
"Oh iya kak, apa arti aura warna ungu dari bang Rudi?" Tanya Rani yang memecah percakapan antara Sintia dan Risa.
"Nanti kakak jelaskan, waktu kita sudah sampai di rumah," jawab Sintia lalu kembali fokus menatap Risa, berniat ingin membaca fikiran Risa.
"Oke... eh... warna auranya kak Risa warna merah jambu, tapi kok warnanya pucat?" Tanya Rani yang sepertinga memang berniat melihat aura kakaknya itu.
Mendengar penuturan Rani, Sintia agak sedikit tidak nyaman, dia berharap semoga saja Risa bisa lebih percaya dengan dirinya, dan tidak menyerah atau merasa kekurangan karena belum menemukan apa kelebihan pada dirinya sendiri.
Pada dasarnya manusia memang suka seperti itu. Saat melihat orang di sekitarnya sudah menemukan kelebihan mereka pasti dia akan merasa down, atau setidaknya merasa dirinya tidak berguna dan putus asa. Padahal kalau dia masih mau berusaha pasti akan menemukan apa yang dia punya, yang penting jangan putus asa dan merasa diri tidak berguna. Karena bagaimana pun, setiap manusia yang di ciptakan di dunia ini pasti ada gunanya. Percaya deh, Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan ciptaannya, semua ciptaan Tuhan pasti memilik arti tersendiri.
"Apa arti dari warna merah jambu," Kali ini Risa yang bertanya, sepertinya dia penasaran, tidak seperti Rudi yang memilih bodoh amat.
"Nanti aku jelasin ya kak," Sintia mengulang jawaban yang sama.
"Oo... abang itu sadar," Rani langsung menunjuk ke sebelah Rudi, dia berteriak ke senangan.
Namun kegirangan itu seketika menghilang saat melihat aura yang keluar dari tubuh Naell.
__ADS_1
'Warna hitam? Kok perasaan ku gak enak ya?'.
Baru saja tertangkap warna aura Naell tiba-tiba warna itu menghilang.
'Kok hilang?'.
Sintia yang bisa membaca pikiran Rani mengetahui bahwa warna aura Naell hitam namun tiba-tiba menghilang.
Perasaan Sintia menjdi kacau, saat melihat tatapan Naell lebih kosong dari pada biasanya.
'Argh!! Aku kecolongan, bahaya' Sintia mengungkapkan kekesalannya di dalam hati.
"Kita pulang sekarang, cepat!," Sintia menarik tangan Rani dan menatap Rudi memberikan isyarat untuk membawa Risa juga ikut keluar.
Rudi yang melihat wajah panik dari Sintia menyadari bahwa mereka dalam kondisi tidak aman. Rudi langsung menurut dan menarik tangan kakaknya, memaksa Risa untuk langsung berdiri dan berjalan tertarik Rudi.
Namun tiba-tiba tangan kanannya di tahan seseorang, Risa menyadari itu tangannya Naell.
__ADS_1
Saat Risa ingin membalikkan badan melihat Naell tiba-tiba saja Sintia melarangnya.
"Jangan lihat dia, Rud, lepaskan tangan kak Risa, lo gak bakalan bisa di pengaruhi dia, tapi kak Risa, dia gak puna kemampuan itu," kata Sintia.
"Maksud kamu apa sih Sin? Naell hantu gitu? Sampai bisa mempengaruhi aku?" Risa merasa kesal dengan Sintia yang sedari tadi was-was tak jelas.
"Terserah kakak mau nyimpulin kayak mana, aku gak mau ngambil resiko cuman gara-gara kakak yang gak mau dengerin," mata mereka saling beradu.
"AISH! Udahlah, lo! Lepasin tangan kakak gue," tangan Rudi menunjuk ke arah muka Naell, yang malah di balas tatapan dingin yang tak jelas artinya.
"Udahlah Rud, Sin, kita obatin dulu dianya, dia baru aja mimisan, juga baru aja sadar," Risa kali ini merendahkan nadanya, dia benar-benar tak tega meninggalkan Naell begitu saja.
"Aku gak mau mati cuman gara-gara bantu dia, Rud cepetan, sebelum tu makhluk semakin nguasain tubuh Naell. Kita gak bisa keluarin dia sekarang, aku gak bisa, kita harus temuin dulu temen ku yang mampu ngeluarin makhluk itu dari tubuh Naell," Rudi mengangguk sedangkan kening Risa mengerut.
"Maksudmu dia kesurupan?" Lagi, Risa melontarkan pertanyaan yang membuat kepala Sintia semakin pusing.
Tapi kali ini dia memilih diam, capek sedari tadi bilang kalau mau di jelasin di rumah Risa saja, kenapa Risa masih terus bertanya? Tidakkah dia mengerti kalau mereka dalam kondisi tidak aman?.
__ADS_1
"AAAU..." Risa meringis kesakitan saat Naell semakin kuat menggenggam pergelangan tangannya, sedangkan Rudi sudah sedari tadi berusaha melepaskan tangan Naell, namun tenaganya belum cukup kuat.