Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Gadis di luar kamar


__ADS_3

Risa menghempaskan tubuhnya di atas kasur tua itu. Tak ada barang baru di dalam rumah nenek. Semuanya berlabel usang, nenek tak tertarik dengan barang modern, katanya sudah tak cocok dengan usia yang sudah usang alias tua.


Bahkan lemari kamar pun modelnya benar-benar antik. Nenek pernah bilang, kalau lemari itu hadiah dari kakek saat kelahiran mama, dan karena lemari itulah, mama dan saudaranya menjadi renggang. Biasalah, iri antara sesama saudara, yang merasa di bedakan, padahal itu cuman sekedari perasaan mereka doang.


Sampai sekarang Risa dan saudaranya tak pernah bertemu dengan bibi mereka itu. Yang kabarnya sudah kehilang kedua putrinya. Risa cuma bisa berdoa, semoga hubungan antara keluarga ini tak semakin renggang, dan ada celah supaya bisa kembali bersatu.


"Kak, Dia ikut," Rani datang dari luar dengan lesu. Mukanya seperti menunjukkan ketidak sukaan. Bagaimana tidak suka, hantu itu semakin melunjak saja, sudah mending mau di bantuin, malah terus ngikutin, kalau gak percaya ya gak usah minta tolong.


"Liya?" Tanya Risa sambil bangun dari berbaringnya.


"Hmm," Rani mengangguk sebagai pertanda iya.


"Ya sudahlah, kita gak bisa melarang dia gak bakalan mau dengar," Kata Risa sambil merogoh isi tasnya.


Dia mengambil handuk dan bersiap untuk mandi. Badannya sudah meminta untuk di cuci.


"Rani mandi sesudah kakak ya?"


"Enggak ah, malas mandi, dingin kak," Jawab Rani sambil berjalan ke arah kasur. Bersiap tidur siang.


Melihat tingkah adiknya itu Risa hanya tersenyum manis. Adiknya mulai berani melawan dia, ya sudahlah, namanya juga anak-anak. Biarkan mereka melakukan hal yang mereka sukai dan meninggalkan hal yang tak mereka senangi. Lagian tugas orang dewasa bukan mengatur kehidupan anak-anak, melainkan menuntun mereka kejalan yang benar dan terutama yang mereka sukai.


"Ya udah kakak tinggal mandi dulu," Rani hanya mengangguk lalu menarik selimut berwarna abu-abu itu. Tak ada bau debu, sepertinya nenek sudah membersihkan kamar ini sebelum cucunya tempati.


Dalam sekejap gadis bernama Rani itu terlelap dalam mimpi dan melupakan lelahnya.


๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ

__ADS_1


Risa masuk ke dalam kamar sambil mengeringkan rambutnya yang baru saja di bilas. Sedangkan Rani sudah tertidur meninggalkan keadaan pakaian yang masih di dalam tas.


"Yah, belum di pindahin Raniย  ke dalam lemari," kata Risa sambil menarik tas yang paling dekat dengannya.


Tangan Risa lincah mengeluarkan baju yang ada di dalam tas kemudia memindahkannya ke dalam lemari tua milik nenek.


KREEK


Risa terkejut saat membuka pintu lemari itu. Dia tau kalau lemari itu sudah tua, bahkan lebih tua darinya, alias seumuran mama Risa. Hanya saja dia tidak memprediksi bahwa lemari ini akan mengeluarkan suara bila di buka.


"Benar-benar tua," kata Risa melanjutkan membuka pintu lemari itu yang pastinya semakin berbunyi kuat.


Risa melirik ke arah adiknya, takut kalau Rani terganggu, namun lihatlah, Rani tidak sedikit pun terganggu, seakan - akan menunjukkan ketenangan dari tidurnya itu.


"Rani ngantuk banget kayaknya, sampai gak terganggu gitu,"


Benar kata mama, nenek itu orangnya sangat bersih, tapi bagaimana dia membersihkan kamar? Sedangkan badannya saja sudah selemah itu.


Mungkinkah mamanya Sherly yang membersihkan semuanya? Tapi kenapa dia tak terlihat dari tadi?


Entahlah, Risa mana tau, dia saja baru datang.


Dari pada memikirkan itu, Risa malah memilih untuk pergi keluar, menyapu halaman rumah yang sepertinya sudah mulai di huni oleh daun-daun kering.


๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ


Rani terbangun dari tidurnya, matanya terbuka lebar karena kaget, yang pertama kali dia lihat adalah jendela yang terbuka menunjukkan langit gelap alias malam.

__ADS_1


"Astagfirullahalazim, tidur sampai malam? Gak shalat ashar sama magrib dong!," Rani menepuk keningnya kesal.


Baru kali ini Rani ketiduran selama ini, dia sudah ketinggalam shalat wajibnya. Apakah begitu lelah? Entahlah, seakan-akan tidurnya terasa begitu nyenyak.


Rani langsung berdiri dan berlari ke kamar mandi untuk segera mengambil wudhu setidaknya jangan sampai shalat Isa juga tak di laksanakan.


Saat keluar Rani melihat kakaknya dan nenek sedang mengobrol di teras rumah.


"Kok kakak gak bangunin Rani sih?" Rani ternyata masih kesal karena tidurnya yang begitu lama.


Tapi apa gunanya terus menggerutu kesal? Toh yang sudah terjadi takkan bisa di ulang lagi.


Rani langsung saja menunaikan shalatnya, dan Risa masih sibuk dengan sang nenek yang bercerita panjang lebar mengenai ibu Sherly yang selama ini merawatnya.


๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ


Rani menggantungkan telekungnya di belakang pintu. Dan tiba-tiba angin berhembus masuk ke dalam kamar, membuat rasa dingin menyerang Rani.


"Tutup jendelanya dulu deh, baru keluar," kata Rani sambil berjalan ke arah jendela yang masih terbuka.


Saat tangannya sempurna memegang pegangan jendela. Matanya langsung menangkap sesuatu yang aneh dan janggal.


"Malam-malam begini kok ada anak perempaun di belakang rumah?" Pikir Rani heran.


Rani tak mau mengurusi hidup orang, mungkin saja dia ada keperluan di situ. Namun tiba-tiba tangan Rani berubah gemetaran saat melihat gadis itu menatap ke arah Rani.


Matanya membulat besar, hanya satu mata. Sedangkan sebelah lagi tertutup oleh rambut ai gadis. Mata itu melotot seakan akan keluar dari kelopak mata.

__ADS_1


"YA TUHAN!" Rani berlari keluar mencari dimana kakaknua berada.


__ADS_2