Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Akhir Dari Masalah Liya 2


__ADS_3

POV RISA


Aku dan Rani terpaku melihat ke datangan Sendi yang tiba-tiba. Berbeda dengan wajah mama Sendi yang terlihat tenang seakan-akan sudah mengetahui kedatangan putri semata wayangnya itu. Tatapannya tenang namun siapa pun bisa menebak bahwa sekarang ada gejolak panas di hatinya melihat Sendi memegang tangan Liya dengan kasih sayang.


"Apa yang kamu lakukan Sendi?" Tanya mamanya dengan nada datar.


Tak ada nada tinggi atau rendah, walau pun begitu, tetap saja terdengar menakutkan.


"Ma, mama gak boleh terus membenci Liya terus ma, Liya gak salah, dan waktu itu ayah juga dalam keadaan mabuk. Percayalah ma, ayah itu gak berniat duain mama, dan walau pun memang benar begitu, mama tetap gak boleh benci Liya. Dia hanya terlahir secara tidak beruntung." aku dan Rani mengangguk setuju dengan perkataan Sendi barusan.


Wah, ternyata Sendi yang garang itu bisa berbicara dengan benar juga. Awalnya kami tak percaya mendengar penuturan dari mulut sendi itu. Kami berfikir dia hanya sekedar bercanda? Atau berpura-pura? Tapi saat melihat ke mata hitamnya itu, terlihat ketulusan di dalamnya. Apakah dia sudah memaafkan Liya? Oh bukan, apakah dia sudah mau mempercayai kebenaran bahwa Liya tak pernah menggoda Bima?


"Apa yang kamu katakan? Jangan bercanda Sen. Dia sudah membuat ayah mu meninggal, ingat itu," sepertinya dia ingin membuat Sendi kembali mengingat kejadian pilu tentang kematian ayahnya karena menyelamatkan Liya yang terjatuh di jurang.

__ADS_1


Benar-benar ibu yang jahat, seharusnya seorang ibu itu menanamkan rasa simpati, jujur, baik hati dan tak membiarkan hati anaknya memiliki rasa iri, sombong dan benci. Dia benar-benar ibu yang buruk. Sebisa mungkin menanamkan rasa benci di hati anaknya. Ini bukan contoh ya baik.


"Ma, kematian itu pasti, kita tak bisa menyalahkan siapa pun, jika Tuhan berkehendak apa yang bisa kita lakukan? Lagian bukan Liya yang membunuh ayah, Liya masih sangat kecik waktu itu. Itu semua adalah takdir, tak ada yang bisa melawannya," Sendi sebisa mungkin membersihkan nama adiknya di hati mama.


"Aku tidak setuju Sen, aku tetap membencinya! Jika kamu memang sayang sama mama, jangan dekati dia, jangan buat hatinya tenang, biarkan saja dia tersiksa di dunia ini," wanita itu berjalan mendekat ke arah putrinya, membulatkan mata berusaha menggertak Sendi.


Sendi yang di gertak hanya tersenyum, seakan-akan merasa baik-baik saja. Namun air mata mengalir di matanya.


"Jadi mama tetap membenci Liya? Dengan alasan dia telah menjadi penyebab ayah meninggal dan ibunya merusak rumah tangga mama?" Sendi menyimpulkan dua masalah yang terus di jadikan alasan mamanya untuk terus membenci Liya.


"Tentu saja. Kesalahan dia sudah besar! Tak pantas di maafkan," jawab wanita itu dengan percaya dirinya.


Aku, Rani dan Sendi kesal mendengarnya. Tanganku menggepal mendengar perkataan wanita itu. Kedua kesalahan yang dia bilang tadi benar-benar tidak utuh karena Liya semata. Liya bukan dalang dari semua masalah ini. Dia hanya korban yang empuk di jadikan kambing hitam.

__ADS_1


Tak lama setelah itu Sendi tertawa dengan keras. Membuat pipinya yang berlubang gerak turun hingga aku berpaling muka tak sedap melihat Sendi yang tertawa.


"Ma, sebelum menyalahkan Liya akan semuanya, mama harusnya juga menyalahkan diri mama sendiri akan semua kekacauan yang terjadi di keluarga kita serta di kampung ini. Bukan Liya penyebab semua masalah ini. Yang benar adalah mama penyebab kekacauan ini," Sendi menodongkan tuduhan yang tadinya mengarah ke arah adiknya sekarang beralih ke arah mamanya sendiri.


"Apa maksud kamu?" Tanya mamanya kesal dan penuh tanda tanya, begitu juga dengan kami yang bingung dengan apa yang di katakan Sendi barusan.


Kenapa sekarang menyalahkan mamanya? Dia gak sakitkan?


"Mama lupa atau pura-pura gak tau?" Sendi memiringkan kepalanya, dan melayang mendekat pada mamanya.


"Heh... kamu bilang apa sih?" wanita itu gelagapan, dan keringat mulai mengalir dari pelipisnya.


"Ma, mama tau kenapa ayah minum miras sampai mabuk? Padahal ayah belum pernah menyentuh minuman haram itu sebelumnya. Dan itu semua karena mama, aku masih ingat, kalian bertengkar hebat hanya karena ayah melarang mama mewarisi ilmu hitam nenek. Ayah pergi dari rumah dan akhirnya hari yang tidak di inginkan terjadi. Mama jangan hanya menyalahkan ayah, mama harus sadar diri dong, gak selamanya emosi mama itu patut untuk di ikuti. Mama gak selamanya benar! Ada kalanya mama harus mengakui kesalahan," Sendi berhenti sebentar, mengambil nafas sebelum kembali menjelaskan.

__ADS_1


Kami yang menyimak benar-benar terkejut akan informasi yang tak di duga ini. Tak ku sangka, mama Sendi lebih egois dari apa yang aku fikirkan.


__ADS_2