
Setelah mendengar penjelasan hantu itu, Rani tertegun di ujung kasurnya. Dia bahkan tak mendengarkan lagi ocehan hantu itu yang terus memanggil Rani yang bengong. Rani baru sadar ada yang hilang dari dirinya. Ada yang dia tinggalkan. Tanpa Rani sadari air mata menetes dari pipinya. Rani menangis, dan lama-lama tangisan itu berupa isakan yang membuat seisi kamar menjadi penuh oleh suara tangis Rani.
"Maafin Rani ya Allah, maaf... Rani udah ngelupain kewajiban Rani buat shalat. Rani bahkan gak ada baca alquran semenjak ke kampung. Maafin Rani... Karena ke khawatiran sama kakak, Rani lupa segalanya. Maafin Rani, jangan marah sama Rani," Dia terus menangis sambil meremas bantal gulingnya yang ada di pelukannya itu.
"Ran, kamu kenapa sayang," mama muncul di balik pintu, sambil membawa makanan untuk Rani.
Wajah mama terlihat sangat khawatir melihat wajah putri bungsunya sidah di penuhi air mata, bahkan ingus pun sudah belepotan disana. Kenapa lagi dengn anaknya ini?
Dengan sigap Rani berlari kepelukan mamanya, dia melampiaskan tangis yang masih tertahan di hatinya. Tak seharusnya dia melupakan Tuhan yang selalu ada untuknya. Tak seharusnya Rani menjadi putus asa karena kehilangan kakaknya. Hanya karena masalah ini Rani lupa dengan Tuhan! Bukan kah itu keterlaluan?.
"Ran kamu kenapa sayang, coba cerita sama mama?" Mama mengusap kepala anaknya itu dengan lembut. Berharap yang di peluk bisa merasa lebih tenang.
__ADS_1
"Ma, Rani jahat sama Allah, Rani udah ninggalin shalat Rani, Rani bahkan gak pernah ngingat Allah semenjak kakak hilang, Rani jahat ma," jawab Rani sambil mengelap air matanya dengan ujung kerah baju mamanya.
Mama yang menyadari kerah bajunya jadi lap oleh anaknya hanya bisa menggeleng pasrah. Namun wajah pasrah tadi berubah menjadi wajah takjub, putri kecilnya yang belum baligh ini sudah begitu takut melupakan Allah dalam hidupnya. Dia pasti sangat merasa bersalah.
"Gak apa-apa sayang, Allah pasti ngerti kenapa Rani bsia lupa shalat," kata mama, berharap putrinya bisa berhenti menangis.
"Mama! Enggak ada alasan yang bisa kita buat untuk tidak shalat! Rani sudah salah! dan itu tidak bisa di bilang bukan apa apa!" Mama yang mendengar itu tersenyum bangga dengan putrinya.
"Kalau gitu sekarang Rani shalar Zhuhur ya? udah jam satu siang, mohon ampun sama Allah dama shalat Rani. Allah itu maha pemaaf, Rani tau kan?" Dengan sigap Rani menganggukkan kepala tanda tau.
Tanpa menunggu perintah mamanya itu, Rani sudah berjalan ke arah kamar mandi. Melewati hantu kecil yang berdiri di samping pintu itu.
__ADS_1
Yang tanpa Rani sadari, hantu itu menangis. Dia merasa iri dengan Rani yang mempunyai ibu sebaik itu dengannya. Tidak seperti hantu itu. Yang semasa hidupnya hanya mendapat makian dari ibunya. Perlahan hantu itu menggigit jari telunjuknya berusaha menahan tangisnya.
Bukan karena takut Rani terganggu dengan suara tangisannya, tapi lebih kepada tak sudi menangisi ibunya yang kejam itu. Dia tak mau membuang suaranya hanya untuk ibunya itu.
TAAAK
Jarinya putus karena di gigit terlalu kuat. Melihat jarinya yang putus membuat hantu itu tertawa. Dia berhenti menangis. Lihatlah, jarinya yang putus itu kembali tumbuh lagi. Dia terus tertawa sekuat-kuatnya hingga membuat Rani yang baru keluar dari kamar mandi menutup telinganya dengan kuat.
Padahal dia sangat membenci ibunya, tapi kenapa dia bisa sesedih ini mengingat wanita kejam itu? Bahkan sampai jarinya putus di gigit kuat karena menahan tangis.
"Kau kenapa?" Tanya Rani sambil merogoh tasnya, untuk mengambil telekung yang ada di situ.
__ADS_1
"Aku akan cerita, tapi setelah kau mengusir raksasa itu," katanya sambil menunjuk ke arah luar pintu kamar Rani.
"Ya..." kata Rani tak peduli.