
Mereka ada di mobil, dalam perjalanan pulang ke kota. Kali ini Risa ikut bersama keluarganya, dia tak jadi menemani sang nenek. Karena ibunya Sherly mengajukan diri untuk merawat nenek, dia bilang sebagai balas budi karena telah menemukan putrinya, walau hanya berupa jasad tak berkulit lagi, lebih tepatnya tinggal tulang-belulang.
Kelvin sudah pulang duluan beberapa jam sebelum mereka. Orang tua Kelvin memiliki pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan lama-lama. Semua mulai berjalan baik-baik saja. Tak ada rasa takut lagi, aman terkendali.
Dimas dan yang lainnya pun sudah pulang, entah dimana mereka tinggal, tak ada yang bertanya dari mana asal masing-masing. Semua sudah sibuk dengan perasaan mereka sendiri.
Warga desa pun sudah bisa bernafas lega, setidaknya orang yang selama ini meresahkan mereka sudah tertangkap. Kintan tak mati menyusul Tarjo. Dia malah menjadi orang gila yang terus menangis setiap sore dan diam seperti patung pagi harinya. Aneh, tak berbicara sepatah kata pun, hanya menangis lalu diam seperti patung. Setiap ada yang bertanya Kintan hanya menatap mereka dengan wajah tak bersahabat, tak ada yang tau ada apa dengan Kintan.
Tak mau pikir panjang, warga pun memilih menyerahkannya ke rumah sakit jiwa, itu lebih baik.
Sedangkan masalah senjata yang bersama Rani, entah kenapa nenek bilang senjata itu sudah bisa menyatu dengan Rani. Padahal Kintan masih hidup dan belum menyerahkan senjara itu padanya. Berbeda dengan Risa, dia mendapatkan senjata turun temurun dari nenek Intan. Dia mengambil tusuk konde yang terus menghiasi sanggulnya.
__ADS_1
Saat nenek meletakkan tusuk konde itu di tangan Risa tiba-tiba saja mutiara kecil yang ada di ujung konde itu berubah warna dari hitam menjadi merah. Semua orang terkejut melihat itu, berbeda dengan nenek yang tersenyum puas.
"Dia cocok untukmu," kata nenek sambil memasangkan tusuk konde itu ke rambut Risa.
Ada aura indah terpancar dari tubuh Risa dan Rani melihat itu. Yang lain, tak ada yang tau bahwa aura Risa telah berubah.
"Untuk aku mana nek?" Tanya Rudi tanpa ada basa-basi dan malu-malu.
"Loh? Sama siapa nek?" tanya Rudi bingung.
"Hmm, kau tak perlu mencarinya, karena senjata itu sendiri yang akan mencarimu," jawab nenek sambil menyunggingkan senyum manisnya.
Ketiga saudara itu saling tatap, tapi tak ada yang ingin bertanya lagi. Mereka hanya mengangguk walau sebenarnya tak mengerti.
__ADS_1
🐾🐾🐾🐾
Kembali ke dalam mobil, sekarang posisi Rani ada di tengah-tengah antara Rudi dan Risa. Kedua kakaknya itu sangat sibuk dengan gadgetnya. Rani mendengus kesal.
Hanya ketika di hutan itu saja mereka bisa saling dekat, saling menjaga dan berbicara. Entah kenapa mengingat itu, Rani secara tidak langsung, berterima kasih kepada Kintan. Karena dia Rani bisa merasakan cinta dan kekhawatiran kakaknya.
Berbeda dari saat ini, Gadget sedang merebut kakaknya, Rani harus mengalah atau dia akan di tatap tak suka oleh kedua kakaknga itu.
Rani yang celingak-celinguk melihat pemandangan di luar mobil sekali-kali dia mengucapkan ke kagumannya atas ciptaan Tuhan.
OMG!, Rani langsung menutup mulutnya takut ketahuan. Dia tak mau ada orang lain yang tau bahwa dia barus saja melihat sesuatu.
Itu adalah hantu kecil yang ada di kamar Rani di kampung. Hantu itu menongolkan kepalanya tepat di depan kaca mobil, di depan ibu mereka. Dia tersenyum dia atas mobil masih melayang.
__ADS_1