
"Rani kenapa? Kenapa abang menggandengnya?" Tanya Denis sambil mengusap dagunya memberi kesan sok keren.
"Gak tau dia tadi tiba-tiba bengong," Kata Dimas.
"Kamu ketemu dia ya Rani?" Semua mata yang fokus ke Rani dan Dimas kini balik menatap Sherly.
"Apa aku benar Rani?" Tanya Sherly dengan nada agak sedikit mirip peramal.
"Haaah... entahlah aku juga gak yakin itu dia atau bukan," Rani tak mau menjawab iya karena yah, memang dia belum yakin siapa yang baru saja dia temui itu. Dan dia juga tak mau bilang tidak, karena Rani tau jelas bohong itu dosa.
"oke..." Sherly tak mau memaksa Rani untuk menjawab sesuai ke inginannya.
Dia ingin cepat menyelasaikan ini, agar tak terus menjaga nyawa manusia ini. Melelahkan buat Sherly, berhubungan dengan manusia dengan berbagai macam sikap ini. Jika seandainya tak membutuhkan bantuan mereka, Sherly takkan sudi menyelamatkan sekumpulan kecil kelompok manusia ini.
HUUSSH...
Sherly terbang begitu saja dan berdiri tepat di tengah mereka semua. Berbarengan denga itu S datang dan berdiri tepat di belakang Risa.
__ADS_1
"Kau mengagetkan ku!," Risa yang tak menyadari kedatangan S yang tiba-tiba menggerutu kesal.
"Dan aku tak peduli itu," Jawab S bodoh amat.
Melihat ke datangan S, Sherly agak sedikit kesal. Bagaimana tidak? Hantu yang satu itu selalau merasa lebih hebat darinya. Sherly ingin biasa saja. Lagian hantu tak perlu rasa iri mau pun cemburu. Itu hanyalah perasaan menjijikkan yang di perlukan manusia di zaman ini. Dan hantu sudah cukup menjijikkan tanpa perlu rasa cemburu dan iri yang tak kalah menjijikkan itu.
"Kalian pasti memiliki banyak pertanyaan yang ingin di sampaikan padaku. Hmm, baiklah aku akan jelaskan tentang Ocha dulu." S berhenti memberi jeda untuk pembicaraannya.
Tak di duga S berjalan mendekat ke arah Dimas, wajahnya sangat dekat dan mengerikan dia tersenyum lebar.
"Ocha memang sudah mati, tapi dia belum sadar kalau nyawanya sudah tak di badannya lagi. Melihat dia yang masih mengira dirinya manusia membuat aku dan Sherly tak berniat memberi tau kalian. Tapi sekarang sepertinya Ocha sudah tau siapa dirinya yang sebenarnya."
"Tentu saja tidak bisa. Dia sama sekali tidak kerasukan, aku mengatakan itu karena tak ingin membuat kau ketakutan dan terpukul," matanya yang menatap ke arah Dimas dan tersenyum sinis.
"Sialan, jadi kau menipu kami?" Mata Dimas memerah. Dan semua orang yakin pria ini sangat marah sekarang.
S hanya mengangkat salah satu alis matanya. Dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
__ADS_1
"Ayolah, jika aku mengatakan yang sebenarnya, pasti Ocha akan sangat syok dan tidak percaya. Karena dia masih beranggapan dirinya masih hidup," S mengangkat kedua tangannya tanda tak peduli dengan amarah Dimas.
"Bagaimana cara membuat agar Ocha bisa pulang dengan tenang?" Kali ini Cika angkat bicara.
"Mungkin dengan memberikan apa yang dia inginkan. Ada hal yang membuat dia masih terikat dengan kalian, dan hal itu harus segera di selesaikan," bukan S tapi Sherly lah yang menjawab.
Sepertinya Sherly lebih punya hati dari pada si S hantu galak dan bodoh amat itu.
"Oke, sekarang dimana Ocha? Kita harus membuat dia bisa pulang ke alamnya, kasian jika dia masih berkeliaran seperti ini," Kelvin memberikan tanggapannya.
"Hmmm... nanti dia akan datang sendiri. Lebih baik sekarang kita fokus sama rencana untuk menghabisi tarjo dulu." Kata S tanpa mempedulikan Dimas yang mendecak kesal.
"Aku setuju, jadi bagaimana rencanamu?" tanya Kelvin.
Semua orang menarik nafas frustasi, ini adalah kali pertama mereka bekerja sama dengan hantu. Hal yang benar-benar tak masuk di akal.
Bukannya menjawab S malah tersenyum ke arah Rani. Melihat itu Rudi dan Risa menjadi was-was.
__ADS_1
Jangan adik ku lagi
Batin Risa.