
Sekarang mereka bersembunyi di balik pohon besar yang cukup jauh dari rumah itu.
"Iya, ruangannya tidak banyak, hanya ada satu dapur, satu kamar mandi, dan tiga Kamar tidur." kata Dimas sambil mengingat-ingat.
"Dan ada satu ruangan lagi, di kamar nenek, ada sebuah lemari, yang sebenarnya itu adalah pintu menuju ruang bawah tanah. Di situ aku menemukan dua mayat," kata Risa dengan yakin.
"Dan kedua mayat itu adalah kami," Sherly tidak di tanya, tapi mau menjawab dengan suka rela.
"mayat?" tubuh Cika langsung merapat kepada Risa yang baru saja ingin berdiri memperbaiki posisi duduknya karena sedikit pegal.
Tapi dia mengurungkan niatnya karena Cika sudah menyandarkan kepalanya di bahu Risa.
"Kau takut Cik?" Tanya Risa tanpa ada niatan mengejek sedikit pun.
"Tentu saja, bagaimana ceritanya bisa ada mayat?" mata Cika menatap Sherly dengan pandangan was-was.
"Ceritanya panjang, kalau di ceritakan bisa keburu ketahuan duluan sama si Kintan," kali ini S menjawab dengan santai.
__ADS_1
Tangannya sudah terlipat rapi di depan dada S, wajahnya menatap tajam ke runah tua itu.
"Masuk ke dalam, sebisa mungkin, tahan Kintan agar tak menghalangi kalian. Dan Rani, temukan mayat Tarjo, tusuk langsung di tengkoraknya," kata S yang masih kekeuh menatap rumah tua yang sudah jelek itu.
"Semudah itu?" Denis bertanya dengan nada kegirangan.
"Tidak mungkin semudah itu, mustahil jika semuanya berjalan sesuai perkataan S, ini tak segampang mengucapkan," kata Kelvin yang sekarang sudah berdiri.
Dia menatap lekat-lekat ke rumah itu, mengikuti kegiatan S sekarang. Entah aoa yang ada di pikiran Kelvin sekarang, matanya terus menyelidik dan sayangnya semua orang tak peduli itu. Mereka asik dengan rencana yang belum jelas ujungnya itu.
WUUSSH....
AAKH...
Rani meringis saat tangannya terhempas duluan menahan tubuhnya yang mungil itu jatuh sebelum menyentuh tanah.
"Apa itu barusan? Ran kamu gak papa dek?" Rudi meraih tubuh Rani.
__ADS_1
Dengan teliti dia memeriksa tangan adiknya yang sudah memerah, tangan Rani terkilir.
"Sakit?" Tanya Rudi sambil menekan pelan tangan Rani.
Rani hanya mengangguk sambil mendorong tangan abangnya itu agar tak menekan tangannya terlalu kuat.
Risa tersenyum melihat interaksi kedua adiknya itu. Ini adalah kejadian langka untuk mereka bertiga. Jarang sekali mereka bisa berkumpul bertiga walau tinggal di rumah yang sama. Jarang sekali momen saling perhatian seperti saat ini.
Biasanya waktu di rumah, Rani sibuk dengan tugas sekolahnya, Risa sibuk dengan kerjanya di luar rumah, sedangkan Rudi jarang sekali berinteraksi dengan kedua saudarinya itu karena sibuk dengan hp dan teman-temannya.
Mereka tinggal di rumah yang sama, tapi dengan dunia yang berbeda. Rani dan Risa menjadi dekat juga semenjak Rani bisa melihat makhluk halus, Risa tak tega meninggalkan adiknya sendirian saat dia ada di rumah. Dia tak mau melihat Rani semakin down dan malah membuat gadis kecil itu stres.
Tanpa Risa sadari air mata menetes di pipinya, menyayangkan akan kegiatan mereka yang sering sibuk dengan dunia sendiri. Walau ada saat dimana mereka berkumpul, tetap saja, itu tak sebanyak waktu yang mereka habiskan sendiri-sendiri.
"Rani...," Rani yang tadi sibuk mengusap tangannya yang sakit, langsubg terdiam saat mendengarkan ada yang memanggilnya.
"Itu suara nenek?" Kata Rani yang membuat semua mata menatap kaget ke arah bocah itu.
__ADS_1
Semua mata saling pandang satu sama lain, tapi mereka hanya menggeleng pertanda bahwa tak mendengar suara apapun.
Untuk yang kesekian kalinya bulu kuduk mereka berdiri seiringan dengan keringat yang mulai membasahi kening.