
"Oke, terus kita ngapain di sini?" Sekarang Kelvin dan Risa sudah sampai di sekolah mereka dulu. Kelvin bertanya sudah dua kali, tapi orang yang di tanya masih bengong dengan barang bawaannya itu. Sebuah kotak yang kelihatannya antik.
"Risa!!!! Mau sampai kapan kacangin orang ganteng ini hah?" Kelvin kesal kali ini. Dia langsung saja berteriak ke telinga Risa.
"Kelvin! Gak usah pakai acara teriak bisa?" Risa mendorong kepala Kelvin menjauh dari telinganya.
"Udah capek dari tadi manggilin kamunya Sa... Tapi gak di jawab, lagi fokus sama apa coba? Sini lihat," Kelvin menarik begitu saja kotak di tangan Risa tanpa meminta izin kepada Risa.
Risa melebarkan matanya dan mengayunkan pukulan tepat ke bahu kiri Kelvin. Kelvin bukannya mengalah malah membuka kotak itu seenak hatinya.
"Eh, kalungnya lucu," saat Kelvin akan mengambil kalung itu, tangan Risa sudah duluan mengambil alih kotak itu.
"Jangan ambil seenaknya aja dong Vin. Kalau rusak gimana?"
"Iya gitu sampai rusak, cuman di pegang doang. Itu punya siapa? Semenjak kapan kamu suka ngoleksi kotak kayak gitu Sa?" tanya Kelvin.
"Ini gak punya aku, tapi punya Nathan," jawab Risa terus terang.
Kali ini dia butuh bantuan Kelvin, karena cuman dia dan Kelvin yang kenal dengan beberapa tokoh dalam masalah ini. Dan juga dia tak mau mengganggu kedua adiknya yang sibuk sekolah.
Dia gak tau, kalau cerita ke Kelvin apakah Klevin akan percaya atau enggak. Yang pasti Kelvin harus mau ikut serta memikul pusongnya Risa.
"Nathan? Kayak pernah dengar namanya deh, jangan bilang gebetan kamu Sa?" Kelvin mengacungkan telunjuknya tepat ke depan hidung Risa.
"Amit-amit punya gebetan hantu," Risa mengangkat bahunya tak suka dengan tuduhan Kelvin barusan.
"Hantu? Maksud kamu apa sih Sa? Kok aku gak ngerti ya?" Kelvin menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Oke, sini aku jelasin sambil jalan," Kelvin hanya mengangguk.
Lagian dia sekarang juga cukup penasaran, apa lagi saat Risa menyebut nama Nathan, seakan-akan dia pernah kenal dengan nama itu. Tapi siapa? Dan dimana?
__ADS_1
"Masih ingat si culun pemain piano gak?" Tanya Risa sambil berjalan di samping Kelvin.
"Si culun pemain piano? Oh... jadi Nathan yang kamu maksud itu dia Sa? Si culun yang lawan beratnya Candra? Mereka kan jago banget tu main pianonya. Tapi sayangnya Candra gak suka gitu sama Nathan, karena merasa tersaingi," kali ini malah Kelvin yang bercerita.
Kayaknya kalau di dekat Risa, Kelvin bakalan jadi cerewet deh. Kayak sekarang, cowok yang terkenal cool itu entah kenapa menjadi banyak bicara. Dan Risa sama sekali gak heran karena inilah Kelvin, Kelvin dengan sisi blak-blakannya. Risa malah lebih nyaman dengan Kelvin yang bertingkah sesuka hati dari pada Kelvin yang bertingkah sok keren. Baginya kali ini Kelvin terlihat benar-benar nyata.
"Loh Candra yang bintang sekolah itu merasa tersaingi sama si Nathan yang notabennya pendiam? Gak salah ingat kamu Vin?" Risa gak percaya dengan cerita Kelvin barusan.
"Iya loh Sa, makanya main tu sama banyak temen gak sama buku doang. Kan jadinya kudet (kurang update)," Kelvin meledek Risa.
"Terserah deh, mau dengar lanjutan ceritaku gak sih?" Risa baru sadar kalau ceritanya tadi itu ke potong sama Kelvin.
"Oh iya, silahkan,"
"Jadi waktu kita datang ke sini terakhir kali aku gak sengaja ketemu sama Nathan di ruang musik, waktu itu dia lagi main piano, dan...."
"Hahaha... kamu becanda tu lihat-lihat dulu dong Sa, Nathan itu udah meninggal, bagaimana ceritanya kamu bisa ketemu dia?" Kelvin menepuk pundak Risa pelan.
"Ternyata yang aku temui waktu itu memang Nathan, dan ternyata Nathan memang sudah meninggal. Ini sesuai tebakan awal," Risa berbicara sendiri namun terdengar oleh Kelvin yang di sebelahnya.
"Sa, kamu ngomong apaan sih? Kamu seriusan ketemu Nathan? Kok..." Kelvin menggaruk kepalanya karena bingung.
"Kamu bisa ngelihat orang yang udah meninggal Sa? Kayak Rani?" Kesimpulan yang awalnya tak yakin akhirnya dia utarakan.
"Iya Vin, aku bisa lihat mereka,"
"Kapan?"
"Setelah pulang dari kampung waktu tersesat itu," Kelvin mengangguk paham.
Mata batin Risa sudah cukup lama terbuka, dan dia baru tau. Kelvin agak kecewa karena Risa yang baru memberi taunya sekarang. Tapi dia kembali yakin, bahwa mungkin Risa punya alasan kenapa baru memberi taunya sekarang.
__ADS_1
"Jadi sekarang kita ke sini mau cari Nathan?" Tanya Kelvin menebak.
"Iya Vin, jadi kita harus ke ruang musik. Aku rasa semua ini ada hubungannya sama Linda," Risa mulai membuka semua kesimpulan yang dia buat kepada Kelvin.
"Loh kok bisa?" Kelvin heran.
"Kamu gak tau kalau Linda pernah dekat dengan Nathan?" apa Kelvin juga tak di beri tau Linda tentang hubungannya dengan Nathan? Kenapa hanya mereka yang tak tau sedangkan satu sekolah tau?
"Kamu kira aku sebodoh itu Sa? Tentu saja aku tau, mereka itu udah kayak tuan putri dan pangeran kodok. Iya sih Nathan itu ganteng, yah walau pun gak seganteng aku, tapi tetap aja sifatnya yang tertutup itu membuat dia gak di anggap istimewa," oke fix..
Ternyata cuman Risa yang gak tau apa-apa. Betapa kasihannya mempunya sahabat yang tidak tau apa-apa. Risa menundukkan kepalanya, merasa sedih dan muak dengan dirinya sendiri.
Dia hanya punya Kelvin, dan Linda di sekolah. Jika tak ada kedua temannya itu, Risa hanya sibuk di perpustakaan atau di taman sekolah bercengkrama dengan buku-bukunya. Risa merasa menyesal sekarang. Dia dulu tak mau memiliki banyak teman, baginya teman yang lainnya itu hanyalah kumpulan orang-orang yang datang ketika ada maunya saja. Itulah kenapa Risa memilih nyaman dengan buku-buku yang lebih asik di ajak berteman.
"Kamu kenapa Sa?" Kelvin menyadari perubahan raut wajah Risa yang tiba-tiba itu.
"Aku orang bodoh itu Vin, aku sama sekali gak tau tentang Nathan dan Linda. Aku juga gak tau tentang Candra dengan Nathan. Aku gak tau apa pun. Aku bahkan menjadi orang yabg terakhir mengetahui kematian Linda. Aku orang bodoh itu Vin, aku jahat. Aku gak pernah ada di samping Linda ketika detik-detik terakhirnya. Aku bodoh!," Risa terus memukul dadanya yang semakin lama terasa sesak.
Setelah sekian lama, Rasa membenci diri sendiri kembali tumbuh dalam hati Risa. Kelvin gelagapan melihat Risa yang menyakiti dirinya sendiri. Dengan sigap dia menangkap kedua tangan sahabatnya itu.
"Udah Sa, kamu gak salah, kamu gak bodoh, berhenti terus sakitin diri kamu kayak gini. Linda gak suka kalau dia tau kamu kayak gini, Oke?" Kelvin terus menahan tangan Risa yang masih memaksa untuk memukul dirinya.
"Aku yang salah Vin," Risa masih bersikeras menyalahkan dirinya sendiri.
"Oke, kalau gitu kata kamu, sekarang kita tebus kesalahan kamu, Gimana? Kita cari tau semuanya, dan ini semua di mulai dari kotak yang kamu bawa. Ayo, berhenti kayak gini," Kelvin ingin sekali memeluk gadis di depannya ini, menenangkannya.
Tapi dia tau Risa pasti akan marah, dia tak mau melakukan itu tanpa persetujuan gadis di depannya itu.
Sejenak tak ada yang memulai obrolan, hening, lambat laun, anak-anak yang akan belajar sudah mulai berdatangan. Kelvin menyadari waktu mereka tak banyak lagi di sini.
"Anak-anak udah pada datang, lebih baik kita langsung ke ruang musik yang kamu maksud ya? Oke Risa?" Kelvin menatap bola mata yang sekarang mulai berani menatapnya.
__ADS_1
Risa mengangguk setuju. Gadis itu mulai kembali melangkahkan kakinya, yang Kelvin bilang benar, tidak ada gunanya terus meratapi itu sekarang, berjalan langsung menyelesaikan misinya itu lebih baik.