlalu memperhatikan, tapi sekarang aku bisa melihat jelas apa yang ada di dalam bingkai emas berukuran besar itu. Sebuah foto dengan di dalamnya ada tiga orang anak kecil, dua cowok dan satu perempuan. Yang perempuan menjalin rambut panjangnya dan di letakkan di samping kiri bahunya, sedangkan yang dua laki-laki lagi adalah anak kembar yang aku yakini itu adalah Naell dan Nathan, mereka terlihat tampan dengan rambut batok kelapa itu dengan di padukan baju sweter yang aku tak tau apa  warna aslinya karena juga di cetak dengan warna hitam putih.


"Itu bang Naell dengan almarhum bang Nathan, sedangkan yang perempuan kecil duduk di tengah-tengah itu kakak mereka, namanya Claudi," jelas Sintia sambil melipat tangannya di dada menatap kagum ke arah foto itu.

__ADS_1


"Kenapa kau tahu itu kak Claudi?" Tanya Naell sambil membawa dua gelas air minum, dan itu sekedar air tawar.


Oke, aku tak mau mempermasalahkan apa yang dia berikan kepada kami, toh kami juga datang secara tiba-tiba tanpa undangan tanpa harapan, benar-benar tamu yang tidak di inginkan.


"hmmm... bagaimana ya menjelaskannya, yang pasti aku tau itu dari apa yang aku lihat," Jawab Sintia sambil mengangkat kedua bahunya.


"Kenapa cuman foto kalian bertiga yang di bingkai dengan warna emas? Kenapa foto bersama orang tua tidak di bingkai emas, dan hanya di cetak ukuran sedang tidak sebesar foto kalian bertiga," kataku sambil menunjuk ke arah foto ketiga saudara itu lalu beralih menunjuk foto keluarga mereka yang ada di sisi lain dinding rumah.


"Mungkin karena orang tua kami lebih menganggap kami berharga dari pada diri mereka berdua," keningku berkerut tak paham. Tapi ya sudahlah, semua orang punya opini semdiri dan cara tersendiri untuk menunjukkan rasa cinta mereka kepada anak-anaknya.


Tapi tunggu dulu, kenapa tadi Sintia bilang, ibu Naell membunuh anak perempuan? Apakah anak perempuan yang dia bunuh adalah putrinya sendiri? Apakah membunuh salah satu cara menyampaikan rasa cinta orang tua?.


Karena bingung aku langsung melirik ke arah Sintia yang ternyata sedari tadi melihatku yang termenung.


"Nanti akan aku jelaskan, semua hal yang membuat kakak bingung," kata Sintia sambil tersenyum ke arah ku.


"Minumlah dulu, aku sudah capek bawa dari dapur gara-gara kalian," sambung Naell yang membuat aku benar-benar merasa seperti tamu yang tak di harapkan. Dia benar-benar kasar.

__ADS_1


__ADS_2