
"Ran, dari mana kamu tau Sendi?" tanyaku saat Rani sudah siuman.
"Ayolah kak, kepala Rani masih pusing, jangan di kasih pertanyaan dulu, kasih air ngapa," jawab adikku sambil memijit keningnya yang mungkin masih pusing.
"Nih airnya, cepat minum lalu jawab pertanyaan kakak," aku mengambil air yang sudah aku sediakan di atas meja samping kasur.
"Iya iya... kepo banget," Rani sepertinya senang membuatku penasaran.
Setelah selesai minum Rani menatapku dengan serius. Seakan-akan ada sesuatu yang penting yang akan dia bicarakan.
"Sehari sebelum kita berangkat ke sini, malam itu Rani mau ke kamar mandi, saat Rani masuk, Rani lihat ada Liya lagi berdiri menghadap cermin. Mungkin saat itu Liya gak tau kalau Rani masuk. Rani dengar Liya kayak bergumam gitu, yang Rani dengar dia bilang 'Kenapa kakak benci Liya? Kenapa gak pernah percaya Liya lagi? Dimana Kakak Sendi yang pernah Liya kenal, Liya kangen kakak'," Rani berusaha meniru bagaiamana Liya bergumam sendiri. Bahkan cata bicaranya yang seperti berbisik pun di tiru oleh Rani.
"Oo... dari nguping toh, kakak kirain dia cerita sendiri,"
__ADS_1
"Mana mungkin dia mau cerita, payah maksa dia, katanya mau di bantu, tapi sok main rahasia-rahasiaan," jawab adikku itu yang terlihat sedikit kesal.
"Aku bukan mau merahasiakannya sama kalian, hanya saja, aku ingin kalian cari tau sendiri, biar kaliannya capek," tiba-tiba saja ada yang masuk ke kamar kami tanpa di undang.
Dia dengan santainya duduk di atas lemari nenek, wajah nyebelinnya itu makin terlihat menyebalkan dengan senyumnya yang terlihat menjengkelkan itu. Kaki pucatnya menggantung di depan pintu lemari, matanya menatap lurus ke depan, tak memperhatikan kami.
"Hah, baru kali ini ada orang yang minta tolong tapi dia malah menyulitkan bukannya memudahkan," kata Rani sambil membuang muka dari hantu itu.
"Kamu lupa ya Ran? Akukan bukan orang, tapi H A N T U!," Hantu itu menekan kata hantu, seakan-akan mengingatkan kami bahwa dia berbeda dari apa yang selama ini kami perkirakan.
Emangnya dia doang yang bisa mengancap, kami juga bisa membuat dia bimbang, lihatlah mukanya sekarang sudah berubah kesal, aku berhasil.
"Oke aku akan cerita," semudah itukah? Dia mengalah hanya dengan satu ancaman.
__ADS_1
Hah, ternyata Liya tak bertambah tua, bukan hanya usianya yang terhenti setelah mati, tapi otaknya juga tak ikut berkembang dan tetap terkurung dengan pemikiran yang masih seperti anak-anak.
"Kalau gitu beritahu kami, dimana kami bisa menemukan petunjuk berikutnya," Rani yang antusias langsung meminta petunjuk berikutnya.
"Temui Sendi, dia selalu di dekat rumah kami yang sudah terbakar, bawa dia bertemu dengan bang Bima, minta bang Bima menjelaskan semuanya tentang hubungan kami, tentang siapa yang dia cintai, aku ingin Sendi mengetahui semua kebenaran itu, aku ingin Sendi, tak terus bergentayangan dengan pemikirannya yang salah," ayolah, sampai di titik ini kami masih merasa terbebani.
Menemui Bima? Siapa dia? Dan dimana kami harus mencarinya.
"Siapa Bima itu? Kami bahkan tak tau dia ada dimana," Rani menggerutu kesal kepada Liya.
"Kakak mu tau siapa Bima, suruh dia untuk mengingat tentang kejadian masalalu ku yang telah dia baca," jawab Liya.
Aku mengerutkan dahi berusaha mengingat kejadian apa yang telah aku lupakan.
__ADS_1
Dimana aku mengingat nama seorang Bima?