Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Rencana di Mulai


__ADS_3

Semua orang menarik nafas frustasi, ini adalah kali pertama mereka bekerja sama dengan hantu. Hal yang benar-benar tak masuk di akal.


Bukannya menjawab S malah tersenyum ke arah Rani. Melihat itu Rudi dan Risa menjadi was-was.


Jangan adik ku lagi


Batin Risa.


"Gadis kecil, bukankah kau tau bagaimana cara memusnahkan Tarjo?" S bertanya kepada Rani.


"ya, aku tau," semua yang mendengar itu terkejut. Bocah kecil yang ingin mereka lindungi, yang terlihat lugu dari yang lainnya ternyata tau cara memusnahkan Tarjo.


"Bakar kepalanya," kata Rani sambil berjalan ke arah Risa.


"Itu tidak mudah Ran," Denis menyaut dengan agak sedikit jengkel.

__ADS_1


Dengan entengnya Rani bilang membakar kepalanya? Ayolah, semua orang tau itu tak semudah membalik telapak tangan. Cewek ini benar-benar masih kecil. Semuanya dia anggap enteng.


"Aku tau itu susah, makanya kita bikin rencana," kata Rani mulai kesal melihat Denis yang meremehkannya.


Denis yang mendengar itu menertawakan Rani. Dia benar-benar tak percaya dengan bocah ingusan itu. Apa yang bisa di lakukan anak sekecil itu? Palingan cuman main dan belajar lalu makan dan tidur. Tak lebih!.


Bagi Denis anak perempuan itu manja. Tak bisa di andalkan. Lihatlah, mendiang Ocha dan Cika. Mereka mau ikut dengan Dimas hanya ingin menunjukkan diri atau tepatnya sekedar pamer. Akibatnya mereka sampai di tempat seperti ini.


Bukan asal terdampar di hutan terkutuk ini, rombongan Dimas sampai di sini itu semua karena tingkah kekanakannya Ocha. Perempuan itu berlagak tau jalan, berlagak sok memimpin.


Dan Denis sadar itu hanyalah cara agar menarik perhatian abangnya. Perempuan terkadang tak segan menjadi rendahan hanya karena cinta. Ah... Memuakkan memang.


"HeY... Apa yang kau tau? Jangan sok hebat, di saat seperti ini serahkan saja pada yang lebih dewasa. Bocah ingusan seperti mu lebih baik diam saja dan menurut. Oke?" Kata-kata yang di keluarkan Denis berhasil sepenuhnya menusuk hati Rani.


Pria ini kasar, dan tak punya etika, Dimas mendengar itu langsung memberikan isyarat untuk adiknya lebih baik diam. Dia tak mau merrka terpecah belah hanya karena mulut adiknya itu.

__ADS_1


Begitulah Dimas, dia tak suka memarahi adiknya di depan orang banyak. Jika memang salah, maka tunjukkan dan beritahu di saat tinggal berdua saja. Jangan di depan orang banyak! Karena itu bukan menasehati namanya, tetapi mempermalukan dia.


"Asal kau tau ya, aku lebih mengerti dari pada otak sempit mu itu! Kau yang lebih baik diam, dan dengarkan aku!" Tak bisa menahan diri. Rani mengacungkan telunjuknya ke arah Denis.


Dia sudah ada di ambang batas saat ini.


"Ayolah, jangan bertengkar! Kau Denis! Dengarkan saja Rani. Dia punya senjata! Dan hanya dia jugalah yang bisa membunuh Tarjo. Jadi kau jangan mengganggu dan menurut saja," Sherly melayang ke arah Denis.


Dan menekan tubuh denis dengan tangan pucatnya yang dingin itu. Denis meringis menahan agar tubuhnya tak terjatuh ke tanah. Mendengar dari kata-kata yang keluar dari mulutnya tadi. Jelas bahwa denis itu adalah tipe orang yang tak mau kalah. Lihatlah sekarang saja dia berani menentang Sherly.


SREEK...SREEK...


Seseorang datang, seperti suara kaki di seret. Semuanya berhenti fokus ke Denis, semua mata sekarang tertuju ke arah semak-semak di belakang Risa.


Kecuali kedua hantu itu yang seakan-akan sedang waspada. Rani sadar perubahan wajah dari kedua hantu itu.

__ADS_1


Ada yang tak beres.


Pikir Rani kemudian.


__ADS_2