Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
42


__ADS_3

"Enggak apa-apa kok Sa," Balas Cika kemudian.


Mendapatkan balasan itu, hati Risa semakin ingin tau, tak mau pikir lama, Risa memilih langsung menelpon Cika agar pembicaraan lebih jelas dan tak perlu menunggu-nunggu.


"Hallo Sa, tiba-tiba nelpon?" suara Cika dari sebrang terdengar juga.


"Iya nih Cik, soalnya ada yang mau aku tanyain," Jawab Risa.


"Apa tuh?" Cika sepertinya mulai penasaran.


Setau dia Risa yang pernah dia temui itu adalah gadis yang lebih memilih diam dari pada berbicara, tapi kali ini? Dia malah menelponnya.


"Gini Cik, setelah pulang dari kampung, secara gak sengaja, indra ke enam ku tiba-tiba terbuka." Risa berhenti sejenak, dia bingung bagaimana menjelaskannya dan harus mulai darimana.


"lalu?" Cika bertanya karena tak kunjung mendengar penjelasan lanjutan.


"Lalu... pas pulang dari... hmmm... kampung, aku mimpi ketemu sama... ee..." Lagi-lagi terhenti.


Risa merasa tak tega jika harus mengungkit masalah sahabat Cika, di tambah lagi kalau memang benar orang di mimpi Risa adalah sahabatnya Cika, berarti sahabatnya Cika di cap sebagai pembunuh, tapi... apa orang yang di temukan tewas itu adalah orang yang sama dengan gadis di dalam mimpinya?

__ADS_1


"Iya Sa? Kok kayak orang linglung gitu? Risa oke?" Cika menyaut lagi.


"Masalahnya Cik, orang yang aku temui di dalam mimpiku itu agak mirip sama gadis di foto profilmu itu," Akhirnya, sampai ujung juga Risa menjelaskan.


"Ha? Maksud kamu sahabat aku? Kok bisa? Kamu salah orang kali," Jawab Cika tidak percaya.


"Aku belum tau sih, apa itu orang yang sama dengan sahabat mu atau tidak, tapi di dalam mimpi ku itu, dia berdua dengan cowok yang namanya Nathan,"


"What! ?NATHAN?" Cika berteriak kaget.


Membuat Risa langsung menjauhkan handphonenya dari telinga, takut gendang telinganya bisa pecah. Kenapa harus sekaget itu?


"Kenal dong Sa, dulu, aku, Nathan dan sahabatku itu adalah tetangga, tapi waktu mau masuk smp, aku harus pisah sama mereka karena pindah rumah. Jadi hubungan aku sama Nathan udah berakhir di situ, tapi tidak dengan Melly," jelas Cika.


"Melly?" Tanya Risa saat mendengar nama itu untuk yang pertama kalinya.


"Iya, itu nama sahabat aku yang sudah meninggal, dan aku dengar Nathan pun sudah pergi," suara Cika terdengar parau, ada tangisan yang tampaknya sedang di tahan.


"Ehmm... iya, aku tahu kalau Nathan, tapi tidak dengan Melly, kenapa dia bisa meninggal? Maaf Cik, bukannya aku berniat untuk membuka luka lama, hanya saja, ada hal penting yang harus aku selesaikan, dan kalau aku tau siapa Melly, mungkin ini akan cukup membantu, Cika bisa tolong aku?" Tanya Risa hati-hati.

__ADS_1


"Santai aja Sa, aku gak masalah kok. hmm... kalau tentang kematiannya, kata orang-orang dia bunuh diri, karena sudah membunuh seseorang, yang katanya dia adalah gadis yang di sukai oleh Nathan, sedangkan Nathan adalah pria yang dia sukai, menurut informasi yang aku dapat, Melly membunuh karena cemburu. Dan setelah berhasil membunuh dia merasa bersalah, lalu bunuh diri dan menyerahkan diri dengan bukti yang dia rekam saat membunuh dan surat permintaan maaf. Tapi entah kenapa, aku yakin banget Sa, Melly bukan orang seperti itu! Dia mungkin mempunyai temperamen yang keras, tapi aku yakin banget dia gak bakalan mau membunuh seseorang. Melly mungkin memang suka dengan Nathan, tapi dia tidak pernah memaksakan keinginannya, dia fine-fine aja kalau misalna Nathan menyukai perempuan lain, Melly sendiri yang bilang sama aku, kalau dia ikhlas kalau perasaannya gak di balas. Entah siapa orang yang menyebarkan rumor bahwa Melly yang membunuh Linda," Melly menjelaskannya beriringan dengan tangis yang tak bisa dia tahan lagi.


"Jadi, menurut kamu Cik, bukan Melly yang membunuh Linda?" Tanya Risa memastikan.


"Iya! Bukan Melly pelakunya, dan aku yakin, Melly juga korban, Melly tidak bunuh diri, dia pasti juga di bunuh. Melly bukan pembunuh tapi dia di bunuh!," Cika menegaskan kalimat terakhirnya.


"hmm.. ada gak benda atau barang Melly yang mm.. kayak, benda kesayangannya gitu?" Tanya Risa.


"Kalau ada untuk apa Sa?" Cika sedikit penasaran.


"Begini Cik, aku bisa melihat ke masalalu dari benda yang di pegang oleh seseorang yang sudah meninggal, aku rasa, dengan aku membawa salah satu barang yang dia kenal, arwah Melly mau keluar dan memberikan aku bantuan untuk melihat ke masalalu, tentang aoa yang terjadi sebenarnya," Jelas Risa, entah Cika percaya atau tidak.


Tapi seharusnya Cika percaya, karena dia juga sudah pernah mengalami hal Mistis waktu di kampung, mungkin penjelasan Risa bisa dia terima.


"Tapi kenapa kamu ingin tau tentang kematian Melly Sa? Maksud aku, kamukan gak kenal Melly siapa? Kenapa tiba-tiba ingin tahu?"


"Karena Linda, dia adalah sahabat aku Cik, dan juga arwah Nathan tidak tenang, karena ada masalah yang belum selesai sebelum kematiannya, aku harus menyelesaikan ini, agar semuanya bisa dapat keadilan mereka," Risa sudah capek berbicara sedari tadi, sepertinya hari ini dia sudah cukup dari lebih banyak berbicara.


"Apa? Kamu sahabat Linda? Ah... begitu ternyata, oke! Gini aja, kita ketemuan aja, aku ada benda yang bersangkutan dengan Melly, aku juga akan ikut membantu, biar aku juga bisa membersihkan nama Melly, karena aku yakin banget dia itu bukan pembunuh!,"

__ADS_1


Mendengar Perkataan Cika, Risa tersenyum puas. Mereka pun bersepakat untuk besok bertemu di rumah Nathan, satu-satunya tempat yang mereka berdua ketahui.


__ADS_2