
Semua kaget, tak ada yang menyangka, Bahwa Risa melemparkan pasir tepat ke mata Kintan. Wanita tua itu terus berteriak ke sakitan karena matanya di masuki pasir yang di lempar Risa.
"Ambil tengkoraknya!," Risa memerintahkan itu entah pada siapa.
Mengerti, Kelvin berlari ke arah Tengkorak itu di gantung. Tanpa rasa jijik dia meraih tengkorak tarjo dan membawanya keluar bersama yang lain.
"Cepat, kita ke ruang bawah tanah," Risa berlari di depan menuntun mereka ke arah kamar Risa.
Semua terkejut sekaligus takjub dengan apa yang terlihat, lemari itu memiliki ruangan. Ruangan yang sangat mengerikan.
"Apa ini?" Cika merapatkan tubuhnya pada Rani yang ada di sampingnya.
"Kau melihat rumah ini begitu kotor?" Tanya Risa heran.
Bukankah tadi hanya Dimas, Rani dan dirinya saja yang tau akan kondisi rumah yang sebenarnya?
Tapi kenapa sekarang yang lain juga tau?
"Iya, kayak udah lama gak di tempati," Kata Cika tapi masih sambil melangkah menuruni tangga.
"Berarti ilusinya mulai menghilang, kalian hampir selesai, sedikit lagi, kita akan berhasil," itu Sherly dia sudah menunggu di bawah, berdiri tepat di atas jasadnya sendiri.
Kali ini tatapan Sherly terlihat sedikit teduh, dia terlihat melunak, tidak segarang biasanya. Walau mulut sobeknya itu tak juga minggat dari wajahnya. Tapi semua orang bisa merasakan, kali ini Sherly agak sedikit bersahabat.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Cika yang sekarang sudah terduduk.
Mendengar pertanyaan Cika, Rani dan Risa saling tatap, entah kenapa senyum mengembang di bibir kedua gadis itu. Sepertinya mereka sudah membuat rencana tanpa sepengetahuan yang lain.
"Kita tinggal menunggu Tarjo dan Kintan datang," Jawab Sherly.
"Kenapa harus menunggu Tarjo juga? Bukankah kita cuman butuh Kintan untuk menghabisi tengkorak ini? Kalau menunggu Tarjo juga sama saja kita cari mati!," Denis masih dengan tingkah blak-blakkannya.
Sherly mengerti dengan kebingungan mereka, tapi dia begitu malas untuk menjelaskannya. Mulut sobeknya itu sepertinya sedang malas ngomong panjang lebar.
"Saat Kintan menusuk tengkorak ini harus dalam keadaan ingin membunuh, karena jika tidak, Tarjo takkan hancur," jelas Kintan yang sama sekali tak nyambung dengan pertanyaan Denis.
"Kau gila? Mana mungkin dia melakukan itu! Dan satu lagi, pertanyaanku tak sesuai dengan jawabanmu itu!," Denis menjawab dengan sedikit emosi.
Bagaimana tidak emosi? Lain yang di tanya, lain pula yang di jawab, terkadang hampir saja dia mengeluarkan kata kasar kepada gadis kecil itu. Untung saja dia masih sadar untuk tak bertindak kurang ajar.
"Hah... Tarjo harus melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Kintan telah membunuhnya, karena saat Tarjo dekat dengan jasadnya itu akan membuat dia tersambung secara tidak langsung dengan jasad ini," jelas Rani yang sama sekali tidak di mengerti.
"Aku tidak paham, lalu untuk apa dia mengambil tangan Kanan Liam dan kaki kanan Ocha?"Cika yang pemikirannya di bawah rata-rata itu kini ikut berfikir keras akan rangkaian kejadian yang tak masuk di akal ini.
"Ambil kotak itu Cika," Sherly menunjuk ke arah kotak kayu yang terletak di atas meja.
Cika dengan polosnya menurut begitu saja, meraih kotak itu dan membawanya ke hadapan Sherly.
"Lalu?" Cika menyodorkan kotak itu.
__ADS_1
Namun Sherly menggeleng pelan.
"Bukan aku, tapi kau yang buka sendiri," jelas Sherly dengan sedikit memberikan senyuman yang mengerikan itu.
"Aku?" Cika menunjuk wajahnya sendiri, dia mengedarkan pandangan ke sekitar.
Dan semua orang sepertinya menunggu Cika membuka kotak kayu yang misterius itu.
"Ah, baiklah aku buka," dengan perlahan tangan Cika mengangkat tutup kotak itu. Lalu.
"AAAA...."
Kotak itu jatuh beriringan dengan teriakan Cika yang membuat isi dalamnya tercecer keluar dari wadahnya.
"Astaga!," Risa menutup mulutnya tak percaya.
Sedangkan Rani langsung memalingkan pandangannya sambil terus mengucap istighfar berkali-kali.
Begitu juga dengan ke empat pria itu yang tak berniat melihat sepotong kaki dan tangan itu lama-lama. Ada rasa sakit di hati Dimas, saat melihat kaki itu terlempar begitu saja di atas lantai, itu milik Ocha dan tangan itu milik Liam.
Kintan benar-benar tak punya hati lagi, bagaimana bisa dia sama sekali tak merasa jijik atau takut mengumpulkan benda itu.
"Hahahahah... kalian sudah melihatnya kah? kalau begitu aku tinggal butuh telinga mu saha Risa, maka semuanya akan selesai." suara seseorang memecah keheningan yang tadi tercipta beberapa saat.
Dia adalah Kintan, yang masih dalam wujud mengerikannya.
Wajah Sherly berubah seketika, tatapannya seperti penuh amarah, tapi bukannya melampiaskan amarah dia malah menghilang dalam sekejap, meninggalka para anak muda di sana menggigil ketakutan.
"Aku takkan pernah mau memberikan telingaku, Sialan!," Ups, Risa berkata kasar kepada neneknya.
Dia fikir mungkin Rani akan marah mendengar dia berbicara seperti itu kepada orang yang lebih tua. Tapi di luar dugaan, saat Risa menatap Rani, Rani malah mengacungkan jempol tanda suka dengan kalimat kakaknya tadi.
Risa mengedipkan matanya tak percaya, adiknya memberikan jempol? Wah kalau begini tak perlu lagi menahan diri untuk si nenek itukan? Dia bisa berkata sesuka hati mulai sekarang!
"Bantu nenek sayang," Kintan maju dan yang lainnya mundur.
"Tidak!," Risa berteriak membuat gema berpantulan di ruangan itu.
Dia menatap ke arah Kelvin yang masih menjinjing kepala Tarjo dengan Jijik. Kali ini, rencananya harus berhasil! Kali ini, semuanya harus selesai! Dia sudah capek terus berada di alam gaib ini. Perutnya pun sudah sangat merindukan masakan ibunya. Demi apapun dia akan membuat Kintan sendiri yang akan menyelesaikan semua kekacauan ini.
"Aku sudah tau semuanya, siapa suami yang selama ini ingin kau bangkitkan! Manusia jahat dengan temperamental buruk! Buat apa kau membangkitkan orang kasar seperti dia? Kau gila? Sadar nenek tua! Sudah tua masih juga Bucin! Malu dong sama generasi muda," Risa berceloteh dengan harapan si nenek terpancing.
Dan yah, harapannya terkabul, wajah Kintan memerah karena marah, kapak yang tadi terjulur ke bawah kini sudah di angkat setinggi kepala. Kintan sudah siap menghabisi semua orang di sini.
"Mas!," Kintan memanggil suaminya, semua ketakutan sedangkan Rani dan Risa bernafas lega. Akhirnya Tarjo datang juga.
"Nek, lihat apa yang aku bawa," Rani mengacungkan Pedang kecil yang di keluarkan dari kompas itu ke atas.
Seketika mata kintan berbinar, dia sepertinya sudah merindukan benda itu.
__ADS_1
"Kembalikan, itu punya ku!," Kurang ajar emang.
Meminta tapi dengan kasar, dimana letak sopan santun nenek ini?
"Ya udah ini ambil aja," Rani melempar pedang itu bertepatan dengan Tarjo yang datang berdiri di samping kintan dengan memangku kepalanya.
Akhirnya yang di tunggu datang juga.
"Risa, adek mu itu sungguh bodoh, lihatlah dia memberikan aku senjata yang ganas ini, kau tau, senjata ini sangat jago dalam hal membunuh, pasti sangat cocok untuk mengiris telingamu itu, lalu racunnya akan membunuhmu dengan cepat," kata Kintan bangga sambil memainkan pedang itu di telapak tangannya.
" Oh ya? Emang kau bisa membunuhku? Coba saja!" Cika dan yang lainnya meringis mendengar penuturan Risa.
Mereka belum selesai kaget dari kedatangan Tarjo yang tiba-tiba lalu Rani dengan santainya memberikan senjata itu kepada Kintan. Di tambah lagi sekarang Risa menantang Kintan. Semuanya menatap takut.
Apalagi dengan Tarjo yang kepalanya terus saja meluncur dari leher si empunya. Tapi senyum Tarjo tak luput dari wajahnya, senyum mengejek!.
"Risa! Apa yang kau lakukan?" Kelvin berteriak kesal dengan gadis yang dia cintai ini.
Jantungnya berdegup kencang melihat tingkah berani Risa, dia takut, tingkah berani Risa bisa membawanya kepada malaikat mau dengan cepat. Kelvin belum siap kehilangan Risa.
"Kau sudah bosan hidup ya? Baiklah, nenek akan bantu kamu menemui kematian dengan cepat," Kintan tersenyum sinis.
Dengan cepat dia melempar pedang itu ke arah Risa. Saat melihat nenek yang siap-siap melempar Risa berteriak....
"Sekarang RAN....!!!!!!!,"
TAAAAK......
Semua mata terbuka lebar tak percaya, kaki Rani seketika lemas, tubuhnya terjatuh dengan bebas ke atas lantai. Untung saja, Kelvin dengan cepat menyambar tubuh adik sabahatnya itu.
Kintan melihat apa yang terjadi seketika terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Dengan perlahan dia menatap ke arah Tarjo yang ada di sebelahnya. Tarjo membeku, hantu itu tak bicara sepatah kata pun.
Itulah yang terjadi, pedang yang di lempar Kintan beriringan dengan Tengkorak yang di lemar Rani. Sebelum Kintan melempar pedang itu dengan cepat Rani meraih tengkorak yang ada di tangan Kelvin. Mungkin memang keberuntungan sedang bersama mereka, Tengkorak itu sampai di depan Risa duluan sehingga pedang itu menancap mantao di tengkorak itu.
"TIDAK....TIDAK....TIDAAAAK," Kintan berteriak histeris saat asap mulai keluar dari pedang yang menempel di tengkorak Tarjo,
Dalam sekejap asap itu memancing api yang membakar tengkorak itu.
AAAAAKH....
Tarjo berteriak kesakitan, dia melempar kepalanya menjauh berharap panas yang dia rasakan berkurang. Tapi begitulah cara kerjanya, tubuh dan kepala itu akan terbakar malam ini. Malam ini semua telah berakhir, malam ini kisah cinta Tarjo dan Kintan telah usai. Tarjo menghilang seiringan dengan suara teriakannya dan Kintan menggema.
Semua menatap kejadian hari ini, mereka menjadi saksi bahwa cinta mampu membuat orang gila dan berubah kriminal. Semuanya lega karena kisah cinta tak baik ini akhirnya berakhir happy ending buat mereka.
Perlahan-lahan cahaya matahari masuk kesela-sela celah dinding, Kintan yang tadinya penuh energi negatif akan arwah raksasa di badannya mulai melemah. Kaki yang tadi kuat berlari dan tangan yang tadi mampu menghancurkan pintu itu berakhir terkulai di atas debu tulang suaminya.
Rani dengan perasaan senang berlari ke arah kakaknya semua berpelukan, menangis bahagia, mereka akhirnya bisa pulang, mereka akhirnya bisa kembali ke rumah.
"Ini," Risa memberikan pedang kecil Rani yang teronggok di dekat debu tengkorak itu.
__ADS_1