Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Pria Berponi


__ADS_3

'Bukankah itu si pemain piano?' kata Risa dengan yakin.


Dia sangat yakin dengan apa yang di tangkap matanya. Tidak mungkin mata berbohong pada pemiliknyakan? Jadi pria yang berasal dari mimpinya waktu itu adalah temannya semasa sekolah dulu? pantas saja Risa merasa tak asing dengan wajah tampan itu.


"Tunggu dulu, bukankah namanya...." Risa terus memainkan telunjuknya berusaha mengingat siapa nama pria tampan itu.


"Nathan!, tunggu," teriak salah seorang perempuan di depan Risa.


"Nah itu dia! Namanya Nathan. Pria pendiam seantero sekolah, pria tertampan seangkatan namun tertutup banget, serta si culun yang jago bermain piano!, Itu Nathan!" Risa tersenyum senang bisa kembali mengingat orang yang terkenal pada masa dia sekolah dulu.


Tanpa di suruh, Risa kembali menyaksikan lanjutan dari rekaman masa lalu yang sedang di putar di depannya sekarang ini.


Seperti di film-film romantis, pria malang memilih menjauh dari gadisnya yang populer, dan si gadis tak terima itu sehingga mengejar sang pujaan hati. Risa terkekeh saat tak sengaja membayangkan salah satu adegan di film yang terkesan alay melintas di benatnya.


Bagaimana gak terbayang? Gadis yang berseragam basket itu dengan rambut panjang hitam ikalnya berlari ke arah Nathan, seperti tak ingin Nathan pergi darinya.


Dan perempuan itu adalah....

__ADS_1


"APAA!!!" Risa membekap mulutnya yang baru saja teriak dengan volume yang besar, ternyata gadis yang mengejar Nathan adalah sahabatnya, Linda! Perempuan tomboi yang sangat dia rindui.


TESS..


Tiba-tiba saja hujan turun, seiringan dengan wajah bengong dan air mata Risa yang mengalir siang ini.


Apakah harus senang atau sedih, Risa tak bisa memilih antara dua itu. Setelah beberapa tahun akhirnya dia bisa bertemu teman lamanya,namun sayangnya hanya melalui lift waktu yang tak mengizinkannya bertegur sapa dengan Linda


Hujan tak lebat hanya gerimis kecil namun sudah mampu bikin basah.


"Tan, jangan dengerin omongan mereka ya?" lamunan Risa buyar setelah mendengar penuturan dari Linda ke Nathan.


"Santai aja Lin, berteduh dulu yuk," Risa bisa melihat senyum manis yang di lemparkan Nathan pada Linda.


Dada Risa seketika terasa sakit dan sesak. Senyuman yang di berikan Nathan benar-benar sesuai dengan definisi yang di ceritakan Linda dulu. Linda pernah bilang "Saat dia tersenyum matanya juga ikut tersenyum 😊, kalau Risa lihat senyumnya pasti jadi adem. Pokoknya dia manis banget" kata Linda itu terngiang di telinga Risa.


"Baru kali ini aku lihat Linda terpana seperti itu," kata Risa kemudian, saat menyadari wajah bengong Linda saat di beri senyuman oleh Nathan

__ADS_1



(Kira-kira kayak gini senyumnya Nathan)


Saat sepasang sejoli itu berlari menembus gerimis tiba-tiba saja ada sesuatu yang terjatuh dari saku Nathan. Sebuah kotak yang Risa lihat sebelum pingsan. Kotak milik anak laki-laki yang duduk di samping Risa tadi.


"Tunggu! Apakah yang duduk di samping aku tadi Nathan? Jangan-jangan karena aku pegang kotak yang di sentuh Nathan sebelumnya aku jadi bisa masuk ke masalalu Nathan! Iya! pasti begitu! Tapi bukankah aku cuman bisa baca masalalu orang yang sudah meninggal? Apa jangan-jangan Nathan sudah meninggal?" Risa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.


Tak mau pusing terus, Risa memilih menggapi kotak yang terjatuh itu. Walau di tengah hujan Risa tak akan basah, toh sekarang dia seperti gas yang tak terlihat.


Saat Risa menggapai kotak itu, Risa langsung terkaget bukan main.


"Hebat! Aku bisa pegang kotaknya! Biasanya juga gak bisa pegang sesuatu saat masuk ke masalalu, tapi kotaknya bisa kebegang, syukurlah," kata Risa.


Baru saja mau membuka isi kotak itu, lagi-lagi kepala sakit Risa kambuh, Risa refleks meremas kepalanya yang mulai berdenyut. Muka Risa berubah kacau menahan sakitnya yang dia rasakan sekarang.


Seperti sebelumnya, kabut kembali menebal, semua tertutup kabut. Risa tak dapat melihat apapun bahkan tangannya saja tak bisa dia lihat.

__ADS_1


"Apa waktu traveling ke masalalu sudah habis?" Terka Risa.


__ADS_2