Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Piano Berdarah


__ADS_3

POV RISA


Aku berlari menuju gerbang sekolah, perasaanku sudah campur aduk. Bukankah aneh? Apakah yang tadi itu nyata? Kenapa aku bisa melihat hantu sekarang? Aku fikir hanya bisa melihat mereka di alam mereka saja. Tapi ternyata aku bisa melihat mereka di sini juga.


Menakutkan!


"Risa!" ada yang memanggilku dan suara itu terdengar tidak asing. Aku mencari asal suara yang ternyata ada di belakangku.


Wah, aku berlari begitu tergesa, sampai tak sadar ada Kelvin di sini.


"Kelvin? Ngapain di sini?" Aku berbasa basi.


Tentu saja Kelvin ke sini dengan tujuan yang sama, yaitu untuk Linda.


"Sama kayak kamu lah, kok lari-lari gitu? Kenapa?" Kelvin mendekat kepadaku, dan seperti biasa, dia mengusap kepalaku seperti seekor kucing.


"Aku tadi..." tunggu, apa tak masalah menceritakannya kepada Kelvin.


Aku juga tak tau apakah yang ku lihat tadi nyata atau sekedar hayalanku. Pria yang memainkan piano tadi tiba-tiba jarinya terputus begitu saja, darah membekas di setiap not yang dia sentuh, pria itu berteriak ke sakitan tapi tangannya tak berhenti bermain. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Yah mungkin itu cuman sekedar hayalanku saja.

__ADS_1


"Kamu tadi kenapa Sa? Kok bengong?" Kelvin ternyata menunggu kelanjutan kalimatku.


"Ah, tidak ada," aku memilih untuk tak menceritakannya, mungkin itu memang khayalan ku saja.


"Kalau gitu, mau temanin aku gak ke labor fisika? Aku belum ke sana," tawaran Kelvin, membuat ku agak sedikit bimbang.


Entah kenapa rasa takut menguasai ku lagi, ayolah, itu cuman khayalan ku saja, apa yang perlu aku takutkan?


"Oke, ayo,"


Tidak seperti tadi, suasana kali ini terasa agak sedikit mencekam. Apa karena hari sudah mulai gelap. Jantungku berpacu cukup cepat, ketika melewati ruangan musik itu, sekilas ruangan musik itu terlihat kosong. Tapi entah kenapa aku seperti di perhatikan seseorang.


"Kita ke labor fisika dulu ya, hari udah mau malam loh Vin, jangan ngulur waktu," aku menarik lengan baju kemejanya.


Tak peduli dengan tatapan protesnya, yang penting sekarang harus menjauh dulu dari ruangan musik itu.


"Tunggu di sini ya?" Kelvin meninggalkanku 5 meter dari tempat dia berdiri sekarang.


Aku bisa melihat Kelvin berdoa begitu serius. Dia pasti sangat merindukan Linda sama seperti ku. Gadis yang ceria itu harus berakhir begitu saja. Awalnya aku merasa tak ikhlas akan kepergian Linda, namun seseorang telah membalas rasa dendam kami untuk Linda. Orang yang mencelakai Linda di temukan tewas setelah seminggu kematian Linda. Entahlah, apakah kami bisa di bilang lega atau tidak.

__ADS_1


Sekilah menutup kasus kematian Linda, tapi seminggu kemudian pelakunya di temukan tewas. Ada cerita yang tidak kami ketahui. Kenapa orang itu membunuh Linda, dan siapa yang membunuh orang itu? Tidak ada yang tau.


Yang masih kami ingat sekarang, di atas mayat itu ada sebuah flashdisk, yang isinya merekam pelaku pembunuh Linda. Aku sampai sekarang belum bisa berterimakasih secara langsung kepada orang yang telah membunuh penjahat itu.


"Sa, aku udah selesai, kita pulang?" Kelvin membuyarkan lamunanku yang baru saja mampir ke masa lalu.


"Iya, ayo, tapi lewat situ aja ya," aku memilih jalan lain tak mau melewati ruangan musik itu lagi.


"Hmm, oke," syukurlah, Kelvin tak bertanya dan langsung setuju.


Saat aku dan Kelvin akan pulang, samar-samar aku mendengar seseorang memanggil nama Linda. Benarkah itu? Atau telingaku salah dengar?


"Linda....." Suara itu terdengar lagi, bulu tanganku sudah berdiri sekarang. Suaranya terdengar lemah tapi cukup jelas. Dan itu seperti berasal dari ruang musik, benarkah?


"Vin? Kamu dengar ada suara yang manggil Linda gak?" tanyaku memastikan indra pendengaranku.


"Enggak tuh, kamu kecapean kali, gak ada suara apapun tuh," kata Kelvin dan aku yakin dia jujur.


Hah... benar, mungkin aku cuman kecapean. Atau mungkin karena aku merindukan Linda. Jadi terngiang-ngiang nama Linda. Yah mungkin saja.

__ADS_1


__ADS_2