
"Gue kangen di ganggu sama lo lagi Cha, gue kangen suara berisik lo, gue kangen pernyataan cinta lo yang selalu lo ucapin setiap hari. Cha, bukannya lo nungguin jawaban gue tentang perasaan gue ke lo? Tapi kenapa sebelum gue kasih tau lo tentang perasaan gue sebenarnya lo malah pergi Cha! Lo yang bilang ke gue, gue gak boleh ninggalin lo, Tapi kenapa sekarang lo yang malah ninggalin Gue??? OCHA... JAWAB GUE!"
Dimas berteriak hingga urat lehernya terlihat, bahkan teman-temannya yang berkumpul pun ikut kaget mendengar teriakan dimas.
'Dia benar-benar terluka, tapi sayangnya lo terlambat Mas.' Bisik Cika pada hatinya.
"Jadi kenapa kak Ocha gentayangan? sedangkan satu teman kalian yang meninggal tidak?" Pertanyaan Rudi meluncur begitu saja. Tapi memikirkan keaadaan sekarang yang masih dalam suasana syok.
"Auu..." Rudi meringis saat merasakan pedih di pinggangnya, dan itu karena Rani.
Rudi menatap adiknya tak senang, kenapa mencubitnya? Tapi yang di tatap malah balik menatap tajam. Seakan-akan memberikan isyarat untuk tak berisik.
Rudi yang baru sadar menutup mulutnya dengan perasaan bersalah, lihatlah sekarang semua orang berduka, dia malah mengungkit arwah Ocha yang gentayangan.
"Iya aneh, kenapa cuman kak Ocha yang gentayangan? Kenapa bang Liam tidak?" Oke, kali ini Rudi ada yang membela, itu Denis.
__ADS_1
Rani menggelengkan kepala tak mengerti dengan pemikiran Denis. Ayolah, abangnya masih syok dan dalam suasana haru, kenapa harus membahas ini sekarang, yah walau pun itu memang sedikit aneh.
Dari awal dia bertemu Denis, dia yakin cowok ini lain dari yang lainnya. Tak ada dia temui wajah takut di muka cowok satu ini. Tapi entahlah jika nanti bertemu hantu, apakah dia masih akan tetap mempertahankan muka Songongnya itu?
Rani menggeleng lagi tanda tak tau apa jawabannya tentang Denis itu.
WUSH...
Angin berhembus pelan, tapi sudah cukup membuat siapa pun merinding.
Rani menelan ludah, tanda dia tau ada yang datang.
Dan hebat, Denis sama sekali tak mundur atau bergeming, seakan-akan dia sudah tau bahwa Sherly akan datang. Rani menelan ludahnya, hantu ini, masih dengan mulut sobeknya, menjijikkan.
"Oke, tunggu sampai abang gue balik," jawab Denis santai sambil membalas tatapan Sherly.
__ADS_1
Sherly melihat keberanian Denis, tersenyum lebar, dia menemukan orang yang berani, ini akan semakin mempermudah keinginannya untuk memusnahkan Tarjo.
"Kalau begitu bawa dia kemari, waktu kita tak banyak lagi," titah Sherly pada Denis.
Mendengar Sherly yang menyuruhnya sesuka hati membuat Denis menghela napasnya.
"Jangan menyuruhku!" Jawab Denis lantang.
"Kau berani melawanku? Wah hebat!, kau kira itu keren?" Sherly terlihat kesal kali ini.
"Tidak ada yang ingin terlihat keren! Aku hanya tak suka di suruh-suruh!," Kepala kerasnya Denis ternyata tak mau melunak.
Semua yang melihat menjadi tegang. Kelvin merasa senang, setidaknya hantu ini harus di kasari! Tidak ada sopan santunnya sedikit pun.
Sedangkan Risa dan Rudi hanya berdoa semoga Denis masih bisa bernafas setelah berani melawan Sherly. Lain halnya dengan Cika yang sudah menutup matanya dari awal kedatangan Sherly dengan kedua tangannya. Dia sudah takut di awal pertemuan.
__ADS_1
Melihat keadaan sekitar yang tak mendukung Rani menghela napasnya, kalau manusia keras kepala dan hantu keras kepala ini terus di biarkan begitu maka ini takkan selesai.
"Sudahlah, aku saja yang akan menemui bang Dimas, kalian jangan bertengkar lagi," Tanpa menunggu jawaban dari yang lainnya, Rani sudah berlari menuju Dimas.